Permata yang Sempat Hilang

PADA hari-hari tahun 1921 di Kota Toea Ampenan hiduplah seorang pemuda bernama Ahmad Zaini. Seorang pemuda berwajah culun tapi gagah. Sering tidur di atas kasur kering tetapi wajahnya basah. Sering barjalan melewati tempat maksiat seperti judi dan sejenisnya tetapi tak pernah melakukan kemaksiatan seperti itu.

Para penduduk Kota Toea terheran olehnya. Keharanan itu bagaikan burung yang terpapar komat-kamit berkicau ke sana kemari tak mengenal tempat dan waktu. Apabila pemuda tersebut lewat, kebanyakan dari mereka selalu memandangnya sebelah mata, meskipun sebagiannya lagi memandang dengan dua mata.

Sebagian dari mereka mencemooh, ”Liat tuh Ahmad Zaini, miskin iya, harta tak punya. Bagaimanakah ia akan sukses jika dirinya hanya bermodal kesungguhan dalam menuntut ilmu?”

Sebagian penduduk lain lagi merasa sedih apabila terdengar di telinga dan hati mereka kicauan yang sangat pilu. Mereka lalu mendoakan Ahmad Zaini agar kelak ia menjadi orang yang sukses nan alim. Mereka berharap Ahmad Zaini kelak dapat menjadi pemuka agama di Kota Toea dan merangkul seluruh penduduknya agar berhenti bermaksiat.

Hari-hari sudah berlewat dan pemuda Ahmad Zaini tidak menghiraukan ocehan dari warga-warga yang suka memandangnya sebelah mata. Rasa minder dan percaya diri bercampur dalam benak hatinya seakan-akan harapan hampir sirna.

Baca Juga: Mata Air Air Mata (1)

Karena merasakan hal tak tertanggungkan, ia pun sowan kepada seorang alim, tak lain Tuan Guru Abdullah Mahsun yang menetap di Kediri, Lombok Barat. Jauh-jauh ia memakai sarung, peci dan baju taqwa dari Kota Toea sampai ke Kediri, menggunakan angkot.

Ketika sampai, ia tidak langsung bertemu dengan sang alim, melainkan dengan santri terdekatnya dulu. Seluruh santri sangat ketakutan apabila ada orang yang sowan kemudian ternyata ia utusan penjajah Belanda untuk membunuh para ulama. Karena, banyak orang Sasak yang mau saja disuap orang Belanda, termasuk orang ahli maksiat yang membenci orang alim.

Seperti mengetahui kedatangannya dicurugai, Ahmad Zaini pun berkata, ‘’Aku kanak miskin lekan Ampenan, aku lek te pengen sowan kance curhat endah.’’ Artinya, kedatangan saya kesini untuk sowan dan curhat. Mendengar itu santri mengizinkannya untuk masuk ke rumah Tuan Guru.

Satu langkah Ahmad Zaini memasuki rumah beliau, pada saat yang sama Tuan Guru Abdullah melangkahkan kakinya keluar kamar dan menanyakan, “Ada apa gerangan kau ke sini?’’

‘’Duhai Tuan Guru,” Ahmad Zaini menjawab, “kedatanganku ke sini hanya untuk sowan dan mengadu.’’

Tuan Guru menatap Ahmad Zaini dalam-dalam, membuat keringat sang pemuda menjadi kering. Tuan Guru lalu berkata, ‘’Silakan, nak.’’

Ahmad Zaini melanjutkan pembicaraannya dengan amat terbata. ‘’Begini Tuan Guru, ketika saya di Ampenan, saya sangat berniat menuntut ilmu dan mencoba hal yang baru. Tetapi banyak orang suka melecehkan saya dan menghina saya dikarenakan ayah saya hanya penjual mainan.”

Raut muka Tuan Guru serta-merta berubah ketika mendengar curahan hati Ahmad Zaini. Matanya menjadi merah bercampur antara rasa kasihan dan kecewa. Lantas Tuan Guru mengeluarkan kata-kata yang membuat Ahmad Zaini naik semangatnya:

“Hei Ahmad Zaini, apakah kau tidak melihat semua orang yang menghina? Bahwasanya mereka semua sudah gila. Salah satu bentuk penghinaan mereka adalah mengejek secara terang-terangan maupun gibah. Saya yakin, mereka tidak mau melihat kau ber-tulul himmah (cita-cita tinggi).”

“Katakanlah pada dirimu, apakah ini sekedar cobaan atau keluhan? Kemudian hadirkanlah di dalam hatimu bahwasanya setiap kesengsaraan akan menjadi cobaan apabila kita terus berjuang di jalan yang diridhai-Nya. Bukan di jalan yang dimurkai-Nya. Bukankah Allah telah menjanjikan jalan keluar kepada hamba-Nya yang bertawakal, bukan hamba yang sok berakal.”

“Ingatlah, selangkah kau mundur, itu bagaikan perahumu sudah berada di tengah laut yang sangat luas. Lalu, bagaimana kau mau mundur? Padahal itu merupakan tindakan yang sungguh tidak pantas. Ingatlah, dalam setiap proses pasti ada hambatannya. Dan dalam setiap hambatan pasti ada prosesnya.”

“Apabila ada orang yang menghinamu karena kekuranganmu, janganlah kau hiraukan. Karena bagi cita-citamu, itu hanya sekedar godaan. Mari cerna lagi, wahai Ahmad, akankah engkau terbawa arus mereka? Atau akankah engkau mengikuti jalanmu?”

Ahmad Zaini pun terharu mendengar motivasi yang sangat mengguncang itu. Tuan Guru melanjutkan, ‘’Maukah engkau menjadi santriku dengan tambahan engkau tak perlu bayar mengingat ayahmu yang tidak mampu?”

Mendengar pernyataan itu, Ahmad Zaini terharu. “Baik, Tuan Guru. Saya siap menjadi santri Tuan Guru,” jawabnya, “Tetapi saya harus kembali dan meminta izin kedua orangtua saya terlebih dahulu.”

Baca JugaMata Air Air Mata (2)

Tuan Guru berkata, “Baiklah, akan tetapi berhati-hatilah karena di luar banyak penjajah berkeliaran.”

Ahmad Zaini menimpali, ‘’Baiklah, Tuan Guru. Terima kasih atas kepedulian Tuan Guru.”

Ia pun pulang. Ketika sampai, orangtuanya bertanya, ‘’Bagaimana, Ahmad, adakah sebuah mutiara kehidupan yang kau dapatkan dari ziarahmu kepada orang alim?”

Ahmad Zaini menatap kedua orangtuanya dan menjelaskan: ‘’Jadi begini, Tuan Guru Abdullah menyemangatiku agar selalu meraih cita-citaku dan agar tidak putus asa dengan rahmat Tuhan Yang Maha Pengasih. Tetapi, ada lanjutannya.’’

Kedua orangtuanya kaget, “Apa gerangan lanjutannya itu?” tanya ayahnya.  

Ahmad Zaini menyatakan, “Saya disuruh untuk belajar kepada beliau, akan tetapi biaya tidak dipungut sama sekali.’

Mendengar itu, kedua orangtuanya langsung merestui dirinya untuk berangkat keesokan paginya. Tetapi ia diperintahkan oleh kedua orangtuanya agar selalu tekun dalam belajar.

‘’Bawalah harum nama Ampenan, nak, meskipun engkau bukan keturunan Tuan Guru,” ujar ayahnya.

Malam pun tiba. Di separoh malam, ia bangun dari tidur kemudian berwudhu dan dilanjutkan dengan salat malam. Dalam doanya ia meminta, ”Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyia-nyiakan waktuku dengan selalu berputus asa dari rahmat-Mu. Aku sering dihina dan sempat tidak bersemangat belajar.”

“Apakah ini yang dinamakan keyakinan yang sirna? Apakah ini yang dinamakan permata yang hilang, wahai Tuhanku – yang tiada Tuhan selain Engkau? Wahai Tuhan pengabul segala doa, tinggikanlah derajat hamba dengan tidak pantang menyerah dalam menuntut ilmu sebagaimana Engkau wariskan kepada seluruh hambaMu yang tidak pantang menyerah dalam belajar. Aminn ya rabb.”

Tanpa banyak berego, Ahmad Zaini pun berangkat menuju pondok pesantren dengan membawa uang saku yang hanya sedikit dan bekal doa kedua orangtuanya. Selain bekal, ia juga memperoleh kekuatan berupa amanah.

Orangtuanya berpesan kepada Ahmad Zaini bahwasanya sebagai penuntut ilmu agama, para santri membawa beberapa amanat yang harus dipenuhi dan tidak boleh dilanggar. Amanat itu  adalah amanah Allah dan rasulNya, amanah kedua orangtua, amanah rakyat, dan amanat diri sendiri. Apabila semua amanah itu dilanggar, maka ia harus bersiap-siap merasakan pahitnya kegagalan.

Pagi, Ahmad Zaini sampai di pondok pesantren. Ketika itu Tuan Guru lagi mengadakan pengajian kitab al-Qowa’idul Asasiyyah fi Ulumil Qur’an yang membahas tentang ilmu-ilmu dasar dalam memahami al-Qur’an. Rupanya kedatangannya telat sehingga ia ketinggalan sebagian dari materi pengajian.

Ketika pengajian berlangsung, Ahmad Zaini tidak bisa memahaminya sama sekali, sehingga ia menanyakan kepada seorang temannya yang umurnya seperantaran. Namanya Ali, santri lama yang berasal dari Padang.

Ali sangat terbuka sifatnya ketika Ahmad Zaini terus menanyainya perihal yang tak ia pahami. Ia sempat berpesan kepada Ahmad Zaini bahwasanya menuntut ilmu itu memang susah. Semua orang harus menjalani proses yang lama dan melelahkan.

Setiap orang dikasih kemampuan yang berbeda dalam pemahaman. Ada yang lama pahamya dan ada juga yang sangat cerdas. Tetapi Allah ingin melihat apakah dengan kita lama paham kita akan menyerah begitu saja? Ataukah dengan kecerdasan kita akan bermalas-malasan karena puas?

Hari demi hari telah terlewatkan dan Ahmad Zaini tidak pernah lagi berputus asa. Ia tahu bahwasanya ridha Allah selalu menemani setiap penuntut ilmu yang mau berjuang. Perasaan putus asa ia lawan.

Tentu saja Ahmad Zaini sudah mengaji kitab Sullamuttaufiq dalam bidang fiqh. Sekarang tingkatannya sudah naik ke Fathul Qarib, Fathul Muin dan lain-lain. Dalam beberapa bulan ia sudah khatam beberapa kitab fiqih yang dipandu oleh Tuan Guru Abdullah Mahsun. Ia tidak hanya mengkhatamkan kitab fiqih, melainkan juga sebagian besar dari kitab Nahwu, TauhidSiyah Nabawi.

Ahmad Zaini sudah mengetahui jika ujian akan digelar. Ia tidak bisa bersantai. Setiap siang bahkan sepanjang malam ia telaah terus kitab-kitabnya. Ia pahami betul semuanya sampai luar kepala. Ketika ujian digelar, ia berpasrah diri kepada Yang Maha Esa.

Dua minggu kemudian, hasil ujiannya pun diumumkan dan ia mendapatkan nilai di atas rata-rata. Karena nilai yang sangat gemilang tersebut, ia akhirnya dipanggil oleh Tuan Guru. Ia diminta mengajar adik-adik kelas yang kajiannya masih terbilang sangat rendah bagi ukuran kalangan yang sudah elit.

Awalnya Ahmad Zaini menolak, “Tuan Guru, saya tidak pantas untuk mrngajar, karena saya masih sebagai tholibul ilma. Saya belum bisa apa-apa.”

Tuan Guru menatap wajahnya dan menimpal balik, ”Wahai Ahmad, sesungguhnya kita semua masih belajar. Aku pun yang sudah dianggap alim di Pulau Lombok ini masih faqir atau tidak memiliki ilmu apa-apa.”

Tuan Guru melanjutkan, “Tidakkah ilmu sangat banyak dan luas bagaikan lautan? Kau harus mengetahui bahwasanya para penuntut ilmu itu lebih dari jutaan. Penuntut ilmu memiliki banyak cobaan. Oleh karena itu, janganlah menganggap ilmu sebagai tawaan atau candaan. Bagi para penuntut ilmu, saya berpesan: berjuanglah dan berkhidmat untuk umat.”

Dari kata kata indah tersebut, Ahmad Zaini berubah pikiran, bahwasanya dalam proses menuntut ilmu dibutuhkan juga mengabdi kepada guru. Karena dengan berjuanglah kita bisa mendapatkan ilmu dan dengan berkhidmadlah kita bisa mendapatkan kebarokahan ilmu. Bukankah sesudah mendapatkan ilmu yang banyak lalu tidak mau berkhidmat itu sama saja dengan berkhianat.

Keluarlah dua tetesan air mata dari masing-masing kelopak matanya. Tak heran mengapa ia sering tersentuh apabila mendengarkan kata yang sangat menyentuh jiwanya. Ia bukan hanya sekedar penuntut ilmu biasa, melainkan juga seorang yang sering berzikir atas kebesaran Allah dan bersholawat atas jasa dan kemuliaan Nabi Muhammad yang telah menjunjung tinggi agama Allah.

Keesokan harinya, ia mulai mengajar adik kelas yang pemahamannya masih terbilang rendah. Tidak hanya mengajar, ia juga mendapatkan pembelajaran khusus dan langsung dari Tuan Guru. Proses ini ia jalani sampai ia dinilai sukses oleh santri lain, bukan ia menilai dirinya sendiri.

Ketika Hari Raya tiba, semua santri pun disuruh pulang oleh Tuan Guru. Hari Raya adalah hari dimana semua santri diwajibkan pulang baik itu santri baru, santri lama yang belum mengajar, dan santri yang sudah mengajar.

Ketika Ahmad Zaini mencium tangan Tuan Guru, beliau berpesan kepadanya untuk selalu mengamalkan ilmu yang telah didapatinya di pondok pesantren. Saran itu diterima oleh Ahmad Zaini dengan perasaan lapang dan menerima.

Walhasil, selama ia berada di rumah, ia selalu mengajar di musholla kecil. Awalnya ia hanya mengajar Iqro’, lama-lama ia juga mengajar Tajwid dan membaca al-Qur’an.

Pada awalnya, ia hanya memiliki 3 murid yang masih setingkat taman kanak-kanak. Lama kelamaan, muridnya pun berambah karena yang ia ajarkan juga makin tinggi. Seperti Nahwu-Shorof, Fiqih, Tarikh, dan banyak lagi.

Orang-orang di Ampenan memandangnya dengan penuh rasa kasih sayang. Meskipun dulunya ia sering diejek dan dihina, kini sebagian besar dari mereka telah menyesal.

Telah usailah liburan dua minggu. Kini, ia harus kembali ke pesantren Tuan Guru Abdullah Mahsun.

Ketika sampai , ia terkejut melihat sebuah jenazah yang sedang dimandikan, kemudian dikafankan. Teman-temannya pun berkumpul melihat jenazah tersebut sambil menangis. Ahmad Zaini jadi bertanya, ’’Ini jenazah siapa? Jawab yang jujur wahai saudaraku.’’

Salah seorang dari mereka meletakkan tangannya ke pundak Ahmad Zaini dan berkata, ’’Kullu nafsin dzaiqotul maut. Tuan Guru kita tercinta, kita sayangi tetapi Allah lah yang lebih sayang.’’

Mendengar itu, Ahmad Zaini menangis. Air matanya bercucuran bagai gerimis. Kemudian ia bertanya, ‘’Apakah kita bisa menemui beliau apabila ajal kita telah dijemput?” Temannya menjawab, ”Pasti bisa. Bahkan kita juga bisa bertemu para nabi dan orang sholih lainnya. Yang harus kita perbanyak adalah ilmu, amal sholih, dan bershalawat atas Nabi Muhammmad.”

Beberapa tahun kemudian berdiri seorang lelaki tua yang sedang mengajar di surau kediamannya di Kota Toea Ampenan. Ia Membidik dengan tongkat, ‘’Lafadz zaid tanpa amil dibaca apa anak-anak?’’ Anak-anak menjawab dengan gembira, ‘’Dibaca rofak, Tuan Guru.’’

Lelaki tersebut terkagum, ’’Benar sekali. Keliatannya ilmu yang saya ajari telah masuk. Saya ada kata kata terakhir sebelum kita mengakhiri taklim pada malam yang sangat mulia ini, wahai murid-muridku….

Wahai anak-anaku, tadi adalah cerita masa laluku. Jadikanlah kisah itu cambuk bagi masa lalumu agar senantiasa tak kaku. Dalam kisahku tadi, ada kalanya aku minder, bersenang, bersedih, bersusah payah.

Ingatlah wahai anak-anakku, apabila kalian sudah memasuki pesantren janganlah bercengeng-cengeng sambil berteriak ‘Ayah! Ayah!’’ Karena jelas, panggilan tersebut tidak berguna bagi kalian. Karena terlalu manja akan merusak impian kalian.’’

Itulah Tuan Guru Ahmad Zaini. Sang alim yang sempat kehilangan semangat sebab permatanya dicuri orang. Tetapi sekarang, permata itu telah ia rebut kembali berkat semangat dan khidmah.[]

Ilustrasi: SindoNews

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *