HMI dan Para “Malin Kundang” Itu

Setiap kader HMI pasti selalu punya narasi dan memori indah tentang himpunan ini. Sebagai organisasi kemahasiswaan HMI menawarkan sensasi dan ‘rasa’ yang berbeda. Ada banyak hal yang didapatkan di sini: tentang kepemimpinan, keorganisasian, kepedulian sosial, nasionalisme, wacana keislaman dan paling penting atmosfir intelektual yang khas.

Baca juga: Pergulatan Menjadi HMI

Saya sendiri bukanlah kader inti di HMI, dalam arti tidak cukup aktif sebagaimana teman-teman lain. Lantaran tidak setuju dengan gelora primordialisme yang menjangkiti HMI (juga PMII dan IMM) di kampus, akhirnya saya memilih jalan sunyi sebagai pekerja pers mahasiswa.

Karir saya di HMI hanya sampai Latihan Kepemimpinan 1 (Basic Training), kasta terendah dalam jenjang pengkaderan di organisasi tersebut. Saya hanya menjadi anggota salah satu departemen di Komisariat Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin satu periode. Setelah itu saya lebih fokus di pers mahasiswa.

Dalam perkembangannya, meski secara formal tidak menjadi pengurus, tapi saya rajin mengikuti berbagai kegiatan kajian baik di HMI maupun organisasi lain. Saya malang melintang menghadiri kegiatan dari komisariat ke komisariat.Tiap pekan selalu begitu.

Iklim intelektual di zaman itu memang memungkinkan tumbuhnya kehausan ilmiah (kuriositas) di kalangan mahasiswa, termasuk menulari kami yang masih muda. 

Saya senang melihat kemampuan berargumentasi anak-anak HMI itu. Tidak sekadar pandai beretorika tapi juga dibangun di atas fondasi ilmiah yang kokoh. Hal itu karena para aktivis HMI itu rata-rata kutu buku.

Mereka pemamah buku yang hebat. Macam-macam kecenderungan dan kiblat keilmuan mereka: ada yang hobi filsafat, sosiologi, teologi dan lainnya kendati secara formal mereka kuliah di jurusan yang berbeda.

Senior saya Zainal Arifin Sandia (Kee Enal) yang kini menjadi aktivis LSM, meski kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa Arab, tapi justeru penggemar berat filsafat. Dia juga doyan pada disiplin teologi. Saat kuliah beberapa kali saya pergoki dia melahap buku-buku tebal Cak Nur seperti “Islam Doktrin dan Peradaban” atau “Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah”.

Setiap kuliah nyong Ambon ini sengaja duduk paling belakang demi membaca buku-buku favoritnya. Demi memuaskan dahaga intelektualnya, dia juga mahir melakukan kamuflase: menyandingkan buku yang sedang dibacanya dengan buku kuliah di atas meja.

Ketika dosen berjalan ke belakang, secara refleks segera meletakkan buku kuliah itu di atas buku yang tadi dibaca sehingga kesannya sedang membaca buku kuliah.

Dosen yang mengajarnya jadul dan bikin ngantuk, justeru menjadi kesempatan baginya untuk membaca buku-buku itu secara diam-diam. Dia juga rajin membuat catatan dan mencoret bagian-bagian penting dari buku yang dibacanya.

Kala teman-teman lain bosan di kelas, dia malah menikmati hobinya. Perilaku aneh ini sempat membuat saya heran: kok bisa ya membaca buku berat di tengah suasana kuliah hehehe. Belakangan ‘aksi tipu-tipu’ dosen ala Zainal ini menginspirasi saya karena kebetulan dari Prodi yang sama hehehe.

Selain karya-karya Cak Nur, Zainal juga kerap menenteng dan membaca buku-buku Paulo Freire, Peter Berger, Ernest Gelner, Iqbal, Akbar S. Ahmed, Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, Khomeini dan lainnya di samping buku babon HMI “Nilai-nilai Dasar Perjuangan”—buku-buku yang cukup berat saya cerna kala awal di HMI.

Tapi di tangan Zainal bacaan-bacaan ini begitu fasih dan ringan untuk dijelaskan. Ada juga “Malin Kundang” lainnya yakni Mukmin Naini asal Buton. Kuliah di Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) tapi justeru penggemar sosiologi akut. Koleksi buku di kosnya di Manuruki 2 dipenuhi buku-buku sosiologi. Belakangan ia menjadi komisioner KPUD, aktif di PAN dan menjadi Ketua DPRD di daerahnya, Kabupaten Muna.

Baca juga: ‘Melawan’ Cak Nur

Tapi dari semua aktivis HMI di kampus saya, ada dua orang paling saya kagumi yakni Mukhlis Tapi-Tapi dan Tahir Irhas (keduanya di Fakultas Syariah). Keduanya adalah tukang demo dan vokal menentang setiap penyimpangan baik di kampus maupun di luar kampus.

Pada detik-detik kami wisuda pada 1997 dan memakai toga, bang Mukhlis bahkan masih sempat memobilisasi kami untuk melakukan aksi bakar toga. Gila aja hehehe! Dia keberatan dengan kebijakan kampus yang mengharuskan wisudawan membayar pakaian wisuda, padahal menurutnya cukup disewakan saja.

Saking seringnya melakukan demo, sampai-sampai kalau ada aksi demo di kampus pihak rektorat pasti “menuding” kedua orang ini biangnya. Pak Aminuddin Radja, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan sampai hafal nama keduanya.

Belakangan, kedua aktivis ini menempuh takdir yang dahulu “ditentangnya”. Mukhlis menjadi Wakil Bupati Halmahera Utara sedangkan Tahir Irhas kini menjabat Waket III STKIP Kota Bima. Sebuah jalan hidup yang mungkin tidak terbayangkan waktu di HMI.

Saya sendiri, kendati hanya sebentar di HMI, tapi organisasi ini punya peran penting dalam membentuk karir keintelektualan saya. Meski hanya mentok sampai LK 1 tapi teman-teman HMI tetap memberikan ruang kepada saya. Misalnya sebagai pemateri dalam pengkaderan maupun mengisi kegiatan kajian di HMI.

Bahkan, karena saya menaruh minat pada kajian gender, beberapa kali diundang mengisi kajian khusus Kohati. Sekretariat Kohati di kawasan kos mahasiswa di Manuruki 2 sempat beberapa kali saya sambangi. Belakangan, perkenalan dan relasi saya dengan Kohati membawa saya pada cinta rumit dengan salah satu Kohati asal Ambon sebagaimana saya tulis dalam “Kohati dan Cinta dalam Sepotong Sagu” itu hehehe.

Kini, di milad HMI ke-74, sambil menatap Lembaran Kader dan Kartu Anggota HMI yang makin pudar semua kenangan dan memori itu seperti terbentang kembali. Segenap romantisme, gelora intelektual, heroisme dan sensasi petualangan mengasyikkan kala mahasiswa itu membangkitkan spirit menakjubkan. Termasuk kenangan pahit kasih tak sampai dengan si Kohati asal Ambon itu hehehe.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *