Lupa, Anugerah Indah dari Tuhan

LUPA merupakan salah sifat asasi yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, bahkan diklaim sebagai distingsi atau penciri dari makhluk yang diberi nama insan (manusia).

Kita sering mendengar dan membaca tesis keagamaan bahwa tidak dikatakan manusia kalau dia tidak memiliki sifat lupa. Dengan label inilah Tuhan memberi rukhsah atau keringanan dalam hukum syari’at bahwa orang yang lupa tidak dikenakan putusan bersalah dan tidak pula diberi sanksi hukum dalam urusan ibadah. Misalnya orang yang sedang berpuasa tiba-tiba makan atau minum karena lupa dirinya sedang berpuasa, maka puasa yang sedang dijalankannya tidak batal.

Akan tetapi potensi lupa ini sering tidak kita sadari  menjadi potensi bawaan sehingga tidak sedikit orang-orang terkadang kecewa bahkan marah jika bertemu dengan kondisi bilamana ada orang lupa dalam memenuhi janji atau memenuhi amanah.

Sifat lupa agaknya sulit untuk dipisahkan dari kita, karena ia merupakan potensi bawaan yang melekat dengan diri kita sebagai manusia, bahkan tidak hanya sebagai potensi bawaan, tetapi menjadi karakter atau label yang menyatu dengan potensi kemanusiaan sebagaimana Nabi SAW menegaskan dalam sabdanya “Al insan mahallul khato’ wannisyan”, manusia itu tempatnya salah dan lupa.

Sekilas memang sifat lupa itu diasumsikan sebagai kelemahan dan bahkan dipandang oleh sebagian orang sebagai penyakit. Namun pada hakekatnya ia merupakan anugerah terindah dari Tuhan buat kita, namun kita tidak menyadarinya.

Dengan anugerah “lupa” yang diberikan Tuhan kepada kita akan menghadirkan rasa optimisme dalam mengelola dan menjalani kehidupan ini, dengan anugerah “lupa” membuat kita tidak terauma dengan masa lalu, membuat kita berani menghadapi kenyataan, membuat kita percaya diri, bahkan dengan anugerah “lupa” membuat kita sangat yakin tentang potensi dan keadaan diri kita sendiri.

Fakta kehidupan sangat indah untuk kita jadikan testimoni tentang “lupa” sebagai anugerah indah dari Tuhan yang diberikan kepada kita. Betapa banyak orang yang mengalami kegagalan dalam usahanya—kalau dia tidak lupa dengan pengalaman pahit yang pernah dia rasakan akibat kegagalannya, mungkin sangat banyak dari kita-kita ini yang tidak bangkit bahkan menjadi orang yang gagal seumur hidupnya, akan tetapi karena kita lupa terhadap pengalaman pahit yang pernah terjadi, maka kita bangkit bahkan bisa jadi bangkit menjadi orang paling sukses.

Betapa banyak orang terjerumus ke jurang kemaksiatan—andai  dia tidak lupa terhadap pekerjaan maksiat yang pernah dia lakukan, maka pasti dia akan menjadi orang yang malu seumur hidup, malu untuk bersosialisasi dengan msyarakat luas, merana sepanjang waktu memikirkan kemaksiatan dirinya, trauma berkepanjangan akibat kekhilafan yang pernah dilakukan, akan tetapi karena dia lupa dengan kemaksiatan yang pernah terjadi dalam dirinya, maka dia tampil dengan hati yang merdeka di depan publik, tampil dengan sikap dan prilaku indah dan percaya diri.

Betapa banyak orang tersakiti oleh perbuatan, perkataan, sikap, dan prilaku saudaranya—kalau dia tidak lupa dengan perlakuan dan sikap buruk yang pernah menimpa dirinya akibat dari perlakuan orang-orang di sekitarnya, maka dia pasti akan menjadi pendendam seumur hidup, menjadi orang tidak pernah berbaik sangka kepada orang lain, bahkan akan menjadi orang yang iri dan dengki sepanjang hidupnya.

Betapa banyak dari saudara-saudara kita yang pernah sakit pisik dan berdarah akibat luka—andai tidak lupa dengan rasa sakit yang pernah menimpanya, mungkin sudah tidak ada lagi orang bekerja dengan pisau atau benda tajam, dan tidak akan kita jumpai ibu-ibu yang melahirkan dua kali.

Maka berbahagia dan bersykurlah kita kepada Tuhan yang menggenggam kehidupan ini atas anugerah berupa “lupa” yang ditanamkan dalam proses penciptaan kita, sehingga menjadi potensi bawaan yang melekat dan akan muncul pada waktunya dalam mengatasi trauma dan putus asa.

Yang tidak boleh terjadi pada kita adalah manakala sifat lupa yang menjadi potensi bawaan itu kita jadikan sebagai kebiasaan yang disengaja dengan dalih bahwa hal itu adalah wajar. Jika itu yang kita lakukan, maka sifat lupa yang hakekatnya menjadi potensi bawaan akan berubah menjadi penyakit yang berawal dari pura-pura lupa, menjadi kebiasaan lupa, dan pada akhirnya menjadi makhluk pelupa yang berakibat sangat fatal bagi kelangsungan tatanan kehidupan kita sebagai makhluk sosial dan beradab.

Agar kehormatan kita sebagai makhluk terbaik yang Tuhan ciptakan selalu terjaga dari sifat berpura-pura, terutama dalam menggunakan potensi lupa, Tuhan memberikan kita hati yang mengandung muatan potensi obyektif, jujur dan istiqomah dalam kebaikan dan kebenaran.

Dengam itu kita berdialog dalam menyoal setiap elemen dari sifat dan prilaku kita untuk terjaga dari melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan isi hati, termasuk obyektif dan sportif dalam memfungsikan potensi lupa sebagai bawaan yang melekat.

Dengan itu kita menyikapi “lupa” benar-benar menjadi anugerah indah yang diberika Tuhan kepada kita. Mari kita renungkan dalam-dalam petuah yang disabdakan Nabi SAW, “istafti qalbak”  Mintalah petuah pada hatimu.

Ilustrasi: sahabarkelurga.kemendikbud.go.id

1 komentar untuk “Lupa, Anugerah Indah dari Tuhan”

  1. Subhanallah,Lupa merupakan Anugrah dari Allah SWT..
    Tapi bagaimana sekiranya Kita terus Lupa ..
    Padahal Ingat juga merupakan Anugrah …
    Kadang kita berusaha mengingat ngingat yang terlupakan .. atau sengaja melupakan yg di ingat ..Mhn pencerahan…
    Al-Mukarram.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *