Nyai, Pesantren, dan NU

PERLAKUAN para peneliti terhadap figur nyai pesantren sangat tidak “adil”. Bahkan secara definisi “subjek” nyai tidak disebutkan secara formal dalam definisi Pesantren baik yang digagas oleh orang pesantren seperti Gus Gur atau pun para peneliti seperti Zamaksari Dhofir. Mereka dalam tulisannya hanya menyebut kiai sebagai komponen pesantren. Sementara keberadaan “nyai” entah kenapa disembunyikan. Mungkin karena sudah dianggap “menempel” dengan kiai. Bahkan sampai sesaat tulisan ini dibuat, dalam Wikipedia bahasa Indonesia ensiklopedia definisi itu juga masih tidak menyebutkan eksistensi nyai. Padahal peran dan kontribusi nyai dalam membesarkan pesantren sangat strategis dan bahkan selevel dengan peran kiai.

Para peneliti luar sering salah mengambil kesimpulan dengan mengatakan bahwa salah satu sebab kenapa subjek nyai tidak muncul dalam definisi konsep pesantren adalah masih kuatnya nilai-nilai konservatif yang patrimonial dalam subkultur pesantren. Mereka seolah lupa dan menutup diri dari fakta sejarah, di mana dalam sejarah kepesantrenan, hampir semua pesantren besar dan legendaris di Nusantara merupakan hasil kerja kolaboratif antara kiai dan nyai. Harus diakui memang kerja-kerja publik masih didominasi oleh figur kiai.

Namun seiring perubahan dan perkembangan zaman, figur nyai mulai pula merambah dan mengambil peran aktif di luar pesantren atau sektor publik. Sebelumnya para nyai lebih dominan mengurusi sektor domistik pesantren. Terutama pada saat awal perintisan pesantren. Bertambahnya jumlah santri baik laki-laki ataupun perempuan menjadikan beban kiai dan nyai dalam mengurus rumah tangga pesantren sedikit terbantu. Istilah khodam (pengikut) kiai dan nyai menjadi sebuah konsep yang mirip dengan asisten yang membantu kerja teknis kiai dan nyai. Sehingga nyai dan kiai mulai bisa lebih fokus pada ihktiar pengembangan pesantren. Termasuk para nyai mulai bisa berperan di luar sektor domistik pesantren.

Munculnya figur nyai publik atau saya menyebutnya sebagai nyai “panggung” tidak serta merta bisa diterima oleh kalangan pesantren terutama kiai. Hal ini terbukti dari adanya “gugatan” atau pertanyaan “hukum” dalam Muktamar NU ke 35 di Surakarta tentang hukum tampilnya figur nyai atau para penceramah perempuan di ruang publik, yang disaksikan oleh para laki laki. Meskipun keputusan Batsul Masa’il dalam Muktamar tersebut “membolehkan” para nyai untuk berpidato atau ceramah di depan lelaki, tetapi tetap saja harus memenuhi syarat yang dibuat oleh para ulama (laki laki). Hal ini menunjukkan betapa kuatnya dominasi para kiai di ruang publik dalam “mengatur” posisi para nyai.

Namun tidak membutuhkan waktu lama, pada Muktamar NU ke 13 tahun 1938 di Menes Banten, tampil seorang nyai atau penceramah perempuan yang sangat populer saat itu dari kalangan muslimat NU yang bernama Nyai Juaesi. Sosok perempuan atau nyai yang pertama kali tampil secara resmi di depan publik peserta muktamar NU yang banyak dihadiri kalangan kiai. Inilah bukti sejarah bahwa sejak dahulu kultur pesantren yang direpresentasikan oleh NU dan kiainya, sudah cukup apresiatif terhadap peran dan eksistensi para nyai (baca: perempuan). Bahkan ada goyonan ala kiai bahwa sesungguhnya di belakang kiai besar selalu ada bu nyai yang galak. Ini kayak cerita Khalifah Umar bin Khotob yang konon dalam beberapa riwayat sering “diomelin” istrinya dan sang Khalifah yang terkenal “gagah berani” itu ternyata ciut nyali di depan istri.

Peran nyai dalam mengembangkan kultur pesantren semakin menguat bahkan ketika Indonesia belum merdeka. Para nyai sudah mulai disejajarkan dengan para kiai secara intelektual bukan lagi karena peran domestiknya mengurus kebutuhan santri dan kiai. Bahkan putri mbah Hasyim Asy’ari, yakni Nyai Khoiriyah sudah dikenal sebagai intelektual Islam perempuan yang mendunia. Peran strategis yang dilakukan dalam merintis pendidikan kaum perempuan sudah dilakukan dengan mendirikan madrasah Lil Banat di Arab Saudi, ketika Nyai Khoiriyah tinggal di Makkah Saudi Arabia selama 20 tahun bersama suaminya KH. Muhaimin Lasem mulai tahun 1933.

Sebuah pencapaian intelektual yang luar biasa dari seorang nyai (Ning yang kebetulan putrinya pendiri NU) yang didik secara khusus dalam kultur pesantren yang “membebaskan”. Karena prestasi sang nyai ini beliau dipanggil khusus oleh raja Arab Saudi saat itu untuk mendapatkan penghargaan. Bahkan sang nyai akhirnya dipanggil pulang secara khusus oleh Soekarno untuk membantu memajukan pergerakan perempuan di Indonesia. Karena itulah beliau dikenal sebagai tokoh Muslimat NU sekaligus perintis pesantren perempuan, serta tokoh penting yang terlibat dalam pendidikan kaum perempuan Indonesia. Beliau juga terlibat dalam membesarkan Yayasan Pendidikan Putri Khadijah Surabaya yang cukup terkenal, di mana saat ini ketua yayasan dipegang Khofifah Indar parawansa yang juga menjabat sebagai gubernur Jawa Timur.

Eksistensi para nyai pesantren menjadi semakin penting dan strategis baik di ruang domistik atau pun di ruang publik. Bahkan di era Orde Baru ketika tekanan politik terhadap aktivitas politik umat Islam begitu kuat dan kejam (terutama kepada NU), maka mulailah para nyai bergerak di sektor publik lewat pendirian majelis taklim di pusat kota. Fenomena ini terus bertahan hingga sekarang.

Energi organisasi yang awalnya lebih diarahkan pada penguatan parpol NU, mulai banyak dialihkan ke gerakan sosial. Para nyai banyak mengambil peran penting dalam proses ini. Apalagi saat itu para kiai publik belum bisa move on dari “politik”. Lahirnya khitah NU semakin menguatkan proses gerakan para nyai untuk membesarkan NU dan kultur pesantren di masyarakat.

Hadirnya Gus Dur sebagai bapak demokrasi juga membuat para aktivis perempuan NU semakin “berani” mengambil peran secara aktif dan membuka diri terhadap dunia pergerakan. Munculnya tokoh penerus perjuangan Nyai Khoiriyah seperti Nyai Badriyah Fayumi, Nyai Nur Rofiah, dan para nyai aktivis lainnya yang memiliki latar kultur pesantren sangat kuat, menjadi bukti bahwa kultur pesantren yang mengakar kuat dalam tubuh NU, sebenarnya sangat terbuka dan cocok dijadikan basis pengembangan ideologi gerakan pemberdayaan perempuan di komunitas muslim Nusantara.

Bahkan di era digital ini keberadaan para nyai tersebut semakin penting dan nyata dibutuhkan masyarakat. Aktivitas di dunia maya yang sangat cair dan tanpa batas tersebut, menjadi tantangan baru bagi para nyai pesantren untuk mengambil alih peran kiai yang sejak era reformasi kembali lebih disibukkan dengan urusan politik. (Meskipun begitu masih cukup banyak kiai pesantren yang Istiqomah mengabdi secara tulus di pesantren dan masyarakat. Hanya saja mereka kurang dikenal di ruang publik).

Memasuki era pesantren digital, para nyai juga terlihat lebih siap dan mapan dibandingkan para kiai. Sebab dunia media sosial yang menjadi ruang publik digital, lebih banyak disukai kalangan ibu-ibu dibandingkan bapak bapak, terutama dalam isu agama. Bahkan isu yang disampaikan para nyai jauh lebih bervariasi dibandingkan dengan yang disampaikan para kiai. Sebagaimana dilakukan oleh Nyai Nur Rofiah dengan isu KGI-nya. Meskipun masih cukup banyak para kiai yang Istiqomah berjuang di jalan “pencerahan” lewat “pesantren online” seperti yang dilakukan kiai (yang juga Gus) Ulil Abshar Abdalla, namun eksistensi beliau tidak mungkin dilepaskan dari sosok Bu Nyai Ienas Tsuroiah yang sangat “perkasa dan disiplin” “menjaga” sang kiai. Bahkan Nyai Ienas Tsuroiah sudah sering tampil sendiri di ruang publik sebagai nyai yang “otonom”. []

Ilustrasi: Swara Rahima

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *