Nilai Kehidupan Kun Fayakun

MALAM itu setelah melakukan perjalanan jauh, suami menghampiriku yang sedang mengambil air minum di dapur, “Dek, tolong buatkan makanan, ya,” pintanya. 

Aku yang mendengarkan kalimat tersebut langsung menjawab, “Bagaimana Pah? Beras kita mau habis, tinggal setengah takar. Nasi ini hanya cukup untuk kita makan berempat saja. Persediaan di dapur juga kosong semua, tinggal sayur bayam 2 ikat. Ikan tadi yang adek goreng sudah dibobol duluan sama si Hitam,” ujarku memberikan penjelasan. “Uang adek juga tinggal 5 ribu saja,” tambahku dan memandang ke arahnya. 

Ada guratan kesedihan yang tertangkap. 

Aku tahu tabiatnya. 

Dia memang sosok suami yang sangat memuliakan tamunya. Dia mendekati dan mengelus rambutku, “Sudahlah kalau begitu. Semoga Allah kenyangkan perut tamu kita dengan segelas kopi yang adek suguhkan tadi,” ujarnya sambil meninggalkanku di dapur. 

Setelah itu akupun masuk kamar. Memencet telepon genggam dan berselancar di salah satu sosial media yang sangat populer.

Tiba-tiba terbersit rasa bersalah dalam hati, aku berkata, “Yaa Allah, bukannya aku tak mau memuliakan-Mu. Namun sungguh saat ini uangku tinggal 5 ribu. Aku tak tahu harus mencari pinjaman di mana malam-malam begini. Beras kami pun sudah menipis, besok bagaimana makan anak dan suamiku.” 

Aku terus merasa tak nyaman, aku merasa diriku egois, dan detik itu aku merasa tak melibatkan Allah dalam kesulitan dan keterbatasanku. Segera aku lemparkan telpon genggam tersebut di tempat tidur kami. 

Aku buka dompet dan tas pribadi, untuk mencari mungkin ada uang Rp. 500 atau 1000 yang terselip dan aku lupa pernah menaruhnya. Benar saja, dalam saku kecil tas tenteng berwarna biru itu, aku lihat uang Rp. 15. 000. Segera aku ambil jilbab dan membeli telur di warung samping rumah. Aku beli telur 10 ribu sedangkan sisanya aku simpan untuk beli beras esok. 

Pulang dari warung segera aku olah telur tersebut, dengan enam butir telur tersebut aku buatkan telur balado, kebetulan masih ada beberapa tomat di kulkas. Setengahnya lagi aku buatkan telur dadar. Kuambilkan daun bayam dua ikat untuk membuat sayur bening. 

Saat aku sedang masak, suami datang menghampiri, mencium dan berkata, “terima kasih sayang,” aku terharu dan menjawab, “Allah bantu adek, Bang. Di tas adek temukan uang 15 ribu. Makanya adek bisa beli telur. Memuliakan tamu sama dengan kita memuliakan Allah SWT. Insya Allah, besok biarkan menjadi urusan Allah SWT,” jawabku Setelah selesai memasak aku hidangkan semua masakanku pada tamu, nasi, sayur bening, sambal, telur dadar, dan balado. 

Menu yang sangat sederhana sekali. Namun, Alhamdulillah mereka sangat menyukainya. Mereka makan begitu lahap. 

Keesokan harinya, aku bangun untuk sholat subuh dan memasak beras. Sengaja aku masukan banyak air, supaya berasnya menjadi banyak. Setelah menjadi nasi, aku bagi menjadi tiga dengan lauk telur balado sisa kmrn malam dua potong kecil. Alhamdulillah, Allah cukupkan untuk makan kami pagi hari ini. Dan setelah makan pagi itu suami memberikan aku uang Rp. 100.000 untuk membeli beras. Setelah aku tanya uang itu dapat dari mana, beliau menjawab, “Tamu semalam yang memberikannya pada, Abang. Abang sudah tolak tapi katanya  “ini rezeki dari Allah”.  Abang terima dan mengucapkan terima kasih.” 

Aku langsung luruh ke lantai dapur. Bersujud syukur kepada Allah SWT, begitu cepat Allah membalasnya. Bahkan dengan jumlah sepuluh kali lipat yang telah kukeluarkan semalam. “Subhanallah. Alhamdulillah. Tdak ada yang tak mungkin, Kalau Ia sudah berkehendak. Kun Fayakun!”[]

Ilustrasi: mozters.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *