Konsep Ekofeminisme dalam Mantra “Inaku Dana, Amaku Langi” (3)

Kerusakan Ekologis dan Kesengsaraan Perempuan Bima: Sampah Individu atau “Sampah Masyarakat”?

Sejauh ini kita telah menyaksikan dampak-dampak ekologis dari strategi mengejar pembangunan bagi negara-negara berkembang. Gerakan ekologi yang menjadi bagian terbesar dari gerakan perempuan kemudian melahirkan apa yang kita kenal sekarang sebagai konsep ekofeminisme. Dalam ketertindasan mereka, kaum feminis mengajukan pernyataan sikap dengan tegas:

“Kami tidak bertanggung jawab atas kemajuan teknologi yang menuju kehancuran ini. Sedikit pun kami tidak menghendakinya. Biarkan para laki-laki itu, atau kaum pembela patriarki yang sangat antusias terhadap teknologi ini, yang seharusnya bertanggung jawab terhadap pembersihan ruang dari segala kotoran yang diakibatkannya. Kami muak dengan dunia kerja ibu rumah tangga.” (Vandana Shiva & Maria Mies, 2005: 103).

Jika dikaitkan pernyataan kaum feminis dengan konteks budaya patriarki ke-Bima-an, maka akan ada banyak persoalan-persoalan keperempuanan di Bima yang bisa diangkat. Salah satunya adalah beban sampah rumah tangga ketika masyarakat Bima mengadakan tahlilan. Dalam  tradisi dan kebudayaan masyarakat Bima, tahlilan tidak hanya dilakukan saat ketika ada yang meninggal dunia, tapi juga dilakukan dalam acara khitanan dan pernikahan.

Dari ketiga acara tersebut, segala kebutuhan yang berkaitan dengan konsumsi, penataan ruang, hingga kebersihan semua dibebankan pada ibu-ibu. Sedangkan bapak-bapak hanya duduk bersenang ria sambil mengobrol dan tertawa terbahak-bahak. Laki-laki hanya tinggal datang dan duduk manis sembari disuguhi berbagai macam hidangan makanan dan minuman oleh perempuan. Bahkan tidak jarang ibu-ibu dibentak karena telat mengeluarkan hidangan meskipun dibentak secara guyon.

Persoalan lain yang selalu menimpa daerah Bima setiap tahunnya adalah kekeringan yang diakibatkan oleh penebangan pohon yang di luar batas kewajaran. Di beberapa desa di Bima, banyak masyarakatnya yang menjadi pengusaha penjual kayu konstruksi bangunan. Kayu-kayu tersebut ada yang didapat secara ilegal maupun melalui izin sewajarnya. Gunung-gunung yang dulunya dihijauhi oleh pohon-pohon rindang kini nampak gersang dan gundul. Hasilnya adalah kerusakan ekologis yang mengerikan.

Kekeringan yang melanda Bima secara tidak langsung akan menambah beban pekerjaan bagi perempuan. Ibu-ibu di beberapa kampung di Bima terpaksa harus menimba air di sumur dan memikulnya berember-ember. Air tersebut tidak hanya untuk kebutuhan memasak tapi juga kebutuhan mandi untuk anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Keadaan ini sangat memprihatinkan dan bahkan sulit untuk dibayangkan.

Keterjebakan kesengsaraan yang berlangsung sejak lama ini, seakan-akan apa yang dikerjakan oleh perempuan merupakan kewajiban sebagai seorang istri, yang—padahal sebenarnya merupakan kejahatan yang dibaluti oleh tradisi dan ajaran keagamaan yang tidak berpihak sama sekali pada manusia yang bernama perempuan. Akibat dari dampak kekeringan yang melanda Bima, tentu saja memaksakan sebagian besar ibu-ibu di sana memilih menjadi tenaga kerja di luar negeri demi memenuhi kebutuhan keluarga dan masa depan sang anak.

Anak-anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar terpaksa ditinggal dan dibesarkan oleh seorang bapak yang sebagian besarnya tak cakap dalam mendidik, apalagi mengurus dapur dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lainnya. Sehingga yang menjadi korban selanjutnya adalah si anak, sedangkan si bapak lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkumpul dan bersenang ria dengan teman-teman di luaran sana. Sehingga anak-anak mereka yang sedang bertumbuh menuju masa keremajaannya kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang sebagaimana mestinya.

Akibatnya, banyak dari anak-anak yang ditinggal ini ke depannya cenderung menjadi pribadi yang “nakal”. Sehingga pada puncak pergaulannya mengantarkan mereka pada sesuatu keadaan yang tak pernah dibayangkan dan diharapkan. Sedangkan sang ibu yang sedang menjadi TKW di luar negeri kemudian tiba-tiba mendapati kabar bahwa putranya telah meninggal dipukuli warga karena mencuri—atau kabar tentang putrinya yang hamil di luar nikah.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu yang sudah bersusah payah banting tulang untuk masa depan putra dan putrinya kemudian harus menanggung kepahitan hidup— yang tak satu pun wanita di luaran sana ingin merasakannya juga. Perasaan ibu yang sejak awal keberangkatannya—telah membawa segenggam harapan masa depan yang cerah bagi anak-anaknya. Paling tidak, sepulangnya nanti sang ibu dapat melihat anak-anaknya mendapat gelar sarjana tertentu.

Baca juga: Konsep Ekofeminisme dalam Mantra “Inaku dana, Amaku langi” (1)

Tapi kenyataanya tidak seperti apa yang diharapkan. Derita perempuan di Bima, Indonesia Timur dengan segala tradisi patriakal-nya. Mereka tidak hanya dibebankan dengan sampah-sampah rumah tangga, namun juga menanggung aib dan rasa malu dari stigma negatif yang dilekatkan pada anak-anaknya sebagai “sampah masyarakat”. Seorang ibu dengan perasaan yang selalu dihantui oleh kekhawatiran dan ingin segera pulang ke kampung negara asal, namun  dicegat dan tidak diberi izin oleh majikan karena kontrak kerja yang mengikat.

Kita bahkan tak pernah tahu, seperti apa bentuk perlakuan yang pernah dialami oleh seorang ibu selama mereka menjadi pembantu di luar sana. Tak jarang kabar yang beredar tentang mereka yang mendapat perlakuan tidak senonoh; dicaci, dibentak bahkan mungkin dilecehkan oleh seorang majikan yang dibesarkan di daerah yang tandus. Daerah gurun Timur Tengah, Arab. Daerah di mana rata-rata penduduk laki-lakinya yang terkenal dengan tingkat libido seksualitas yang bar-bar. Kita tak pernah tahu. Yang kita tahu bahwa ketika mereka pulang, beberapa dari mereka tidak pulang dengan seorang diri namun bersama bayi dengan peranakan Arab.

Kepulangan yang diidam-idamkannya selama ini ternyata menimbulkan masalah baru, yang—tentu saja ketika anak itu tumbuh besar dan masuk sekolah akan dibuli oleh teman-teman sebayanya, yang— di mana anak-anak pembuli ini telah terbiasa mendengarkan gosip murahan yang dituturkan oleh orang tua mereka tentang aib dan keburukan orang lain. Kita tak pernah tahu kapan penderitaan manusia yang bernama perempuan ini akan segera berakhir.

Kita juga tak pernah tahu, kapanmanusia yang memiliki payudara dan dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, serta menyusui ini dilekatkan dengan istilah “perempuan”. Istilah yang menurut saya telah membebani bagi yang menyandangnya. Istilah ini seperti telah terjamah, hina, kotor dan bahkan membahayakan. Jika “perempuan” adalah istilah, berarti ia tak lebih dari sekedar objek yang dibadankan. Maka, istilah “perempuan” ini juga berpotensi untuk dilekatkan kepada manusia yang bejenis kelamin laki-laki.

 Demikianlah bagaimana manusia yang “bernama” perempuan dibungkus dan dicitrakan; dikonstruksi oleh agama, budaya, tradisi serta dicerca oleh keadaan. Menjadi perempuan berarti sekaligus menanggung beban yang sama sekali tak diinginkan. Saya rasa,untuk menciptakan relasi yang sehat antara manusia yang benama laki-laki dengan manusia yang bernama perempuan ini harus kembali kepada konsep dan nilai kemanusiaan—dengan cara, membuang segala bentuk pelabelan, istilah, nama dan hal-hal yang bersifat objek lainnya.

Di saat perempuan sadar akan ke-perempuanan-nya, dan laki-laki sadar akan ke-lelakian-nya, maka saat itu juga lahirnya relasi kuasa yang tak sehat. Sebab, kedua istilah ini telah ditebali oleh lumpur-lumpur objektif. Lumpur yang selama ini menghalangi mata manusia yang dangkal untuk melihat sisi kemanusiaan dari kedua bela pihak.    

Inaku dana yang Terjamah

Inaku dana manangi onga sasero

(Ibuku tanah menangis menongak senduh)

Amaku langi ma dodo sa awa

(Ibuku tanah menangis menongak senduh)

Liro di langi na wa’u ra pana ka ha

(Matarahari di langit telah panas nan membara)

Doro ra dembi na wa’u ra  haka sambura

(Gunung dan bukit pun telah pecah nan hancur berserakan)

Kiri maimu e

(bermaknah penyerahan, harapan dan juga kekecewaan mendalam)

So’o ra leli

(bermaknah telah hancur berdebuh)

Inaku dana telah terjamah. Kesucian yang terjaga leluhur sejak lama kini gundul tak tersisa. Menggunduli berarti “menelanjangi.” Keserakahan yang pada akhirnya melahirkan krisis ini akan sangat berdampak bagi masa depan anak dan cucu-cucu kita yang akan datang. Hasrat “setan” yang menjamah inaku dana, proyek-proyek penggerus terus berdatangan bersama dengan wajah-wajah beringas laki-laki yang terlibat dalam aktivitas eksploitasi. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa di mana pun proyek-proyek pembangunan itu dijalankan, pembangunan akan merampas lahan dan memutus ikatan batin antara masyarakat dan tanah, (Vandana Shiva & Maria Mies, 2005).

Baca juga: Konsep Ekofeminisme dalam Mantra Inaku Dana, Amaku Langi (2)

Penyakit batin inilah yang dialami oleh sebagian besar masyarakat Bima. Tak ada lagi keintiman antara masyarakat Bima dengan hutan-hutanya, dengan anginya dan udara serta alamnya—yang selama ini memberi mereka kehidupan. Udara yang segar, mata air yang jernih dan pemandangan yang menyejukan hati. Yang nampak justru sebaliknya, yakni kegersangan dari keberingasan dan keserakahan yang tak ada habisnya. Begitulah manusia. Padahal tanah tidak semata-mata kepemilikan jasmani seperti dalam pandangan sains modern, yang—dengan serampangan memisahkan antara manusia dan alam.

Tanah adalah sumber dari segala-galanya. Sosok ibu yang merangkul dan memberikan kenyaman, tidak hanya secara jasmani tapi juga secara rohani. Ia adalah penyanggah yang kuat bagi segala sumber energi yang dibutuhkan oleh semua mahluk yang ada di dalamnya. Salah seorang suku Amborigin Australia mengatakan;

“..tanahku adalah tulang punggungku. Tanahku adalah segala-galanya.” (Vandana Shiva & Maria Mies, 2005).

Inaku dana dan masyarakat Bima adalah interkoneksi yang intim karena masyarakatnya adalah mayoritas petani, bahkan identitas agama dan budaya berasal dari tanah, sebagai ruh bagi masyarakat dan bukan semata-mata sebagai “faktor produksi” belaka. Inaku dana seharusnya rumah spiritual bagi kebudayaan masyarakat Bima. Sebab ia adalah rahim—yang bukan saja hanya meproduksi kehidupan biologis, tetapi juga kehidupan kultural dan spiritual masyarakat Bima. Oleh karenanya Inaku dana melambangkan seluruh kelangsungan hidup masyarakat Bima sekaligus merupakan “rumah” dalam pengertian yang paling dalam.

Bendungan, tambang, bangunan-bangunan kokoh merupakan candi (pusat pemujaan) agama baru yang dinamakan pembangunan; sebuah “agama” yang memberikan rasionalitas bagi pemodernisasian negara, birokrasi dan teknokrasinya. Pembangunan telah menodai hal-hal suci lainnya, (Vandana Shiva & Maria Mies, 2005). Seperti terjamahnya kesucian Inaku dana sebagai rahim kehidupan bagi masyarakat Bima. Bahkan masyarakat Bima di beberapa wilayah Selatan lebih tercengang menyaksikan kemegahan bendungan “Dam Pela Parado” daripada menangisi gunung-gunung yang telah gundul di belakangnya. Padahal wilayah pedalaman dalam desa-desa menjadi bagian penting dalam pelestarian ekologi karena rata-rata dari mereka adalah petani.

Petani adalah orang-orang yang dikenal memiliki keyakinan yang baik, orang yang bermoral tinggi dan memiliki cinta yang luar biasa terhadap alam. Tetapi apa yang dilakukan oleh masyarakat Bima terhadap Inaku dana justru sebaliknya yakni eksploitasi tanpa adanya rasa belas kasih. Sungguh kedurhakaan yang dilakukan secara berjamaah. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *