Sampai Kapan Menyadari Diri Terlambat?

MEREFLEKSI perjalanan panjang dari hidup yang kita lalui dengan berbagai dimensinya, kadang kita tidak menyadari bahwa kita sesungguhnya menjadi makhluk yang gemar terlambat dalam urusan-urusan penting dalam hidup kita.

Keterlambatan itu terkadang bukan menjadi unsur kesengajaan, tetapi sering menjadi bagian dari elemen kehidupan yang terjadi begitu saja tanpa kita sadari. Padahal dalam pemahaman kita, bahwa penyesalan itu akibat yang berbading lurus dengan keterlambatan dan ia selalu berada di hilir perjalanan hidup, tetapi kita selalu lengah pada aksi di hulu kehidupan kita.

Mari kita refleksi satu persatu elemen kehidupan yang kita jalani dengan keterlambatan-keterlambatan yang tidak kita sadari. Kita telusuri aktifitas-aktifitas ringan yang semestinya bisa kita lakukan dengan tidak terlambat.

Baca juga: Jujur terhadap Diri Sendiri

Belajar misalnya, salah satu aktifitas yang diserukan kepada kita semenjak kita beranjak kanak-kanak, mulai dari belajar membaca al-qur’an, belajar menghafal doa-doa, sampai kepada belajar materi-materi sekolah. Kita sering terlambat untuk menyadari betapa belajar itu sebagai salah satu elemen penting untuk kita lakukan sebagai bekal kehidupan di masa depan. Akan tetapi berapa banyak dari kita-kita yang merasa tidak maksimal menggunakan waktu kecil atau masa muda untuk belajar.

Setelah otak sulit untuk konsentrasi, setelah lisan sult untuk melafalkan bunyi huruf dengan maksimal, dikala pengelihatan sulit memerhatikan deret huruf diatas kertas, baru kita ingin membuka lembaran-lembaran bacaan dengan serius. Maka ini sebuah kesadaran yang terlambat. Andai belajar itu tidak menjadi aktifitas penting bagi manusia dalam membangun peradaban, Tuhan tidak menempatkan perintah membaca itu sebagai perintah pertama dari tugas kenabian Muhammad SAW.

Kemudian aktifitas fisik, kata orang-orang yang mengerti kesehatan, olah raga adalah infestasi kesehatan jangka panjang. Jika ingin sehat di masa tua, maka berolah ragalah di masa muda di kala otot-otot dan sendi mampu melakukan aktifitas yang sesungguhnya.

Kesadaran tentang makna oleh raga yang menjadi infestasi kesehatan di masa tua, ternyata hanya menjadi pengetahuan, dalam praktek tidak banyak dari kita-kita yang melakukannya. Coba kita perhatikan berapa banyak orang-orang yang berada di lapangan oleh raga dan di jalanan baik pagi subuh maupun sore hari, begitu rajin dan antusias berjalan dengan otot dan sendi yang sudah berat melakukan aktifitasnya, berapa banyak orang yang sudah mengalami setruk berjalan begitu antusias ingin mengembalikan saraf-saraf yang sudah melemah. Ternyata antusiasme dan semangat berolah raga itu datangnya terlambat. Itulah infestasi yang terlambat, dan termasuk penyesalan di hilir.

Baca juga: Terima Kasih, Tuhan: Ada Hikmah Lain di Balik Covid-19

Kemudian makna sinar matahari pagi bagi kesehatan, semua makhluk hidup diberikan pemahaman oleh Tuhan akan menfaat positif sinar matahari pagi bagi kesehatan. Tetapi lagi-lagi kita terlambat menyadarinya. Coba kita saksikan di kota-kota besar, di komplek-komplek perumahan, berapa banyak orang yang sudah tidak berdaya berjemur dengan korsi rodanya di bawah terik matahari pagi, berapa banyak orang-orang yang sudah pucat dan lemah menuju halaman dan jalanan yang luas untuk sekadar mendapat sinar matahari. Ternyata kesadaran pentingnya sinar matahari datangnya terlambat. Setelah tubuh tidak maksimal merespon cahaya, baru kita mencari pancaran sinar matahari. Lagi-lagi kesadaran dan penyesalan yang terlambat.

Pada tataran prilaku dalam fase kehidupan, sering kita mengabaikan sisi-sisi kemanusiaan dalam berkomunikasi, dalam bersosialisasi, dan dalam pergaulan dengan sesama. Kita harus ingat bahwa pada suatu masa dalam hidup ini akan ada ruang dan waktu bahwa sisi-sisi kemanusiaan itu menjadi bahan pertimbangan. Berapa banyak orang-orang di masa tuanya dengan terpaksa menebar pesona karena ingin mendapatkan simpati orang lain, berapa banyak orang menyesali keadaan karena tidak sempat menginfestasikan prilaku baik dalam hidupnya, berapa banyak orang ingin memutar waktu untuk merubah dirinya menjadi orang yang berprilaku baik terhadap orang lain. Sungguh merupakan asa yang terlambat.

Dan masih banyak keterlambatan-keterlambatan yang tidak kita sadari yang menjadi bagian dari elemen kehidupan kita. Hingga keterlambatan untuk sadar dalam melakukan aktifitas kebaikan dalam urusan keagamaan. Kita sering menunda-nunda untuk melakukan kebaikan, dengan dalih masih muda dan waktu masih panjang. Berapa banyak orang yang tidak bergegas menuju panggilan Tuhan untuk ikut bersama orang-orang yang rukuk, berapa banyak orang tidak terpanggil untuk memberi sebagian yang dia miliki, berapa banyak orang yang tidak tergerak hatinya untuk peduli dengan penderitaan saudaranya.

Kebiasaan menunda-nunda, tidak bersegera dalam kebaikan, tidak peduli, ternyata Tuhan mencatatnya sebagai orang yang terlambat, sebagaimana telah dinyatakan Tuhan dalam firmanNya didalam surah Al Munafiqun ayat 10, “fayaqulu rabbi, laula akh(khartani ila ajalin karib fa ash(shaddaqa wa akun minash(shalihin” mereka ia berkata, “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”
Sebelum sampai pada penyesalan di hilir perjalanan hidup kita, saatnya untuk menimbang seluruh aktifitas hidup ini, sebab apa yang kita lakukan saat ini adalah bayangan dari apa yang akan kita terima di masa datang. Kata orang bijak “Masa depan itu dimulai saat ini juga, bukan besok”.

Ilustrasi:Solopos.com

2 komentar untuk “Sampai Kapan Menyadari Diri Terlambat?”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Satu kalimat yang terbersit dlm benak setelah menyimak tulisan ini “”
    Ya Allah semoga tman2 semua di grup ini wabil khusus saya tidak termasuk dlm orang2 yg merugi karna sebuah keterlambatan”” 🤲

    Semoga kita semua senantiasa dlm kesehatan, keselamatan, kemudahan dlm rezeki dan segala urusan,,, aamiin

    Terimakasih ayahanda,, rindu ingin bertemu. Semoga Allah melimpahkan kebahagian selalu untuk bapak n kluarga .

    *Dekat Dalam doa 🙏🙏❤

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *