Tuan Imam: Representasi Ulama-Umara di Bima

SALAH satu ulama Bima yang pernah belajar atau mengajar di Haramain selain Syaikh Abdul Ghani dan KH. Said Amin adalah TGH. Abdurrahman Idris. Nama TGH. Abdurrahman Idris – lebih populer dipanggil Tuan Imam – sedikit “tersisih” dari dua nama di atas dalam khazanah keilmuan ulama-ulama di Bima. Padahal jika kita menelisik lebih jauh, beliaulah representasi ulama-umara yang patut dijadikan teladan.

Tuan Imam adalah salah satu ulama yang banyak berkontribusi bagi perkembangan Islam di Bima pada masa-masa transisi dari kesultanan Bima menuju daerah swapraja Bima. Dengan pengalaman dan wawasan ilmu agama yang mumpuni, pada 14 Februari 1946, beliau diangkat menjadi Imam Kesultanan Bima merangkap ketua Mahkamah Syar’iyyah. Selain itu, beliau juga sempat memimpin partai Masyumi cabang Bima.

Sebagai Imam Kesultanan Bima pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Salahuddin, peran dan kontribusi Tuan Imam dalam perkembangan agama Islam tak bisa diragukan. Julukan Ma Ka Kidi Agama  tentu tidak sembarang disematkan pada Sultan Muhammad Salahuddin tanpa dukungan dan bantuan Tuan Imam dalam menyebarkan agama Islam di Bima.

Dalam memoar Mengenal Tuan Guru Imam Haji Abdurrahman Idris yang dieditori oleh salah seorang putranya, Prof. Syamsuddin Haris, Abdurrahman kecil lahir, 1 Agustus 1910 dan tumbuh di Desa Tente Kabupaten Bima. Tumbuh dalam keluarga yang kental dengan tradisi keagamaan, tak sulit bagi Abdurrahman kecil menemukan passion dalam bidang agama Islam.Pada akhirnya beliau jugalah yang meneruskan pengajaran agama di keluarganya.

Kakek beliau Abdul Jamiun bin Lali bin Hasbulli yang dikenal dengan “Guru Kalate” adalah salah satu sesepuh masyarakat Tente dan beliau memperdalam ilmu agama pada Haji Muhammad yang bergelar Tuan Matua yang berasal dari Bugis.

Sedangkan cucunya, Tuan Imam sejak kecil sudah melanglang buana sampai wilayah Kabupaten Dompu untuk mengaji pada Tuan Guru Syaikh Mansyur Dompu. Dengan modal ilmu agama Islam yang memadai dan kesungguhan belajar yang kuat, membuat Abdurrahman kecil terasing dan dikucilkan oleh teman-teman seusianya. Karena kebanyakan teman-temannya tumbuh tanpa mengenyam pendidikan. Belum lagi pada saat itu Indonesia masih di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Selain memperdalam ilmu agama, anak kedua dari pasangan Haji Idris dan Siti Zainab ini juga menimba ilmu pada sekolah-sekolah umum. Dalam cacatan pribadinya beliau pernah bersekolah di Sekolah Desa di Tente pada tahun 1922-1924. Selain itu, selama setahun beliau pernah bersekolah di sekolah Gubernement Tente.

Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1927, Tuan Imam melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Makkah al-Mukarramah. Selama dua bulan perjalanan laut ke Makkah itu beliau berusaha mengkhatamkan hafalan kitab Matan al Jurumiyah yang terkenal itu sebagai modal berbahasa Arab.

Seperti kebanyakan jama’ah haji Indonesia abad 18-19, setelah selesai melaksanakan ibadah haji mereka tidak langsung pulang kembali ke tanah air. Banyak dari mereka yang bertahan untuk kembali memperdalam ilmu agama Islam. Mereka inilah yang kemudian berperan dalam gerakan modern Islam sebagaimana disitir oleh Prof. Deliar Noer. Dan banyak dari haji-haji ini menginisiasi perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia.

Sesampainya Tuan Imam ke Makkah telah banyak ulama yang berasal dari Bima yang mengajar di sana. Tuan Guru Haji Hamzah Cenggu, Tuan Guru Haji Abidin Dodu, Tuan Guru Haji Abubakar Ngali adalah mentor-mentor awal Tuan Imam di Makkah.

Setelah beberapa tahun belajar pada guru-guru itu, Tuan Imam mulai belajar di sekolah pemerintah Arab Saudi, Darul Ulum Addiniyah di bawah asuhan para syaikh dari berbagai negara. Mata pelajaran yang didalaminya pun sangat komprehensif mulai dari fiqih, tafsir sampai tarikh Nabi Muhammad.

Setelah dua tahun (seharusnya tiga tahun) menempuh pendidikan di Darul Ulum Addiniyah, Tuan Imam diperkenankan untuk mengikuti ujian akhir. Tak disangka, beliau berhasil meraih posisi sebagai salah seorang lulusan terbaik Darul Ulum Addiniyah. Sebagai hadiah, beliau berkesempatan mengajar di almamaternya.

Menjadi seorang guru, bukanlah suatu hal yang berat bagi Tuan Imam, sebab, sebelum masuk Madrasah Darul Ulum itu, beliau telah mengajar secara sembunyi-sembunyi dengan jumlah santri yang terbatas di areal Masjidil Haram, karena yang boleh mengajar di sana hanyalah orang-orang yang telah mendapatkan izin resmi dari pemerintah Saudi Arabia.

Selain aktif mengajar, selama di Makkah Tuan Imam juga melibatkan diri dalam beberapa organisasi sosial yakni Nadil Adabi dan Maslahatul Ihwan. Nama yang terakhir adalah organisasi sosial yang didirikan oleh orang-orang Bima yang bermukin di Makkah.

Dengan kemampuan organisasi ini, tidak mengherankan jika kelak setelah pulang ke tanah air beliau berhasil memimpin beberapa organisasi besar dan diamanahi beberapa jabatan penting di tanah air (akan kita kupas pada tulisan selanjutnya).

Oh ya, pembaca, sebelum saya akhiri tulisan ini, beberapa hari yang lalu Nyai Hj. Siti Hamilah (Istri kedua Tuan Imam) telah mendahului kita semua. Lahum al-Fatihah.[]

1 komentar untuk “Tuan Imam: Representasi Ulama-Umara di Bima”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *