Wanita dalam Pikiran Muammar Khadafi

Mantan Presiden Libya, Muammar Khadafi merupakan satu dari sekian pemimpin revolusioner yang juga seorang penulis. Selain lewat mimbar, ia juga menyulut api revolusi melalui tulisan-tulisannya. Tentu, selain Soekarno, Hatta, dan Saddam Hussein dari Irak.

Pria kelahiran tahun 1942 ini, menulis begitu bagus sebuah buku –kumpulan artikel- berjudul The Green Book. Jika ditilik lebih jauh, buku ini merupakan manifesto perjuangan seorang Muammar Khadafi. Pandangan-pandangannya soal politik, ekonomi, sosial hingga wanita, Ia tulis dengan jernih dan cukup hati-hati. Selayaknya seorang pemimpin revolusi di sebuah negeri.

Lewat buku itu, seolah Khadafi ingin mengabarkan pada rakyatnya: inilah “GBHN” negara kita yang baru ini. Praktis pascarevolusi, hingga tahun 1975, Khadafi berada di pucuk pimpinan Libya, ide-ide itu ia terapkan. The Green Book menjadi buku ajar wajib di sekolah-sekolah seantero Libya. Mungkin jika disamakan dengan konteks Indonesia, itulah penataran P4 ala Libya.

Baca juga: Kepemimpinan Kolaboratif dalam Rumah tangga: Prinsip Ketahanan Keluarga di Era Pandemi

Dari tulisannya, kita dapat menilai sosok yang dijuluki “si anjing gila” ini: to the point, jelas keberpihakannya, tak mau diatur, sederhana, dan langsung ke inti permasalahan. Laki-laki yang wafat tahun 2011 ini, juga terlihat unik dengan hanya menepati tenda sederhana untuk tempat istirahatnya.

Walau dianggap kontroversi oleh beberapa kalangan – utamanya Amerika dan sekutunya -Khadafi ingin membuktikan bahwa sebuah negeri merdeka, seperti Libya, bisa tampil menjadi negara mandiri, bebas “kepentingan” asing, percaya pada kemampuan dan pikiran sendiri, tak takut melawan arus dunia.

Teori “dependensi dunia ketiga”, yang banyak “mengganggu” negara-negara berkembang tak  membuatnya ciut untuk mengupayakan pikiran-pikirannya sendiri diterapkan di Libya. Dari sisi ini, saya kira, kita harus banyak belajar dari Khadafi. Utamanya untuk menghadapi zaman – radikalisasi modernitas – meminjam istilah Anthony Giddens.

***

Dari puluhan tulisan dalam buku itu, kelihatan sekali Khadafi agak sulit untuk mengungkapkan pikiran-pikirannya soal wanita. Dari buku hijau itu, tulisan terpanjang adalah soal wanita. Dalam tulisannya soal itu, Khadafi sering membuat pengulangan-pengulangan. Sehingga menyebabkan tulisannya tentang tema itu amat panjang. Lebih panjang dari soal politik dan sosialisme yang sering dilekatkan dengannya.

Pandangan Khadafi soal wanita menurut saya agak unik. Di mana, ia bisa tampil menjadi seorang pembela feminisme, tapi di sisi lain, ia juga bisa menjadi seorang penolak utama feminisme dan kemerdekaan hak-hak wanita.

Langkah dua kaki ini mungkin yang membuat banyak kalangan menilai bahwa inilah salah satu bagian dari proyek “sosialisme Khadafi” itu.

Sebagai seorang pembela feminisme, ia mula-mula membedakan secara biologis antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya, secara biologis, perempuan memang berbeda dengan laki-laki, di mana perempuan diberi keistimewaan untuk hamil, menyusui dan menstruasi. Inilah – sifat kodrati – meminjam istilah yang sering dipakai Khadafi untuk menjelaskan hal ini.

Tampak tidak ada yang salah, bahkan Khadafi berani mengatakan bahwa wanita yang melakukan tindakan yang menggangu dan merusak sifat kodrati itu, ia akan menjadi korban pemaksaan dan kediktatoran. Atau singkatnya, hilanglah kemerdekaannya sebagai wanita. Sifat kodrati itu adalah hak yang sudah melekat dengan wanita itu. Tak boleh diganggu gugat.

Baca juga: Akar-Akar Harmonisasi Kemanusiaan di Indonesia

Selain itu, menurut Khadafi, wanita harus mampu bertanggung jawab atas sifat kewanitaannya. Khadafi memberi contoh, bahwa sifat keibuan, peduli dan lemah-lembut itu ialah sifat kewanitaan dari wanita itu sendiri. Atau dalam istilah saya, sebagai “tanggung jawab sosial” seorang wanita karena kewanitaannya.

Khadafi berargumen bahwa membesarkan, merawat, dan memperhatikan tumbuh kembang seorang anak adalah tugas wanita. Di sinilah, menurut saya, Khadafi kurang memperhatikan peranan laki-laki dalam merawat anak. Kasarnya, urusan anak, ia serahkan semuanya kepada wanita. Konsep mubadalah atau kesalingan sebagai bapak-ibu dari anak itu tak diperhatikan oleh Khadafi. Khadafi secara radikal memisahkan dua peranan ini. Dalam tulisannya, terkesan tidak ada jembatan yang menghubungkan antara peran pria dan wanita dalam merawat anak.

Kekeliruan kedua, yang saya lihat dari kontruksi argumen Khadafi ialah usaha untuk mengungkung wanita dengan dalih “tanggung jawab kewanitaannya”. Sikap ini membuat Khadafi jelas-jelas memangkas hak-hak perempuan.

Khadafi menulis “Apabila wanita melakukan pekerjaan fisik seperti bekerja dan tindakan yang membahayakan feminitasnya, tindkan itu merupakan tindakan yang menindas kebebasan wanita itu sendiri.” Jika begitu argumennya, bagaimana wanita memperoleh hak-hak dan kemerdekaannya yang lain, selain merawat anak seperti yang dicontohkan Khadafi?

Jelas, jika merujuk pada kontruksi argumen yang dibangun Khadafi ini, ia hanya ingin menyuruh wanita untuk benar-benar menjadi “wani ditata” dalam istilah masyarakat Jawa itu.

Harus diakui, bahwa usaha untuk menjembatani sifat kodrati wanita dan tanggung jawab kewanitaan adalah sebuah peroyek besar yang sampai hari belum “tuntas” diselesaikan.

Lalu, bagaimana pemikiran Khadafi sebenarnya soal wanita ini. Di samping ia getol memberi kebebasan “kodrat” bagi wanita. Di saat yang sama ia sedang diam-diam “membunuh” wanita. Sekarang, di mana posisi Khadafi? Apakah ini yang dimaksud sebagai “sosialisme Khadafi” itu? Di tengah, abu-abu, dan abstrak.

Dan itulah, ternyata soal wanita lebih rumit dari soal politik dan ekonomi. Bahkan, untuk seorang Muammar Khadafi sendiri, pemimpin revolusi Libya yang akhirnya menjadi korban revolusi “Arab spring”.

Ilustrasi: BBC.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *