Pembaharuan dari Masjid Kampung

Judul: Reformist Muslims in a Yogyakarta Village: The Islamic Transformation of Contemporary Socio-Religious Life

Penulis: Hyung-Jun Kim

Terbit: 2007

Penerbit: The Australian National University E-Press

_________________________

Karya ini merupakan narasi historis-analitik mengenai pembentukan kultur, identitas, ideologi, praktik, dan pandangan sosia-keagamaan dari masyarakat heterogen di Jawa. Yogyakarta, tempat studi ini dilangsungkan, adalah kota dengan citra multikulturalisme yang sangat kental. Menyandang predikat sebagai kota pelajar dengan berbagai lembaga pendidikan yang bermutu, kota ini menjadi daya tarik para pencari ilmu yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, bahkan dari mancanegara. Beragam budaya berinteraksi dan meninggalkan jejak-jejak kultural.

Demikian juga tradisi-tradisi keagamaan hadir dan berkembang, menyumbang keragaman alam pikiran masyarakat. Tradisi intelektual Muslim dan Kristen bertautan melalui intensitas praksis sosial kalangan cerdik pandai, ulama-kiyai dan romo serta kaum intelektual berideologi. Karakteristik Yogyakarta sebagai kota multikultural sekaligus sebagai pusat budaya Jawa menjadi tantangan yang menarik bagi kekuatan-kekuatan keagamaan “missionaris” untuk melakukan inkorporasi ideologi dan budaya. Hal ini menambah lagi khazanah muatan kultural Yogyakarta dan menjadikannya sebagai medan ‘adu kekuatan’ bagi kaum reformis dari kalangan Islam dan Kristen. Kristenisasi dan Islamisasi kerap saling berpacu memperebutkan ruang dalam mengisi nalar, jiwa, dan keberagamaan masyarakat.

Dalam atmosfir seperti itu, tidak gampang menjadi beragama di kota itu. Terombang-ambing dalam sikap keberagamaan menjadikan orang cenderung memiliki identitas keagamaan yang kabur (blurred identity) atau multi-identitas yang mewujud dalam berbagai paham-praktik inkulturatif bahkan moderatif, pluralis, dan inklusif. Ini tentu saja menjadi lahan dakwah yang menantang bagi kaum reformis keagamaan, seperti Muhammadiyah di kalangan Islam.

Buku ini merekonstruksi upaya para reformis yang dipengaruhi alam pikiran Muhammadiyah dalam membentuk corak ideologi dan praktik keagamaan di kampung Kolojonggo (nama samaran) wilayah Yogyakarta. Upaya transformasi sosial ini bergerak dalam kerangka pikir reformis yang puritanistis, ialah gagasan pemurnian praktik keagamaan agar tidak bercampur dengan unsur syirik, bid’ah, dan khurafat. Dalam upayanya ini, mereka dihadapkan pada dua kelompok keagamaan sekaligus, pertama dari kalangan internal Islam yaitu mereka yang dianggap bukan penganut Islam yang taat, kedua dari penduduk beragama Kristen.

Dakwah internal dan eksternal ini tentu saja menghadirkan suatu dinamika sosial yang intens di kampung Kolojonggo yang berpengaruh pada sikap keberagamaan ketiga komponen baik dari kalangan reformis itu sendiri, kalangan ‘abangan’ yang sinkretis, dan kalangan Kristen. Terjadi pertarungan segitiga di level tertentu dan perselingkuhan pada tataran lain di antara kelompok tersebut. Terutama di kalangan Muslim yang mayoritas, terjadi transformasi dalam hal cara pandang internal terhadap diri mereka sendiri, agama mereka, dan eksternal lingkungan di sekitar dan penganut agama lain.

Mendayung di tengah mainstream perdebatan tentang wajah Islam Jawa yang dipicu oleh laporan Geertz dalam The Religion of Java, karya ini hendak melihat bagaimana gagasan mengenai kebangkitan Islam – dalam berbagai bentuknya seperti revivalisme, reislamisasi, renaisans – berlangsung dalam masyarakat Jawa yang sinkretik. Menjadi sebuah narasi mengenai pembentukan masyarakat Islam (baca: Islamisasi) dalam sebuah masyarakat tradisional yang plural, buku ini menelisik posisi masyarakat Kolojonggo sebagai representasi pedalaman Jawa sebagai medan pertarungan dari kekuatan-kekuatan sosial-keagamaan.

Bermula dari masyarakat tradisional Jawa yang tipikal, dengan wajah keberagamaan sinkretik yang berakar dari tradisi animisme dan Hinduisme sebagaimana dipetakan oleh Geertz, Kolojonggo kemudian bertransformasi menjadi tempat bagi masyarakat plural di mana tradisi baru dari agama-agama besar Islam dan Kristen berkembang dan bertautan dengan tradisi lama yang mengkristal jadi adat. Munculnya kekuatan Islam dan Kristen kemudian menandai suatu perubahan cara pandang masyarakat lokal terhadap keberagamaan dan kehidupan sosial yang mereka libati.

Meskipun tidak terlalu memadai dalam menggambarkan proses dan ending dari kontestasi ideologi-praksis dua kekuatan besar eksternal yang melanda masyarakat tradisional Jawa ini, Kim memfokuskan kajiannya pada proses pembentukan varian dari gerakan pembaharuan sosial keagamaan dari kalangan reformis, dan melihat supremasi Islam dari kalangan reformis terhadap tradisionalisme kultural sekaligus terhadap ke-Kristenan.

Sebagaimana ditunjukkan, Yogyakarta menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya kaum reformis Islam di Jawa, pada saat yang sama menjadi lahan Kristenisasi yang subur di kalangan masyarakat Jawa. Kondisi ini memperlihatkan kaum reformis Islam menghadapi ‘musuh’ dari dua arah sekaligus dan memaksa mereka memainkan pedang bermata dua, satu ditujukan kepada tradisionalisme Islam (internal) dan satu lagi kepada penetrasi Kristenisasi (eksternal). Kim berhasil mengkonstruksi suatu varian pembaharuan keagamaan yang genuin yang tumbuh dari dalam masyarakatnya (insiders).

Bermula dari anak masjid – mengingatkan pada anak surau di Sumatera Barat – mereka tumbuh menjadi generasi baru dengan kesadaran keagamaan dan ideologi yang tinggi. Mereka adalah insider yang tumbuh dari dalam tetapi mendapatkan pencerahan dari jaringan kerja Muhammadiyah yang merambah sampai ke pedalaman. Tetapi mereka adalah kaum reformis kampung yang berbeda dengan para purist intelektual dari kota.

Ketika kaum puritan kota bergerak dengan pandangan mainstream akan tradisi keagamaan sinkretik yang harus dihapus dari masyarakat Islam, reformis kampung ini menunjukkan sikap akomodatif terhadap tradisi, memberi makna dan ruang kepada praktik-praktik tradisional tersebut, sehingga mereka dapat disebut melakukan Islamisasi tradisi, atau Islamisasi dari dalam (from within), seperti dilakukan Sunan Kalijaga. Mereka juga menunjukkan sikap koperatif dengan kalangan Kristen.

Modal dari sikap bersahabat ini berasal dari pandangan dunia penduduk kampung yang bermuara pada kesadaran monotheisme yang sudah tertanam sejak lama. Pendekatan struktural bagi promosi ‘kerukunan’ dan penerimaan nilai Pancasila yang diperkenalkan oleh pemerintah juga sangat berpengaruh terhadap sikap toleransi ini. Sampai tahap ini, Kim berhasil mengkonstruksi kemunculan varian baru kaum reformis Islam di Indonesia, yaitu mereka yang memainkan strategi kultural dalam melakukan Islamisasi, yang berbeda dengan mainstream gerakan Muhammadiyah yang intelektual dan non-kompromistis dengan tradisonalisme Islam dan Kristenisasi.

Tetapi Kim mengakhiri kajiannya dengan meninggalkan catatan yang mengarahkan pada prediksi bahwa transformasi gerakan kalangan reformis kampung itu mulai berubah haluan ketika penetrasi Kristen menunjukkan progresivitas yang tinggi di satu sisi, dan intensitas hubungan kerja antara kaum reformis kampung itu dengan intelektual-puritan di kota. Akan tiba saatnya ketika gerakan kaum reformis kampung itu mengalir bersama arus utama kaum puritan kota yang berkarakter intelektis dan non-kompromistis.

Dan masyarakat Kolojonggo yang semula berhasil menemukan strategi dan langgam harmoni dengan kelahiran kelas menengah moderat yang genuine akan berubah lagi menjadi medan pertarungan dan menjadi contoh dari kontestasi kekuatan-kekuatan eksternal dalam memperebutkan dominasi bagi alam pikiran masyarakat lokal. Kim menyebut ‘perang ideologi’ dan Islam pada akhirnya keluar sebagai kekuatan superior dalam pertarungan diskursus teologis terhadap Kristen, apalagi terhadap tradisi.

Jika saja kajian ini tidak berakhir pada tahap ini, mungkin Kim akan mencatat bahwa faktor yang paling menentukan dari pergeseran paradigma dan strategi kalangan reformis kampung yang anak masjid itu, serta supremasi Islam atas kalangan tradisionalis dan Kristen, adalah perubahan orientasi hubungan Islam dan negara di era akhir Orde Baru. Masa fieldwork Kim berlangsung antara 1992-1994 adalah era di mana aktivisme Islam bangkit kembali, setelah sekitar dua dekade sebelumnya tiarap.

Kemunculan ICMI pada 1990 akhir menjadi tonggak baru bagi kaum intelektual Muslim mewarisi supremasi dan hegemoni Masyumi era sebelumnya dalam kancah politik kebangsaan. Munculnya fenomena ‘ijo royo-royo’ di tubuh militer dan birokrasi adalah pendorong aktivisme Islam yang menyiratkan manifestasi revivalisme Islam. Kolojonggo adalah bagian dan contoh dari dinamika itu.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *