Do It and Forget It!

NILAI amaliah manusia di hadapan Tuhan bukan terletak pada kuantitas atau banyak dan sedikitnya jumlah volume pelaksanaannya, bukan pula pada kualitas atau ukuran baik buruk dalam proses pelaksanaan amaliah tersebut. Jika kuantitas dan kualitas yang dijadikan sebagai standar oleh Tuhan, maka akan banyak celah bagi seorang hamba untuk mengklaim dirinya menjadi yang terbaik dan tersholeh di hadapan Tuhannya.

Orang yang umurnya panjang akan memastikan dirinya berada pada tataran manusia dengan amal yang tinggi kuantitasnya. Orang yang tawadu, rendah hati, sopan, yang gerakannya perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa dalam beribadah, bersedekah dalam jumlah yang banyak, juga akan memastikan dirinya pada barisan orang paling baik amalnya dari sisi kualitas.

Sungguh Tuhan sangat maha Khobier dalam menilai amaliah hamba-Nya. Tuhan tidak ingin ada seorang hamba yang membual dalam ibadahnya, sebagaimana Ia juga tidak mau melihat hamba yang sok sopan, sok kaya, sok loyal dalam penghambaannya, Tuhan juga tidak tertarik pada hambanya yang pandai mencari muka di hadapan Tuhannya. Karena itu Tuhan tidak menggunakan kuantitas dan kualitas amaliah sebagai standar dalam memilih kemuliaan bagi seorang hamba. Kuantitas dan kualitas biasanya dekat dengan kepura-puraan. Tuhan sangat anti dengan pura-pura.

Tuhan ternyata menginginkan seorang hamba mendekat kepada-Nya dengan cara ikhlas. Jadi standar ukuran dari amaliah seorang hamba adalah ikhlas. Tuhan hanya melihat dan merespon sikap hamba-Nya yang beramal berdasarkan keikhlasan. Sebanyak apapun kuantitas amaliah seorang hamba tidak ada makna dan nilainya jika keikhlasan tidak tersemat dalam amaliah tersebut. Sebaik apapun seseorang menghamba dan mengiba kepada Tuhannya tidak ada arti dan harganya jika keikhlasan tidak membersamainya.

Ikhlas dalam melaksanakan amaliah adalah “do it and forget it” Laksanakanlah, setelah dilaksanakan maka lupakanlah apa yang sudah dilaksanakan. Artinya jangan pernah seorang hamba mengingat apa yang sudah dipersembahkan kepada Tuhannya, ternyata mengingat saja dapat mencederai nilai ikhlas seorang hamba dalam melaksanakan amaliah. Jangan pernah seorang hamba menyebut-menyebut amaliah yang pernah dilakukan untuk Tuhannya, karena menyebut-menyebut amaliah itu sama dengan mengingatnya.

Jangan pernah seorang hamba menceritakan amaliah yang pernah ditunaikan di hadapan Tuhannya, ternyata menceritakan itu pun bagian dari mengingatnya. Jangan pernah seorang hamba bangga dengan amaliahnya sendiri, karena bangga adalah juga bagian dari mengingat amaliah. Jangan pernah seorang hamba menghitung amaliah yang diperuntukkan di jalan Tuhannya, karena menghitung itu pula bagian dari mengingatnya.

Yang paling tidak elok adalah membandingkan amaliahnya sendiri dengan amaliah orang lain. Jangan pernah sama sekali melakukan perbandingan, karena melakukan perbandingan adalah bagian dari mengingat amaliah dengan sombong.

Maka marilah belajar ikhlas, belajar untuk melupakan apa yang kita kerjakan untuk Tuhan, selagi kita masih belum lupa terhadap apa yang kita lakukan untuk Tuhan, kita masih jauh dari ikhlas. Konon di pengadilan Tuhan nanti, betapa banyak dari hamba Tuhan yang merasa amalannya sangat banyak ketika berada di dunia, ternyata sesampai di locker penghitungan amal dia kaget, karena apa yang dibayangkan tidak sesuai dengan kenyataan, amalnya sangat sedikit dibanding panjang usia dan panjang pekerjaannya. Itu karena dia tidak melandasi pelaksanaan amaliahnya dengan keikhlasan.

Sebaliknya ada seorang hamba yang pesimis dengan amal yang dilakukan, ternyata sesampainya di hadapan pengadilan Tuhannya amalannya sangat banyak, tidak sebanding dengan apa yang dia bayangkan. Itu karena dalam melakukan amaliah selalu beralaskan ikhlas.

Selagi masih ada kesempatan untuk belajar ikhlas, mari kita mulai untuk melakukan amaliah dengan melupakan apa yang kita lakukan untuk Tuhan. Tuhan tidak suka kepada hamba yang terlalu bagus ingatannya terhadap amaliah yang diberikan untuk Tuhannya. Nabi menegaskan ketidaksukaan Tuhan itu dengan bahasa yang mudah dimengerti umatnya. Kata nabi, “Seseorang yang suka mengingat-ingat apa yang dilakukan untuk Tuhannya, sama dengan manusia yang sudah muntah lalu muntahnya dimakan kembali.” Demikian Nabi mendidik kita untuk jijik dalam mengingat amaliah kepada Tuhan agar umatnya mau belajar untuk lupa terhadap amaliah yang dikerjakan dan menjadikannya sebagai karakter menuju manusia ikhlas.

Ikhlas tidak dapat diukur oleh siapapun, tidak dapat dievaluasi dan tidak dapat dipertontonkan, tidak pula dapat digunakan untuk berpura-pura, tidak pula dapat digunakan untuk membusungkan dada, tidak juga dapat digunakan untuk mencari muka, untuk sombong, untuk pamer. Dia berada di dalam sanubari yang amat sangat dalam dan rahasia di dalam hati manusia, hanya Tuhan dan pamilik sanubari itu yang mengetahuinya. Maka amaliah yang tidak dibersamai dengan keikhlasan akan cacat dan sia-sia.

Tuhan menegaskan tentang posisi ikhlas dalam amaliah hamba-Nya seperti dua kutub yang berlawanan, yakni kutub ikhlas sebagai bagian dari hamba-Nya yang meyakini keberadaan Tuhannya, sementara kutub tidak ikhlas sebagai bagian dari hamba-Nya yang tidak yakin terhadap Tuhannya. Demikian Tuhan suarakan kalimat itu sebagai catatan penting dalam surah keempat puluh (Ghafir) ayat 14:  “Maka sembahlah Tuhan dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.”[]

Ilustrasi: greatmind.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *