Pergantian Tahun: Membaca Ke Dalam Diri

MENGHITUNG adalah suatu kegiatan yang paling sering kita lakukan dalam hidup ini. Hampir setiap saat, setiap waktu, dan setiap detik kita melakukan aktivitas menghitung. Perpindahan waktu, perpindahan jam, maupun perpindahan hari sampai dengan perpindahan bulan dan tahun selalu kita barengi dengan aktivitas menghitung. Bahkan lebih ekstrim dari kita-kita ini adalah ada di antara kita yang menjemput nasib dan menjemput takdir hidupnya dengan hitungan-hitungan, sehingga bisa dikatakan hampir seluruh hidup kita ini hasil dari proses menghitung.

Hari-hari yang kita lalui tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam yang terasa begitu cepat. Dan tiba-tiba terjadi dengan nyata bahwa tahun 2020 telah pergi dari kehidupan kita dan kehidupan alam semesta, dan ia tidak akan pernah kembali lagi. Tentunya perjalanan tahun yang telah lewat telah banyak meninggalkan kenangan yang manis, kenangan indah, kenangan membahagiakan, juga kenangan yang menyakitkan, kenangan yang pahit, kenangan yang tidak enak diingat, dan bahkan kenangan yang sulit.

Itu semuanya adalah catatan hidup yang harus dijadikan pelajaran. Dan ingatlah bahwa pergantian hari, bulan dan tahun adalah merupakan pelajaran bagi orang-orang yang bersedia mengambil pelajaran. Yang pasti dalam proses pergantian tahun umur kita bertambah satu tahun namun jatah hidup kita secara otomatis berkurang satu tahun.

Baca Juga: Absurditas dan Obrolan Tahun Baru Islam

Menghitung waktu (pagi, siang, dan sore) semakna dengan menghitung seberapa besar capaian positif yang telah kita gapai dalam mengisi waktu pagi, waktu siang dan waktu sore. Begitu pula menghitung hari dalam seminggu, menghitung minggu dalam sebulan, menghitung bulan dalam setahun, dan menghitung tahun demi tahun semakna dengan menghitung prestasi dan keuntungan yang sudah kita capai.

Itulah sebabnya budaya dan sunnah dari kehidupan ini memaknai bahwa pergantian tahun hendaknya menjadi momen khusus untuk bertafakur, eling, dan merenung atas apa yang telah kita lakukan selama satu tahun yang lalu. Malam pergantian tahun edialnya malam perenungan, malam perhitungan atas diri kita masing-masing, malam membaca diri ke dalam diri atas aktivitas hati, pikiran, dan raga. Bukan sebaliknya melalukan aktivitas bersuka cita seakan-akan telah sukses melampaui tahun berjalan dan telah siap menyongsong tahun mendatang.

Kita mestinya harus ingat, bahwa dalam tahun yang kita nikmati ada pertanggunganjawab, maka sebagai pengakuan atas adanya pertanggungjawaban tersebut niscayanya di akhir tahun yang akan berakhir dan di awal tahun yang bakal kita songsong harus ada kesempatan menatap relif-relif kehidupan yang sudah selesai kita pahat setahun yang lalu untuk dapat membuat relif-relif yang tentunya lebih baik, lebih elok, lebih sukses, lebih indah dan lebih sempurna di tahun yang baru.   

Itulah esensi dari makna pergantian tahun, kita dihajatkan untuk sukarela melakukan introspeksi diri dengan membaca diri ke belakang, selama setahun yang sudah lewat; kira-kira torehan keberhsilan seperti apa yang sudah kita raih, dan kegagalan apa yang kita telah kita ukir. Dua pilar inilah yang sejatinya menjadi catatan sejarah diri yang dapat kita baca dan jadikan sebagai pijakan untuk menyongsong dan menempuh tahun berikutnya

Kita harus ingat bahwa setiap hari dalam pergantian waktu; ada pagi, ada siang, ada sore, dan ada malam. Itulah perputaran masa, berputar seperti roda yang sekan-akan tidak pernah berhenti dan tidak punya akhir. Setiap kehidupan akan mengalami pergeseran masa seperti itu. Dalam perputaran roda waktu tentunya kita pernah mengalami pasang surut kehidupan; pernah kelam, pernah susah, pernah senang, pernah juga diuji dengan sakit maupun rasa sempit.

Itulah memang takdir kehidupan manusia, dan rangkaian fase-fase dari pasang surut harmoni kehidupan itu hanya menunggu giliran untuk sampai kepada diri kita masing-masing. Watilkal Ayyamu Nudawiluha Bainannas. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). Demikitan Tuhan mengatur posisi hambaNya sebagaimana dijelaskan dalam kalamnya di surah ke-3 ayat 140. 

Sebagai catatan akhir bahwa dalam hidup kita sebagai hamba Tuhan ada rahasia yang Tuhan sengaja simpan untuk memantik semangat dan keseriusan menjalani roda kehidupan yakni rahasia dari takdir masing-masing diri kita. Dengan konsep rahasia itulah kita bangun optimisme dalam menatap setiap pergantian waktu, termasuk pergantian Tahun, karena di setiap pergantian itu ada segudang harapan yang harus kita gapai, ada segudang janji Tuhan yang menjadi milik kita harus kita dapatkan, dan ada segudang hak milik kita yang sudah Tuhan bukukan untuk menjadi miliki kita yang harus kita gapai.

Wama tadri nafsun ma dza taksibu godan.” Tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa  yang akan diraihnya esok pagi. Demikian Tuhan begitu pandai membuat rahasia untuk takdir kita yang diuntai dalam firman indahnya di dalam al-Qur’an surah ke-31 ayat 34. Dengan konsep rahasia itulah manusia bahu membahu mengambil manfaat setiap kerat dari waktu untuk menjadi bagian dari dirinya dalam upaya meraih takdir indah dari Tuhan.[]

Ilustrasi: pikiranrakyat.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *