Ibu, Pahlawan Peradaban

BULAN DESEMBER tepatnya tanggal 22  secara khusus kita eling, merenung, bertafakkur dan menyemai doa dan perhatian khusus kepada manusia paling mulia yang Tuhan anugerahkan kepada kita sehingga kita menjadi seperti sekarang ini yakni hari Ibu. Sebenarnya tidak layak untuk memberikan peringatan sekali dalam setahun, karena begitu besar dan mulia jasanya. Akan tetapi tanggal 22 Desember dihajatkan secara khusus sebagai harinya orang yang paling berjasa dalam kehidupan kita, hanya untuk dapat secara khusus mengenang dan mengingat secara mendalam jasa-jasa besar dan perjuangan berat yang dilakukan seorang wanita mulia demi membesartumbuhkan anak-anaknya di bawah pengasuhan terbaik. 

Tidak sedikit manusia-manusia besar hadir di dunia ini karena kehadiran dan jasa besar dari seorang Ibu. Sejarah telah mencatat banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat yang dapat kita baca dan renungkan sebagai i’tibar betapa peran dan jasa Ibu sungguh sangat dahsyat yang melahirkan tokoh masyhur tidak hanya masyhur di bumi tetapi juga masyhur di langit, diantaranya:

Uwais al Qarni hidup bersama ibunya yang akhirnya menjadi manusia yang tidak terkenal di bumi tetapi masyhur di langit. Suatu hari berbisik kepada sang Ibu sebagai bakti kepada Ibunya, Ibu, Mari kita berhajji”, ibunya balas bertanya “Dengan apa, Nak? Mana ada bekal untuk ke sana?” sahut sang ibu dengan raut kaget. “Mari Bu, aku gendong Ibu. Perbekalan insya Allah cukup. Jatah makanku selalu aku tabung. Fisik ini insya Allah sudah cukup kuat!” ujar Uwais meyakinkan sang ibu.

Sang ibu hanya bisa memgurai air mata. Dan, pagi itu Uwais sang anak saleh ini melangkahkan kakinya dengan yakin, melintasi sahara panas dengan menggendong sang ibu tercinta. Berminggu-minggu ia lewati perjalanan mission impossible sejauh 600 km ini dengan penuh ikhlas dan sabar. Sampai akhirnya Ka’bah pun sudah berada persis di depan matanya. Mereka berdua pun akhirnya berhaji, menyempurnakan keberislaman mereka.

Allahu Akbar. Perjuangan yang berbuah manis. Sungguh setiap langkah Uwais telah menggetarkan langit. Pantaslah para malaikat terkesima dan membalas tasbih tak henti. Bakti yang luar biasa dan amal kebaikan yang tak bertepi dari Uwais mengangkat dirinya sebagai sosok yang sangat masyhur di seantero langit.

Thomas Alfa Edison di sekolah, yang hanya dikunjunginya tidak lebih dari tiga bulan, ia dijuluki “si tolol”, karena pertanyaan-pertanyaannya yang berulang kali kepada gurunya. Pada suatu hari ia pulang ke rumah dengan berlinang air mata, lalu mengadukan kepada ibunya. Sang ibu membimbing tangan putranya kembali ke sekolah. Kepada guru itu, sang ibu berkata: “Anda tidak tahu apa yang Anda katakan. Anak saya lebih cerdas dari Anda! Sekarang saya akan membawanya pulang, akan saya urus sendiri pendidikannya, dan akan saya perlihatkan kepada Anda, bakat apa sebenarnya yang tersimpan padanya!”

Seorang sahabat keluarga Edison menulis berkaitan dengan ini, “kadang-kadang ketika melewati rumah Edison, saya melihat ibu Edison dan putranya duduk-duduk di ruang depan, sementara sang ibu mengajari anaknya. Ketika ibunya berkata, Edison mendengarkan penuh perhatian seakan-akan perempuan itu lautan ilmu.”

Edison hanya bersekolah selama tiga bulan, dan ketika Edison menjadi terkenal, ia berkata: “Di masa kanak-kanak, saya menyadari betapa bagusnya tokoh seorang Ibu. Ketika guru itu menjuluki saya “tolol”, Ibu membela saya. Apabila Ibu tidak mendorong saya, mungkin saya tidak akan menjadi penemu.

Dari torehan secercah kisah inspiratif di atas dari ribuan kisah lainnya, jangan lupakan jasa dan perjuangan ibu-ibu kita, ibu-ibu hebat yang kisahnya tidak tercatat dalam sejarah, tetapi dia tercatat dalam sanubari yang tidak pernah hilang, tidak pernah lekang, tidak pernah tergantikan. Ibu-ibu kita pahlawan yang tidak diingat oleh ahli sejarah, pejuang yang jarang dianggap. Dia adalah salah satu dari Malaikat yang tidak terhitung jumlahnya, yang diturunkan Tuhan untuk kita.

Apa yang kita dapatkan saat ini jangan kira itu karena kita memang pantas mendapatkannya dikarenakan perjuangan kita, karena kemampuan kita, karena kecerdasan kita, karena usaha keras kita…. Tidak. Bisa jadi keberhasilan kita saat ini karena doa-doa ikhlas dan tulus yang dipanjatkan Ibu dan Ayah kita dipertengahan malam, di setiap akhir shalat mereka, di setiap lamunan mereka, di setiap memandang tumbuh kembang kita, dan di setiap mereka menangis karena rindu kepada kita. Bisa jadi semua rintihan mereka dijawab dengan kondisi kita saat ini. Maka citailah mereka, sayangi mereka, dan jangan lupa membahagiakan mereka.

Hari ibu memang sehari dalam setahun, tetapi peran ibu dalam kehidupan anak-anaknya berputar seperti roda dalam kehidupan, dialah yang memutar roda kehidupan itu menjadi bernilai. Islam percaya pada nilai seorang ibu yang luar biasa, bahkan Islam menganggap bahwa mencapai tahap akhir kesempurnaan yakni “surga”, tergantung pada kerelaan Ibu. “Surga terletak di bawah telapak kaki ibu.” Demikian Sabda Nabi SAW yang menguatkan bahwa Ibu adalah segala-segalanya dan pahlawan peradaban bagi seorang anak.[]

                                                                                                                               Ilustrasi: pixabay.com

1 komentar untuk “Ibu, Pahlawan Peradaban”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Sedih terharu jika sudah membahas tentang perempuan yg dijuluki *ibu ?
    Tiada hadiah terbaik selain doa tulus dari ibu,,*
    Smoga Allah senantiasa melimpahkan nikmat sehat, pnjang umur,keberkahan, dan kebahagiaan melalui anakmu ini dlm sisa umurmu ibu…..? aamiin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *