Ramadhan: Berdamai dengan Diri Sendiri

SABDA Nabi SAW yang masyhur terkait dengan puasa Ramadhan adalah hadis beliau yang mengandung makna bahwa perjuangan yang paling berat adalah jihad melawan diri sendiri (menaklukkan hawa nafsu), yang semakna dengan “berdamai dengan diri sendiri”. Sabda Nabi itu sebenarnya merupakan hakikat dari ibadah shaum di bulan Ramadhan, yakni kemampuan untuk bernegosiasi dengan ego. Artinya kesuksesan seorang mukmin mempuasakan Ramadhan bila ia mampu berdamai dengan dirinya sendiri, karena aktivitas Ramadhan merubah kebiasaan keseharian kita hampir 180 derajat dari kebiasaan di luar Ramadhan.

Di luar bulan Ramadhan kita boleh makan selama dua puluh empat jam sehari, begitu memasuki Ramadhan kita harus rela untuk lapar dan dahaga selama dua belas jam sehari dalam waktu satu bulan. Begitu pula dengan waktu tidur di malam hari, di luar bulan Ramadhan kita bisa tidur pulas semalaman hingga fajar, begitu memasuki Ramadhan kita harus bangun setiap malam di pertengahan malam untuk aktivitas sahur. Dan masih banyak aktivitas pengiring lainnya dari puasa yang tidak biasanya dilakukan di luar Ramadhan.

Di samping berdamai dengan diri sendiri dalam urusan kebiasaan hidup, Ramadhan juga menghendaki agar kita bisa berdamai dengan diri sendiri dalam urusan sosial dan ibadah, seperti yang dinyatakan Tuhan dalam firmanNya dalam surah ketiga ayat 134, bahwa ada beberapa aktivitas yang membutuhkan kesiapan seorang mukmin untuk berdamai dengan dirinya sendiri, diantaranya berderma di kala lapang maupun sempit, menahan amarah, memberi maaf kepada saudaranya, dan berbuat ihsan.

Baca juga: Ramadhan: Relasi Harmonis dengan Tuhan

Berderma di kala lapang atau sempit bagi manusia biasa sungguh merupakan aktivitas ibadah yang tantangannya sangat berat. Dalam keadaan lapang (dikala berada) misalnya, seseorang akan mengalami berbagai macam pertimbangan untuk mendermakan harta yang sudah dia kumpulkan cukup lama dan berlelah-lelah. Begitu pula berderma dalam kondisi sempit (kurang berada), seseorang akan sulit memberi keputusan untuk harus memberi, di samping pertimbangan volume harta yang kecil, juga mempertimbangkan kebutuhan hidup ke depan.

Perang batin mesti terjadi baik pada orang yang hidupnya lapang apalagi yang sempit saat dihadapkan dengan keharusan berderma. Ramadhan datang mengajak untuk berdamai dengan diri sendiri agar rela berderma dalam kondisi lapang maupun sempit dengan menyentuh titik kesadaran bahwa kepemilikan harta itu pemberian Tuhan yang tidak pantas ditimbang dengan rasa kepemilikan pribadi.

Menahan amarah untuk tidak emosi dan tidak marah terhadap tindakan yang menyinggung harga diri juga merupakan tindakan yang sangat berat bagi manusia, rasanya diri ini sulit untuk berdamai dengan emosi dan rasa marah. Ramadhan hadir di tengah kehidupan kita guna menciptkan situasi agar kita bisa berdamai dengan diri sendiri dengan mengenyampingkan rasa harga diri tatkala kemarahan dan amarah menguasai hati dan pikiran kita.

Aktivitas berikutnya yang juga sangat berat bagi manusia biasa adalah memberi maaf atas kesalahan dan kekeliruan saudaranya. Dengan harga diri yang melekat, ada rasa gengsi untuk membuka hati memaafkan setiap kesalahan, bahkan bisa jadi kebencian atas kesalahan yang diperbuat saudara kita menjadi percikan dendam yang menyalakan api kebencian. Ramadhan hadir dengan risalah puasa mengajak untuk berdamai dengan diri sendiri agar membuka hati selebar-lebarnya untuk memberi maaf atas setiap kesalahan.

Kemudian aktivitas lain yang juga membutuhkan kesiapan berdamai dengan diri sendiri adalah berbuat ihsan, yakni melakukan kebaikan yang setingkat lebih tinggi dari berbuat baik—sementara berbuat baik saja tantangannya sangat berat. Contoh, jika memiliki uang sebesar lima ratus ribu rupiah, kalau berderma sebesar seratus ribu rupiah—maka tindakan itu adalah berbuat baik, akan tetapi jika berderma sebesar empat ratus ribu rupiah—maka tindakan itu adalah berbuat ihsan. Dalam hal perlakuan kepada alam, jika seseorang membersihkan selokan untuk menghindari banjir—maka dia telah berbuat baik, akan tetapi jika seseorang menanam pohon untuk menghindari erosi—maka dia telah berbuat ihsan. Ramadhan datang di tengah kehidupan kita menuntun untuk berdamai dengan diri sendiri agar mampu berbuat ihsan dalam beribadah maupun dalam melaksanakan aktivitas sosial dan kemakhlukan.

Baca juga: Daya Ramadan

Keberhasilan orang beriman untuk berdamai dengan dirinya di bulan Ramadhan menjadi penciri dari keimanan sejati yang dia miliki, juga tanda dari kesuksesan mempuasakan Ramadhan. Dan boleh jadi kemampuan berdamai itu pula yang menjadi pertimbangan Tuhan dalam memberikan derajat taqwa yang dijanjikan. Namun apabila dalam melaksanakan ibadah shaum belum berdampak pada kemampuan berdamai dengan diri sendiri, maka kita tidak boleh berharap banyak dari ibadah shaum yang kita lakukan. “Kam min shoimin laisa lahu min shiamihi illalju’ wal athosy”, Berapa banyak yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.

Taqwa itu bukan sebatas pengakuan, tetapi substansi dalam wujud yang dilambangkan dengan kepatuhan, keikhlasan, kemampuan mengambil i’tibar dan pada akhirnya kemampuan memetik hikmah dari perjalanan spiritual selama menjalankan ibadah shaum di bulan Ramadhan.

Ilustrasi: ramadhan2020

1 komentar untuk “Ramadhan: Berdamai dengan Diri Sendiri”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Barakallah ayahandaku…🙏🙏🙏
    Inspirasi n motivasi untuk bbrpa hari kedepan di 10 malam terakhr bulan ramadhan 👍👍👍

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *