Kursi Rapuh

“Aku di depan rumah sakit,” Moras mengirim pesan di whatsApp ke seseorang, menginformasikan posisinya. Ia sedang duduk di depan rumah sakit di kotanya. Ia sengaja singgah untuk melihat orang-orang yang keluar masuk di rumah sakit.  Beragam ekspresi pengunjung rumah sakit memberi makna tersendiri buatnya, simpati dan empati bergantian tumbuh dalam taman hati Moras. Sebutir telur rebus dan sebotol air putih ia beli di warung dekat tempat duduknya.

“Sudah lama? Siapa yang sakit?” Ratih bertanya dengan wajah yang gelisah. Setelah lima menit pesan dikirim Moras, Ratih tiba dengan wajah tegang. Sangat khawatir.

“Duduklah,” Moras menyuruhnya setelah mengambilkan sebuah kursi.

“Siapa yang sakit?” Ratih mengulangi pertanyaannya.

“Aku hanya rindu, Ratih,” ujar Ramos sambil mengunyah telur rebus dan meminum air putih.

Mata Ratih tak berkedip menatap utuh sosok Moras, ia menyelediki dengan baik, mungkin ada sesuatu yang terjadi, atau sekadar candaan saja. Berulang ia melihat wajah lelaki yang duduk satu meter di hadapannya.

“Siapa yang sakit?” suara Ratih meninggi. Tak ada senyum yang tampak.

“Minumlah dulu,” Moras menyodorkan botol air minum di tangannya.

“Ratih, lihat ibu yang baru turun dari ambulance, di sampingnya ada anak muda berbaring dengan lumuran darah. Ibu itu menangis penuh luka, bisa jadi lukanya lebih parah dari pemuda yang ia temani,” ucap Moras usai Ratih meneguk air minum, telunjuknya mengarah ke seorang ibu dan pemuda yang baru saja tiba di rumah sakit itu.

“Saya juga perhatikan tadi,” pelan Ratih jawab.

“Kamu kenal?”

“Tidak.”

“Kamu sedih?”

“Tentu.”

“Lalu?”

“Saya merasa kasihan sekali. Rasanya tak kuat melihat seorang ibu yang menangis itu,” jelas Ratih dengan mata yang peduli.

“Kepekaan hati tak perlu saling kenal, tak harus satu suku, tak perlu agamanya sama, tumbuh pada hati siapa saja yang merawat kesuciannya,” ucap Moras seolah berbagi pikiran bersama Ratih di bawah teduhnya pohon yang rindang.

Orang-orang makin ramai keluar masuk di rumah sakit, ada yang membawa pulang pasien yang sudah sembuh, ada juga yang datang membawa keluarganya yang sakit dan terluka oleh beragam penyakit dan peristiwa. Kemudian Moras membeli lagi dua butir terus rebus, satu butir ia berikan Ratih.

“Bantu kupas,” Ratih menyodorkan kembali telur di tangannya, ia tersenyum manja.

“Jilbabmu bagus sekali. Sangat Indah,” puji Moras ketika mulai mengupas kulit telur.

“Kamu suka?” Mata Ratih membaca kebenaran pujian di wajah Moras.

“Seperti kamu menyukainya. Kenyamanan saat kamu memakainya, saat itulah ketenangan aku menatapmu.”

Ratih diam, senyum menunduk, sedikit malu, lalu ia kunyah telur yang sudah dikupas oleh Moras.

“Kamu khawatir?” tanya Moras berharap suara hatinya Ratih berkisah.

“Tentangmu seutuhnya tertulis dalam perasaan dan pikiran ini. Sebenaranya saya tak ingin memikul rasa dan pikiran itu, tapi apalah daya segalanya telah menjalar sendiri. Saya memikirkan diriku maka bersamaan memikirkan tentangmu,” Ratih menunduk saat menguraikan isi hatinya.

“Lalu, apakah kamu sudah tau siapa yang sakit?”

“Aku tak tau. Tapi aku menduga rindulah yang sakit, sebab ia meminta obatnya,” Ratih tertawa sembari melihat bunga-bunga di dekat pohon ketapang yang berada tiga meter dari mereka.

“Terus, siapa yang terluka?”

“Hati yang berapi-api membenci sesama. Termasuk yang membunuh rindunya,” ucap Ratih tegas.

Moras tertawa kecil.

***

Moras berdiri, kursi yang ia duduki sedikit rusak, ia mengambil kursi lain sebagai penggantinya. Wajah orang-orang yang keluar masuk di rumah sakit serba gelisah. Beginikah gambaran pintu maut? Sebuah tanya muncul di hatinya. Moras berpikir maut selalu menggelisahkan, menakutkan, dan penuh kepanikan. Semua itu tergambar pada wajah mereka yang datang dan pergi di rumah sakit di depannya.

“Apakah kamu sedang terluka?” ujar Ratih pelan.

“Hati kita seperti kursi tadi, Ratih. Bisa rapuh kapan saja, bisa patah tiba-tiba. Jika kita tak mengasahnya dengan kepedulian serta kepekaan, baik kepada pencipta maupun kepada ciptaan-Nya, maka keping-keping hati kita akan sia-sia. Mungkin kursi yang tadi sudah ratusan orang mendudukinya, sudah waktunya rapuh, tentu itu sangat berarti dan bermakna. Namun, sudahkah hati kita menampung cahaya Ilahi, menjadi ladang keresahan sesama manusia? Saya takut hati kita rapuh dan keropos karena tak dimanfaatkan dalam kebaikan,” Moras serius menatap mata Ratih.

“Saya pun punya ketakutan yang sama,” jawab Ratih terbata-bata, seolah ragu berbicara.

“Rasa peduli kadang tumbuh dengan syarat tertentu. Harus satu agama, mesti satu suku, perlu satu profesi, apabila satu organisasi, dan mungkin satu visi misi. Sementara di luar itu tak perlu dipedulikan, seolah mereka berbeda kemanusiaan dengan kita, berbeda nyawanya dengan kita. Sungguh rapuh hati kita yang melihat kemanusian dengan syarat simbolik, sementara tiket kita untuk pulang hanya memerlukan membawa titel kebaikan. Berlaku baik sesama.”

Ratih diam, Moras mengusap wajahnya.

Di saat mereka berhenti bicara, ketika udara makin sejuk, matahari pelan-pelan ditutup awan, tiba-tiba ada seseorang yang berlari, sambil menangis menghampiri kerumunan depan rumah sakit itu. Seorang manusia baru saja pamit pada dunia untuk menghadap Ilahi Rabbi. Ratih dan Moras berdiri ikut berduka cita, kemudian mereka beranjak pergi, menuju rumah masing-masing.

“Teruslah mengasah hati dalam gulita yang sunyi, Moras,” pesan Ratih usai mencium tangannya.

“Saya tak suka parfum itu, Ratih. Saya senang cahaya wudhu di wajahmu,” Moras titipkan harapan.

Semesta melaju tarus.[]

Ilustrasi: pikist.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *