Konsep Ekofeminisme dalam Mantra “Inaku Dana, Amaku Langi” (1)

Kita melihat bahwa kehidupan ini amatlah indah di luar. Pun sebenarnya juga amatlah hancur di dalamnya. Dunia dalam perkembangan, kemajuan dan dengan segala kecanggihannya memang selalu dipoles dengan keindahan yang semu, bagai bangunan tua yang terbungkus oleh warna-warni dengan segala pernak-perniknya. Kerlap-kerlip lampu hias sepanjang jalan yang memperindah kota di malam hari dan gedung-gedung tinggi nan megah berdiri kokoh menutupi kekumuhan kehidupan yang teralienasi di belakangnya. Jalan-jalan tol membatasi ratusan kampung yang ada. Belut, keong, ikan, ular, dan binatang-binatang kecil lainnya juga ikut teralienasi oleh beton-beton yang ditancap oleh proyek pembangunan.

Selama ini kita buta dan tuli karena tertutup hasrat buas sisi hewani sebagai manusia. Kehidupan menjadi bias nan beringas karena dunia terlalu banyak dihuni oleh manusia yang buas. Polusi, bencana alam dan semua kerusakan yang terjadi dewasa ini merupakan hasil dari ulah tangan nakal kita sendiri. Itulah neraka. Neraka dari keserakahan kita (manusia). Benih tumbuh tanpa suara, tetapi pohon tumbang dengan suara yang bising. Malapetaka yang mengerikan ini, mungkin tak lama lagi akan datang menghampiri sebagai konsekuensi kosmologis.

Baca juga: Kegenitan dan Gosip Komunal: Duka-Duka Kemanusiaan Kita

Di Indonesia sendiri keadaan hutan di beberapa wilayahnya cukup memprihatinkan. Pohon-pohon rindang berumuran puluhan tahun pun dibabat dengan sangat radikal. Atas nama pembangunan, pohon yang berumur puluhan tahun lamanya tersingkir dan tergantikan oleh beton-beton raksasa yang mengerikan. Selain karena alasan “kebodohan” dan keserakahan, kengerian ini juga dipengaruhi oleh cara pandang yang menganggap bahwa alam dan manusia merupakan dua entitas yang berbeda. Pandangan ini adalah ciri umum babak awal memasuki era modernitas dengan menghilangkan satu bagian terpenting dalam kosmologi.

Pemisahan antara alam dengan manusia tentu membuat manusia bebas mengeksploitasinya—sehingga wajar muncul berbagai macam krisis. Padahal alam dan manusia merupakan satu kesatuan. Mirisnya, aktivitas eksploitasi terhadap alam ini lebih banyak dari kalangan laki-laki, yang seakan-akan mengamini perempuan yang disimbolkan sebagi bumi, sedangkan laki-laki disimbolkan sebagai langit. Bukankah langit dan bumi selalu melengkapi dan memenuhi satu sama lain? Yang setiap musimnya akan membuahi bumi dengan air hujannya, sehingga tumbuh suburlah berbagai tanaman, pohon dan sejenisnya.

Jika memang bumi disimbolkan sebagai ibu, maka betapa durhaka dan durjananya laki-laki yang terlibat dalam aktivitas eksploitasi terhadap alam. Bumi yang disimbolkan sebagai ibu ini adalah kepercayaan umum dalam kepercayaan-kepercayaan lokal tradisional termasuk salah satunya adalah Bima, Indonesia Timur. Dalam kepercayaan masyarakat Bima, sebelum mereka keluar rumah dan menginjakkan kaki ke tanah, biasanya akan melafadzkan mantra;

Inaku dana, Amaku langi” dan kemudian selalu diakhiri dengan kalimat, “Bareka laillaha illalah bareka muhammadarasulullah“.

Secara harfiah, “Inaku dana, Amaku langi” berarti “Ibuku tanah, Bapaku langit“. Sedangkan kalimat terakhir “bareka la illaha illalah bareka muhammad rasulullah” adalah serapan dari bahasa arab dari kata “barakka lailaha Illallah barakka Muhammadarrasulullah” yang bermakna permohonanan dan harapan agar do’a yang dimunajatkan diridai oleh Allah Swt dan Nabi saw. Mantra dan do’a ini dulunya merupakan bacaan wajib bagi masyarakat Bima, ketika mereka hendak melakukan perjalanan jauh; sebaliknya, ketika do’a dan mantra ini tidak dilakukan, maka orang tersebut dianggap durhaka kepada ibu (dana) dan kepada bapak (langi) sehingga dikutuklah ia dan bahkan akan mengalami kejadian yang tidak diinginkan.

Mantra dan do’a “Inaku dana, Amaku langi” menjadi simbol kebudayaan yang cukup kuat dalam masyarakat Bima. Dua kalimat dalam mantra ini juga sangat merepresentasikan konsep kepercayaan dalam “agama bumi” (ard’) dengan “agama langit” (samawi). Karena memang sebelum masyarakat Bima memeluk Islam (peradaban global) kepercayaan terhadap animisme-dinamisme (peradaban lokal) dulunya menjadi pegangan yang sangat kuat bagi masyarakat Bima. Melalui kecenderungan mistisnya, masyarakat Bima menjadikan kepercayaaan lokal animisme-dinamisme (Makakamba-makakimbi) sebagai sebagai medium untuk memahami cara kerja alam. Benturan dari dua konsep “kepercayaan” dalam peradaban global dengan “kepercayaan” dalam peradaban lokal inilah yang kemudian melahirkan mantra “Inaku dana, Amaku langi. Bareka laillaha illalah bareka muhammadarasulullah”.

Jika dilihat, konsep mantra “Inaku dana, Amaku langi” secara tegas menciptakan garis pemisah antara perempuan dan laki-laki. Saya rasa, konstruksi kepercayaan inilah yang juga kemudian mepengaruhi cara pandang—yang menganggap bahwa perempuan harus di bawah laki-laki. Ini tak beda jauh dengan pandangan yang memisahkan antara manusia dengan alam dalam perspektif kosmologi yang biasa digunakan dewasa ini. Ilmu pengetahuan yang seharusnya membebaskan justru di dalamnya banyak ideologi-ideologi yang menindas harkat dan martabat perempuan. Tidak hanya itu, sebagaimana yang akan kita lihat nanti, dalam banyak konsep agama yang ditafsirkan pun juga ikut andil dalam mekonstruksi bibit-bibit patriarki.

Baca juga: Menata Masjid, Merenda Peradaban

Perempuan dinilai sebagai mahluk kedua (the second) dan laki-laki adalah yang utama (the first). Asumsi ini semakin diperkuat dengan adanya contoh dari penciptaan Adam (laki-laki) sebagai manusia pertama, yang kemudian disusul oleh penciptaan Hawa atas permintaan Adam karena merasa kesepian di Syurga. Alasan Adam ini pun terdengar merendahkan perempuan, karena seolah-olah kehadiran Hawa adalah berkat permintaan Adam, yang—jika saja tidak diminta olehnya (Adam) maka perempuan (Hawa) tidak akan pernah ada. Tentu kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan lainya seperti; mengapa Tuhan terlebih dahulu menciptakan laki-laki dan tidak menciptakan perempuan (Hawa) sebagai manusia pertama? Dan mengapa semua nabinya juga laki-laki dan tidak ada satu pun perempuan? Bahkan dikatakan penghuni terbanyak neraka adalah perempuan.

Tak bisa dipungkiri memang, dari sekian banyak pemikiran dan ideologi di dalam tradisi keilmuan lebih banyak lahir dari kerangka pikiran laki-laki, sehingga wajar jika ada banyak konsep yang tidak berpihak pada perempuan—bahkan termasuk tafsiran-tafsiran atas agama itu sendiri. Kemajuan dan segala kecanggihan tehknologi yang sekarang sedang menuju kehancurannya, dan “kekacauan agama” itu sendiri merupakan konsep-konsep dari isi kepala laki-laki— yang di mana dampak dari itu semua ke depannya juga akan ditanggung oleh perempuan.

Kekeringan yang melanda Bima akibat penebangan pohon secara bebas dan lingkungan-lingkungan yang tercemar pada akhirnya selalu menciptakan kesengsaraan tersendiri bagi perempuan-perempuan Bima. Daerah dengan tingkat patriarki yang tinggi, bak neraka yang dibungkus oleh keindahan-keindahan tradisi lokalitasnya, penindasan dan kejahatan yang dinetralkan oleh tradisi, kebudayaan, bahkan agama itu sendiri. Apakah perempuan-perempuan Bima tersebut sadar atas perlakuan yang mereka dapatkan selama ini?

Tentu mereka sadar, namun tak berdaya. Seakan–akan semua kejahatan itu merupakan hal yang biasa, dan telah menjadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mereka hanya bisa menerima kepahitan itu—yang jika mereka bantah, atau keluar dari kebiasan tradisi tersebut akan distigma sebagai perempuan “datupa dambalu” —yang dalam bahasa Bima bermakna “perempuan yang bodoh, pemalas, buruk, dan bahkan dinilai tidak cocok (pantas) untuk dijadikan sebagai seorang istri. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *