Konsep Ekofeminisme dalam Mantra “Inaku Dana, Amaku Langi” (2)

Bapakku Seorang Feminis

Perempuan dalam tradisi ketimuran memang cenderung dinilai dari kecakapan mereka saat berada di dapur. Menjadi istri di Bima, Indonesia Timur, berarti sekaligus menjadi pembantu. Situasi dan keadaan ini telah saya saksikan sejak kecil, khususnya dalam rumah tangga paman dan bibi saya sendiri. Misalnya ketika masuk jam makan pada waktu pagi, atau menjelang sore, biasanya bibi dan anak perempuannya sudah sibuk menyediakan hidangan makanan di dapur, yang—ketika semuanya sudah siap—lalu diantarkannya ke meja makan sang suami (paman) —yang sedari tadi hanya duduk manis menunggu hidangannya datang.

Dulu, ketika saya melihat pemandangan-pemandangan semacam itu adalah kewajaran, karena rata-rata perempuan di Bima melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh bibi saya. Tapi saya bersyukur, pemandangan semacam itu, jarang dan bahkan hampir tak pernah saya jumpai dalam keluarga saya sendiri. Mungkin terdengar sangat tendensius dan berpihak, namun nyatanya memang tidak. Saya bersyukur memiliki bapak, yang—setiap pagi selalu membuatkan kami hidangan untuk bekal ke sekolah.

Baca juga: Konsep Ekofeminisme dalam Mantra “Inaku dana, Amaku langi” (I)

Saya masih ingat, betapa bangganya saya dulu ketika dapat membagikan makanan yang dimasak oleh bapak saya ke teman-teman sekelas. Terkadang saya melebih-lebihkan bahwa bapak saya adalah seorang “chef”. Meskipun kenyataannya benar: ia adalah “juru masak” terbaik bagi keluarga, sosok ibu sekaligus ayah dalam rumah tangganya. Mungkin, kenyataan ini pula yang membuat saya secara tidak langsung telah mendapatkan pendidikan gender—yang dicontohkan langsung oleh kedua orang tua saya di rumah.

Mungkin karena ibu dan bapak saya berprofesi sebagai pedagang. Keduanya sama-sama aktif menjalankan profesinya, sehingga pekerjaan rumah tangga harus dikerjakan secara bersama-sama. Biasanya waktu subuh, ibu bangun terlebih dahulu untuk memasak nasi lalu kemudian mandi. Sedangkan bapak sembari menunggu ibu selesai mandi, ia akan membantu pekerjaan ibu di dapur untuk memasak lauk dan juga sayur. Setelah selesai memasak, barulah ia mandi dan tak lupa kemudian sembahyang.

Melihat mereka seharian berjualan, tentu hati tak tega jika tidak mengurangi beban pekerjaan mereka di rumah. Bisa mencuci pakaian-pakaian kotor mereka adalah kebahagiaan tersendiri yang saya rasakan. Meskipun memiliki saudara perempuan yang sebaya, seperti halnya bapak, saya pun tidak ingin protes terhadap pekerjaan rumah yang saya kerjakan selama ini. Lagi pula, perkara pekerjaan rumah, seperti mencuci piring dan pakaian, menyapu, mengepel, memasak dan lain sebagainya, bukanlah suatu pekerjaan yang harus diwajibkan bagi perempuan.

Perkara menyapu, menata atau bahkan memasak itu sendiri merupakan aktivitas seni. Ini salah satu upaya bagaimana membangun mindset bahwa aktivitas pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan seniman. Ia bukan sekedar pekerjaan yang hanya mengandalkan tenaga fisik, tapi juga mengandalkan kecerdasan imajiner untuk menciptakan keindahan-keindahan dalam penataannya. Saya rasa, mindset ini sangat penting untuk ditanamkan pada anak sejak kecil (khususnya laki-laki) untuk merubah pandangan tentang perkara rumah tangga dari “aktivitas pekerjaan” menjadi “aktivitas kesenian”.

Dalam dunia anak, istilah “pekerjaan” terdengar melelahkan dan membosankan. Dunia anak adalah dunia bermain, dan dalam aktivitas bermainya itu pula merupakan wahana belajar bagi si anak dalam memahami apa saja yang ada di sekitarnya. Anak-anak adalah seniman sejati, karena pada saat mereka bermain lebih mengandalkan otak seni daripada otak logika. Demikian halnya segala aktivitas rumah tangga juga merupakan wahana kesenian, karena selalu berkaitan dengan penataan dan keindahan.

Jika kembali ke kasus bapak saya di atas, saya yakin tentang apa yang ia lakukan, itu tidak berdasarkan pada referensi-referensi kajian gender dan feminis yang ia dapatkan dari nama-nama besar seorang tokoh dan ilmuwan hebat di luaran sana. Juga, apa yang ia lakukan tidak serumit dan se-ngejelimet penjelasan tulisan ini, atau beberapa konsep yang ada di buku-buku sekolahan itu. Ia juga tidak harus sekolah tinggi-tinggi untuk memahami bagaimana harus bersikap dan memperlakukan manusia yang bernama perempuan.

Saya yakin, bahwa untuk melakukan itu semua, modal bapak saya hanyalah kesadarannya. Lebih-lebih sadar akan dirinya sebagai manusia dan bagaimana cara memanusiakan manusia. Tentu dengan sedikit dorongan cinta, sehingga ia bisa melakukannya.

Perempuan Tangguh itu Bibiku

Dua keadaan rumah tangga yang sangat berlawanan. Lambat laun dan setelah semakin tumbuh dewasa barulah saya sadar atas kejanggalan-kejanggalan ini. Ketika saya melihat keadaan itu sekarang, muncul rasa “muak” dan “geram”. Terkadang juga saya menyinggung bibiku dengan kalimat yang provokatif atau menyampaikan kisah-kisah peluh dan ketidakadilan yang dialami manusia yang bernama perempuan kepadanya. Saya masih ingat, kisah yang saya ceritakan kepadanya adalah tentang seorang anak kecil laki-laki yang setiap hari disunggih oleh Ibunya bersama tumpukan sayur dalam keranjang.

“Suatu ketika seorang anak bertanya pada ayahnya; “apa arti seorang pria? Ayahnya menjawab, “ia adalah orang yang kuat yang bertanggung jawab atas anak-anaknya, mengurus mereka dan bergerak untuk kenyamanan mereka.” Kemudian anak itu berkata, “aku berharap aku bisa menjadi pria seperti ibuku”.

Baca juga: Wanita dalam Pikiran Muammar Khadafi

Dialog antara anak dan ayah di atas sangat menggambarkan ketangguhan sosok perempuan yang bernama ibu. Manusia yang tak terbiasa mengeluarkan keluh. Mereka lebih memilih berpeluh, sebab hanya dengan cara itu, mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup. Keringat mereka adalah api dan dari keringat itu pula asap dapur bisa tetap terjaga. Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari rahimnya, tetapi juga menyusui laki-laki (suami). Menyusui hidup itu sendiri, (Oka Rusmini, 2004: 31).

Demikian halnya  bibiku atau perempuan lainnya di luar sana, adalah manusia yang tangguh. Selain sebagai ibu rumah tangga, bibiku juga sebagai kepala sekolah dan mengetuai sejumlah organisasi yang ia ikuti. Ia adalah pemimpin sejati dalam arti yang sebenarnya. Sedangkan suaminya menurutku adalah mahluk lemah yang bernama laki-laki. Sosok pemimpin dari hasil percongkolan tradisi patriakal agama yang sama sekali tidak pantas memimpin keluarga.

Laki-laki, karena direkomendasi dan mendapat legitimasi dari agama, jadilah ia kepala rumah tangga yang memiliki kuasa penuh atas keluarganya. Padahal mereka adalah mahluk lemah, yang hanya bisa merengek kesakitan ketika dihadapkan dengan sakit yang menimpannya. Lihatlah bagaimana lemahnya mereka ketika tak ada sosok perempuan di sampingnya, dan sebaliknya ketika mereka dalam keadaan sehat, maka berubahlah ia menjadi sosok yang sok berwibawa dengan segala peraturan dan intimidasi kuasanya. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *