Mata Air Air Mata (1)

ABYM menangis di pinggir sungai yang kehilangan mata airnya. Saya menemukannya duduk di bongkahan batu yang biasa saya duduki. Dulu, di sana tempat duduk ternyaman bagi saya bersama teman-teman masa kecil sebelum mandi dan bermain simi mbora. Tidak jarang sehabis mandi kami menyusuri sungai mencari buah mangga dan jambu batu. Setelah terkumpul, baru kami kembali untuk menikmatinya di tempat tersebut. Jika haus, tinggal condongkan muka di lubang-lubang mata air jernih yang hampir ada di setiap pohon besar.

Kini pemandangan itu sulit ditemukan. Saya rasa itu juga yang membuat Abym menangis. Keindahan masa kecilnya dirampas oleh pola pertanian yang mengabaikan sakralitas nilai-nilai lokal.

Saya menangkap tangisannya bukan sekadar itu. Ada hal lain yang dia sebunyikan di palung hatinya. Pilu. Penuh aura kesedihan. Seperti lolongan anjing di tengah malam yang melihat makhluk halus. Begitu tetua kami sering katakan perihal tangisan anjing.

“Apa yang membuatmu menangis sesedih itu? Laki-laki sebaiknya jangan menangis berlebihan, terkecuali masih menetek di dada ibunya.” Saya meraih lengan Abym. Saya biarkan dia melonggarkan jeratan isaknya, toh saya juga tidak mengharap dia segera menjawab pertanyaan saya.

Abym sesenggukan. Dia mengutarakan kesedihannya melihat kondisi sungai yang mengering. Penduduk desa kesulitan air, sampai-sampai bergantung pada kiriman air dari kota yang dibawa mobil tangki. Mereka yang tak memiliki uang lebih, terpaksa menempuh perjalanan panjang untuk mencari air, naik turun bukit berkelok-kelok. Menggali lubang sedalam mungkin dari bekas mata air yang biasa mereka manfaatkan selama ini. Sumur-sumur dengan kedalaman tertentu banyak dibuat, tapi air yang dihasilkan belum mampu memenuhi kebutuhan warga.

“Mengapa mata air begitu sulit. Kenapa tidak semudah kita menangis. Sepedih apapun jiwa kita, air mata tetap bisa mengalir, malah semakin tergoncang jiwa seseorang, semakin deras air mata yang memenuhi lekuk-lekuk anak sungai di wajah.”

Pertanyaan yang penuh filosofis. Saya masih meraba-raba jawaban apa yang tepat untuk saya sampaikan.

Abym melanjutkan kekesalannya. Dia bilang kelangkaan air akibat ulah kami semua, tanpa terkecuali. Kami berlomba membabat hutan untuk ditanami tanaman musiman. Iya, jagung menjadi tanaman primadona yang kami anggap bisa membebaskan dari jeratan kemiskinan. Memang hasil bertani jagung membuat silau, uang berjuta-juta bisa digenggam. Tapi, itu sebenarnya semu.

Kami harus berani melepasnya kembali untuk melunasi ongkos produksi; tenaga kerja, pupuk paketan di atas HET, dan jeratan rentenir. Ketika tengkulak memainkan harga, ujung-ujungnya papo kalau tidak mau menyebutnya rugi. Kerusakan alam? Jangan ditanya, bila saja seluruh hasil tanaman jagung warga dikumpulkan untuk biaya recovery, tidak akan cukup. Apalah hasil dari segelintir petani di sebuah kecamatan, hatta hasil seluruh kabupaten dikumpulkan, tidak akan memadai untuk memperbaiki kerusakan hutan yang diciptakan.

“Salah jika ada warga yang memiliki inisiatif mencarikan jalan keluar bagi permasalahan bersama?”

“Tidak ada yang salah, Abym. Tapi saya memiliki pemikiran lain, sebelum pemikiranmu dijalankan.”

“Apa itu?”

Saya sampaikan kepada Abym agar membiarkan masyarakat menderita dengan langkanya air. Sederita-deritanya. Biar mereka sadar bahwa merusak lingkungan akan berimbas pada diri sendiri. Setelah semuanya sadar dan penderitaan telah mengisi memori setiap orang, kelak tidak akan ada lagi yang membabat hutan.

Abym mengakui pendapat saya, tetapi katanya bukan langkah tepat di tengah kondisi masyarakat yang makin terseok. Bagi Abym, idenya harus segera dijalankan.

“Bukankah ini tugas pemerintah, Abym?” Saya berusaha membuatnya sangsi.

“Tidak mesti harus menunggu pemerintah. Mereka tahunya menyiram masyarakat dengan program yang menggiurkan. Terlihat populis, tapi substansinya jauh panggang dari api.”

Saya lebih suka melimpahkan masalah kelangkaan air, hilangnya beberapa sumber mata air, dan permasalahan umum lainnya yang saling kait kelindan kepada pemerintah. Iya, sebagaimana Abym katakan bahwa ini sumbernya dari pemerintah. Mereka yang mengeluarkan kebijakan jagung, membagi-bagi bibit jagung kualitas rendah, membuka jalan tani, dan membiarkan peladangan liar. Tidak lain, demi menjaga kualitas kantung suara ketika masa pilkada tiba.

Saya beranggapan ini cara pemerintah membungkam kita, rakyat kecil. Seperti anak-anak, kita diberikan mainan yang melenakan. Kita disibukkan untuk bermain saja. Ketika pemerintah ketahuan belangnya, kita malah berbalik membela, bertaklid buta, karena mulut kita telah disumpal dengan mainan dan hal-hal artifisial tak berarti.

Abym melarang saya mengeluh. “Banyak hal lain yang diurusi pemerintah,” katanya. Senyum getirnya semakin nampak.

Saya bungkam. Menyadari bahwa ketika tengah berkuasa, pemerintah cenderung membenci kritik. Loyalis-loyalis garis lurus yang kritik dianggap pembelot. Susah.

                                                                                                                                             ***
Baca Juga: Mata Air Air Mata (2)

Malang, 1 Januari 2021.

*Papo artinya impas [Bahasa Bima].
Simi Mbora artinya permainan menyelam [Bahasa Bima].

Ilustrasi : pixabay.com

3 komentar untuk “Mata Air Air Mata (1)”

  1. Air itu sesekali datang melahap segalanya. Mengubur apa saja yg dijumpai. Tidak perduli engkau berlari sambil sesenggukan. Suatu waktu, air itu akan hadir dengan amarahnya yg sulit diajak berdamai.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *