Mitos Kota

Dua hari ini beranda facebook saya disesaki dengan pesan berantai tentang Yogyakarta (selanjutnya Jogja), yang kira-kira judulnya “Singgahlah ke Jogja Barang Sejenak Orang Kaya dan Pintar, Penampilannya Hampir Sama dengan yang Biasa-Biasa Saja”.

Seperti sebelum-sebelumnya, pesan berantai ini juga tidak jelas siapa yang menulis pertama kali. Jangan tanya soal tata bahasa, namanya juga pesan berantai. Ya, langsung dikirim tanpa melalui seleksi yang jelas. ‘Yang penting bisa dibaca’ begitulah kira-kira.

Sekilas, tulisan itu memang menarik. Orang-orang yang pernah sekadar singgah-tinggal di Jogja bernostalgia lewat tulisan itu. Begitu juga saya, saya sampai membaca berulang kali. Sambil membayangkan suasana senja di Malioboro yang tampak di foto.

Namun, setelah saya pikir-pikir kembali, apa iya Jogja sesederhana pikiran penulis itu. Pun senyaman yang dibayangkan oleh orang-orang yang membaca tulisan tersebut dan belum pernah ke Jogja. Atau, apa benar Jogja seindah foto editan dengan suasana senja di pojok Malioboro itu?

Okey, tanpa berpanjang kata dan njilimet saya ringkaskan inti tulisan itu, yakni tentang kesederhanaan, pendidikan, seniman, dan tentu saja angkringannya. Menurut penulisnya, kesederhanaan dan kesahajaan orang-orang Jogja itu istimewa, di mana orang-orang kaya nan tajir melintir itu selalu bersahaja, tak sungkan menyapa siapa saja.

Baca juga: Menepis Mitos Menjadi Penulis

Sebenarnya, untuk melihat pemandangan di atas, Anda tak perlu ke Jogja. Di kampung sekitar tempat tinggal Anda juga tak sulit menemukan orang-orang kaya yang bersahaja. Apakah dengan begitu, di Jogja tidak ada orang kaya sombong dan songong? Tentu saja ada. Dari followers Qorun yang kaya lagi sombong hingga followers Siti Khadijah yang kaya serta baik hati yang menyumbangkan hartanya untuk Islam, semuanya ada. Begitu juga tempat tinggal Anda sekarang. Tentu saja ada. Jadi kita tak perlu berkecil hati, apalagi harus merengek pergi ke Jogja untuk merasakan hal itu.

Terus orang-orang pintar yang berderet gelar itu? Ya, sama saja. Tentu di Jogja juga ada orang bertitel yang selalu tampil ‘ganas’ dengan menyebut semua gelar pendidikan yang digondolnya. Begitu juga sebaliknya. Nah, di tempat tinggal Anda? Juga pasti ada orang-orang pintar dan bertitel itu yang ‘menyembunyikan’ titel akademiknya. Mereka juga terlihat sungkan jika harus menyebut nama beserta titelnya. Sekali lagi sama saja.

Selanjutnya pendidikan, menurut penulisnya di Jogja itu jangan meremehkan orang yang berpenampilan seperti warga yang ingin ronda, berkupluk yang bisa jadi itu adalah orang-orang yang suntuk menulis untuk jurnal internasional, hingga syarat guru besarnya.

Sebagai manusia yang pernah tinggal di Jogja, jujur saja, saya tidak pernah duduk bersama guru besar di angkringan menikmati nasi kucing, tahu bacem, hingga jahe hangat seperti pada tulisan itu. Bahkan, dengan seorang doktor pun, seingat saya belum pernah. Paling banter, ya dengan sesama mahasiswa pascasarjana yang sedang luntang-lantung dan bergerilya dari satu angkringan ke angkringan lain, untuk menambal perut yang keroncongan di akhir bulan. Tentu saja, kebanyakan saya duduk di angkringan bersama sesama mahasiswa itu, tukang ojek yang menunggu orderan pelanggan, dan para pedagang asongan.

Baca juga: Memimpikan “Mazhab” Baru Studi Islam

Sudah, akui saja, jika Anda memang tidak pernah duduk, makan bersama di angkringan. Untuk kesempatan duduk-duduk bersama guru besarnya, mungkin di angkringan lain atau Anda sudah mengenalnya akrab dan sudah punya janji sebelumnya. Untuk menemukan guru besar di angkringan, itu hal yang ‘mustahil’. Pun jika Anda bertemu, berarti Anda sedang beruntung.

Yang jelas dan harus diakui akses belajar dan pendidikan di Jogja memang mudah. Namun, sekali lagi ini bukan jaminan untuk sukses dan berpenghasilan besar atau bisa dicap bersahaja. Banyak juga yang bersekolah di Jogja yang drop out, mahasiswa gagal hingga guru besar yang merangkap ‘politisi’ juga banyak. Tergantung Anda sendiri menilainya.

Berikutnya seniman-budayawan. Menurut penulisnya kita tidak boleh meremehkan orang-orang berkaos oblong dan memakai sandal jepit, bisa jadi itu seniman yang berpenghasilan besar, di atas rata-rata. Okey, sekali lagi harus diakui bahwa Jogja memang surganya pekerja seni dan pekerja budaya. Dari musisi hingga penyair, dari dramawan sampai artis, dan dari perupa sampai menyasar tukang gambar yang ‘dilarang’ dalam hadis itu. Heheheu. Tapi itu bukan soal, soalnya adalah tidak semua seniman-budayawan itu kaya seperti dalam tulisan itu.

Sebenarnya ini cerita lama yang terselip dari kerasnya persaingan seniman Malioboro, hingga yang tersangkut dari ramainya kendaraan di pertigaan revolusi UIN. Karena Jogja dipenuhi oleh seniman-budayawan, persaingan antarseniman tak bisa dihindarkan. Kalau kata orang Jawa saling slenco. Kondisi demikian, membuat seniman menciptakan kelas-kelasnya sendiri. Ada yang laku, biasa saja sampai yang dibon karyanya juga banyak.

Sudah banyak cerita seniman-budayawan yang mengeluh kekurangan uang, tidak mampu bayar tagihan, hingga “menelantarkan” keluarga –meminjam istilah Butet Kartaredjasa– yang banyak berusaha mengeluarkan seniman dari stigma demikian. Apakah semua seniman-budayawan yang berkaos oblong bersandal jepit itu kaya di atas rata-rata seperti yang dikatakan penulis itu? Tentu Anda tahu sendiri jawabannya.

Yang terakhir, tentang angkringannya. Dari berjuta romansa orang-orang yang pernah tinggal di Jogja, angkringan itu seperti catatan kaki dalam sebuah buku. Singkat, kecil, tapi bisa menjelaskan kata-kata rumit dalam buku. Begitu juga dengan angkringan di Jogja hingga –buku puisi “terakhir” Joko Pinurbo berjudul Sepotong Hati di Angkringan– ini menggambarkan ada hati yang tertinggal di angkringan.

Baca juga: Sosiologi Kopi: Memaknai Ngopi dan Kesetaraan

Bagi saya, angkringan itu dibangun dari kontruksi orang-orang kecil, tentang pekerja yang berangkat di pagi hari, tentang mereka yang berpacu dengan Transjogja, tentang mereka, pecinta teh manis dengan gula batu.

Karena di angkringan kita menemukan suara lain yang lebih jernih dari orang-orang kecil yang kita temui. Ketimbang, mendengar khutbah guru besar di auditorium yang sebenarnya juga tak paham kondisi orang kecil. Tentu, saya mengucapkan selamat  yang jika Anda beruntung untuk menyaksikan rahang guru besar memanah nasi kucing.

So, sebenarnya Jogja itu rumit dan membingungkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *