Puisi Bukan Sekadar Kata-Kata

Puisi tak sekadar teks dan kumpulan pilihan kata. Bila padanya diberi konteks, puisi dapat bertransformasi menjadi “senjata” tak lagi sekedar kata. Jika saja teks dan konteks diberi imaji dan spritualitas, puisi dapat diubah menjadi spirit perubahan, perlawanan, pergerakan, romantisme, meditasi, dan introspeksi diri. Puisi juga mengajak kita untuk menertawakan diri kita sendiri terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita tanpa ada saling menyakiti sebab kita dapat tertawa bersama-sama dengan kata-kata.


Tatkala kondisi bangsa hari ini nurani tertutup oleh buih keserakahan dan dahaga kekuasaan maka yang dipikirkan hanyalah bagaimana merebut kekuasaan baik politik maupun ekonomi, dengan menghalalkan segala cara. Kira-kira situasi inilah yang terjadi di republik ini. Tindakan koruptif telah menjelma menjadi bagian dari proses politik untuk menyangga kekuasaan. Para sastrawan mencoba mencari ruang melalui kata-kata untuk memberikan sebuah ekspresi terhadap kondisi republik ini. Sebut saja puisi Gus Mus “Negeri Hahahihi” dan puisi Dr. Juwaidin, M.Pd “Sajak Angan-Angan” dengan imajinya dia menggambarkan kondisi republik ini.
***

Negeri Haha Hihi

Bukan karena banyaknya grup lawak,

maka negeriku selalu kocak

Justru grup – grup lawak hanya mengganggu

dan banyak yang bikin muak

Negeriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut

Banyak yang terus pamer kebodohan

dengan keangkuhan yang menggelikan

Banyak yang terus pamer keberanian

dengan kebodohan yang mengharukan

Banyak yang terus pamer kekerdilan

dengan teriakan yang memilukan

Banyak yang terus pamer kepengecutan

dengan lagak yang memuakkan. Ha ha …

Penegak keadilan jalannya miring

Penuntut keadilan kepalanya pusing

Hakim main mata dengan maling

Wakil rakyat baunya pesing. Hi hi …

Kalian jual janji – janji

untuk menebus kepentingan sendiri

Kalian hafal pepatah-petitih

untuk mengelabui mereka yang tertindih

Pepatah petitih, ha ha …

Anjing menggonggong kafilah berlalu,

Sambil menggonggong kalian terus berlalu

Ha ha, hi hi …

Ada udang dibalik batu,

Otaknya udang kepalanya batu

Ha ha, hi hi

Sekali dayung dua pulau terlampaui

Sekali untung dua pulau terbeli

Ha ha, hi hi

Gajah mati meninggalkan gading

Harimau mati meninggalkan belang

kalian mati meninggalkan hutang

Ha ha, hi hi

Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri,

Lebih baik yuk hujan – hujanan caci maki.

Ha ha, hi hi

***
Sajak di Angan-Angan

Desa maju mandiri, di angan-angan;

Petani kaya, di angan-angan;

Nelayan makmur, di angan-angan;

Buruh sejahtera , di angan-angan;

Peternak mapan, di angan-angan;

Pengojek tak melarat, di angan-angan;

Sopir tak miskin, di angan-angan;

Pedagang bakulan di bantu, di angan-angan;

Pengemis-pengamen diberdayakan, di angan-angan; 

Hidup damai tanpa konflik, di angan-angan;

Pupremasi hukum, di angan-angan;

Daerah maju, di angan-angan;

Rakyat sejahtera, di angan-angan;

Ekonomi kuat, di angan-angan;

Lapangan kerja melimpah, di angan-angan;

Pengangguran berkurang, di angan-angan;

Penduduk miskin terhapus, di angan-angan;

Orang tua jompo terurus, di angan-angan;

Anak_anak terlantar bersekolah, di angan-angan;

Pendidikan gratis, di angan-angan;

Generasi bebas narkoba, di angan-angan;

Sekolah-sekolah sehat, di angan-angan;

Mutu pendidikan membaik, di angan-angan;

Guru-guru cerdas, di angan-angan;

Pendidikan keluarga hebat, di angan-angan;

Masyarakat terdidik, di angan-angan;

Lembaga agama yang kokoh, di angan-angan;

Remaja masjid yang eksis, di angan-angan;

Pemuda kreatif, di angan-angan;

Majelis taklim yang produktif, di angan-angan;

Orang tua panutan, di angan-angan;

Pejabat tanpa korup, di angan-angan;

Bebas pungli, di angan-angan;

Pengusaha jujur, di angan-angan;

Proyek ramah lingkungan, di angan-angan;

Masyarakat bebas penyakit, di angan-angan;

Para media profesional, di angan-angan;

Sarana kesehatan memadai, di angan-angan;

Cintamu tulus, di angan-angan;

tiada dusta antara kita, di angan-angan;

Elite counter social menggugat, di angan-angan;

Hhmmmm,,  kita bangkit, kita satu, kita maju, kita hebat, 

di angan-angan “””
***

Puisi di atas dengan imajinya memberikan sebuah pembelajaran bagi kita. Kehidupan berbangsa-bernegara kita hari ini terlampau pengap oleh mentalitas kaum perampok. Mentalitas yang meninggalkan nurani dan akal sehat, demi beroleh pundi-pundi kekayaan. Tata aturan berbangsa-bernegara yang bersumber dari konstitusi dan seperangkat undang-undang lainnya, dikangkangi demi mengejar kemapanan serta kenyamanan hidup. Meski harus menyisakan barisan panjang penderitaan, penindasan dan ketidakadilan.

Agama tak lagi ditoleh, ketika mata hanya tertuju pada kemewahan hidup yang seringkali mewariskan kemelaratan pada generasi kedepan. Kepengapan situasi semacam itulah yang coba didobrak oleh para penyair dan penulis melalui puisi-puisi mereka. Ruang-ruang itu mereka sajikan dalam bentuk pentas budaya-seni, seminar, workshop, diskusi, perlombaan, komunitas-komunitas seni, dan sebagainya. Mereka mencoba bertahan di ruang-ruang itu atas nama seni dan idealisme.

Baca juga: Puisi-puisiku di Pesantren

Betul bahwa puisi atau karya sastra lainnya tidak secara otomatis, berjangka waktu pendek, ataupun spontan, akan mampu mewujudkan sebuah perubahan. Namun, sebagai anak kandung kebudayaan, puisi atau karya sastra lainnya mempunyai tempat dan tugas tersendiri dalam mendesakkan perubahan. Dengannya, realitas yang korup, penuh ketimpangan serta ketidakadilan, dipertajam melalui kreativitas kata-kata yang menggoyang kesadaran rakyat sekaligus juga menampar kebebalan penguasa. Sejarah telah mencatat, penguasa yang korup dan otoriter teramat takut dengan puisi para penyair dan sastrawan yang kritis.

Para sastrawan dan penyair pada khususnya di Kabupaten Bima dan Kota Bima Nusa Tenggara Barat tetaplah selalu melahirkan karya-karyanya sebagai bentuk tanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual menghasilkan karya-karyanya untuk republik ini. Sesungguhnya bukanlah jerih payah yang terakhir dan paripurna dalam usaha menghadirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Bagaimanapun, republik ini, membutuhkan nafas panjang kontribusi kita semua.

Ilustrasi: Tempo.id (lukisan Goenawan Mohamad)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *