Pengalaman Berbuka Puasa di Gereja

SEHARI setelah perayaan hari raya Paskah. Aku mendapatkan undangan buka puasa bersama teman-teman Kristiani  di sebuah Gereja Katholik. Berbuka dan makan bersama dengan teman-teman yang berbeda agama/iman sudah cukup sering aku lakukan, namun berbuka di gereja ini untuk kali pertamanya.

Saat itu, tiga jam menjelang waktu berbuka, aku mendapatkan notif chat dari salah satu bestie aku yang merupakan seorang aktivis dan pegiat lintas iman, isi pesannya kurang lebih seperti ini, “ Beb, ayo bukber sama teman-teman Kristiani”. Aku pun membalas dengan santai “Ayok, boleh”. “Okey, aku jemput ya” balasnya. Setelah si Do’i sampai di depan kosku, aku pun bertanya “ Tempatnya di mana?” “Di Gereja dekat Janti  (DI Yogyakarta)” jawabnya.

Aku tidak terlalu kaget, dan sesampai di sana juga langsung berbaur dan mengobrol asyik dengan teman-teman Kristiani dan teman-teman muslim lain yang hadir sambil menunggu waktu berbuka. Kami mengobrolkan hal-hal terkait dengan puasa dalam Islam, istilah sahur, tarawih, suara selawat menjelang waktu berbuka, sharing tentang  puasanya umat Kristiani dan hal-hal random lainnya, yang pasti tidak ada kecurigaan dan sikap sinis karena perbedaan di antara kami.

Baca juga: Moderasi Beragama dalam Kearifan Dou Mbojo

Masuk ke gereja dan makan makanan dari gereja, masih menjadi hal yang sangat tabu bahkan sebagian muslim mengharamkannya. Karena dalam pikiran mereka makanan di gereja semuanya terbuat dari babi atau anjing, piring atau alat makannya bekas dijilat sama anjing dan berbagai prasangka-prasangka negatif lainnya.

Saat awal-awal puasa aku pernah memosting di Whats App Story, aku sedang berbuka dengan takjil pemberian dari teman Kristiani, lalu kemudian story tersebut dikomentari oleh beberapa kolegaku, mereka mengklaim bahwa makanan yang aku makan besar kemungkinannya haram, terbuat dari babi.

Padahal yang aku makan adalah takjil yang tidak mungkin dibuat dari daging B1 ataupun B2, dan mereka tidak tahu bagaimana mahalnya daging B2, daging B2 bahkan lebih mahal dari daging ssapi yang hanya bisa kita nikmati sekali setahun, heheuheu. B2 hanya bisa dinikmati oleh mereka pada event atau perayaan tertentu, apalagi dengan sukarela membagikannya. Hanya kaum elit yang mampu menikmatinya setiap hari. Mahal euyi.

Kendati lumayan sering berjumpa dan berdialog dengan teman-teman yang berbeda keyakinan, saat aku tengah menikmati daging rawon yang disuguhi oleh para suster. Sontak aku ragu ketika mendegarkan cerita dari seorang romo bahwasannya sehari sebelum acara itu, mereka melangsungkan acara makan-makan dengan orang dalam paroki, dan makanannya adalah daging B1 dan B2, karena usai merayakan hari raya Paskah.

Aku tidak meragukan kehalalan dari daging rawon yang sangat aku nikmati tersebut, melainkan aku ragu terhadap alat makan yang digunakan. Namun, setelah mendapatkan penjelasan dari salah seorang teman bahwa tempat makan untuk makanan yang halal dan haram bagi teman-teman muslim dipisahkan. Aku lega, dan kembali meneruskan makanku. Secara ya, makanan di gereja enak-enak banget, wkwkwk. Sebenarnya, walau alat makannya tidak dipisah, mereka tentu sudah mencucinya dengan sangat bersih.

Baca juga: Menyapa Mereka yang Berbeda: Perjuangan Mengakhiri Prasangka

Namun, yang ingin aku sampaikan di sini bukan persoalan makanannya yang enak ya, tetapi bagaimana aku melihat sebuah toleransi yang otentik yang diterapkan di dalam kehidupan di gereja. Toleransi yang otentik ialah toleransi yang bukan sekadar menghargai dan tidak mengganggu yang berbeda. Toleransi yang otentik adalah willingness (keinginan untuk menerima perbedaan), keinginan untuk hidup bersama, hidup berdampingan, melakukan hubungan timbal balik, berjumpa, berdialog, dan berusaha untuk mengenal dan memahami perbedaan, serta saling tolong-menolong.

konflik yang mengatasnamakan agama kerap kali terjadi karena ketidakpahaman terhadap agama atau disulut pemahaman keagamaan yang berbeda. Mengenal dan mempelajari agama dan pemahaman keagamaan yang berbeda tidak lantas menjadikan kita sama seperti mereka, membuat iman kita lemah. Jelas, langkah ini menjadi solusi untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan damai, menambah wawasan keagamaan kita dan tentu memperkokoh iman kita sendiri.

Saat waktu berbuka tiba, sang Romo dan juga teman-teman Kristiani dengan semangat dan sangat ramah mempersilakan kami untuk segera membatalkan puasa, lalu dengan santai Romo menawarkan kita untuk makan atau salat Magrib terlebih dahulu, namun karena kami adalah golongan orang-orang yang tidak ingin salatnya kurang khusyuk karena memikirkan makanan, alhasil kami memilih untuk makan terlebih dahulu.

Selepas makan, sang Romo dengan sigap mengingatkan kami untuk salat ketika masuk waktu Isya. Kalau saja Romo dan teman-teman Kristiani-ku itu ‘buta huruf’ terhadap agama Islam, mereka tidak akan menyiapkan tempat ibadah untuk kami, dan mengingatkan kami untuk salat tepat pada waktunya. Toleransi yang otentik dapat terwujud ketika kedua belah pihak yang berbeda sudah saling mengenal dan memahami.

Melalui pengalaman ini, aku bisa mengatakan bahwa prasangka negatif dan ketakutan yang dikhawatirkan orang-orang selama ini sangatlah tidak mendasar. Bagaimana orang-orang takut di Kristenkan, dibujuk untuk memakan makanan haram, dan sebagainya. Padahal untuk bisa masuk dan menjadi penganut agama Katholik bukanlah perkara yang mudah. Persyaratan dan hal-hal yang harus dilalui sangatlah banyak dan sulit.

Berbuka bersama teman-teman Kristiani dan di gereja menjadi perjumpaan yang masih mahal di negara kita yang  majemuk ini. Kementerian Agama pun sedang gencar-gencarnya mengampanyekan “Moderasi Beragama”,  namun dengan hadirnya konsep “Moderasi Beragama” ala Kementerian Agama pun tidak lantas langsung mengubah mindset masyarakatnya yang sudah terlanjur anti terhadap perbedaan.

Baca juga: Homo Sacer: Moderasi Beragama, Apakah Masih Idealis dan Realistis?

Mungkin karena istilah yang digunakan terlalu sulit diterima dan dipahami oleh masyarakat awam. Perjumpaan, dialog dan literasi keberagamaan semestinya harus dimasifkan terlebih dahulu, baru kemudian masyarakat mampu memahami ajaran agamanya dengan kacamata moderat.

Melalui momentum Ramadan kali ini, mengutip ceramahnya Prof Dr Haedar Nashir “Puasa niscaya ditransformasikan sebagai energi rohaniah yang otentik untuk pencerahan spiritual umat dan bangsa. Apalagi di tengah kehidupan bersama yang seringkali terjadi paradoks, baik dalam praktik kehidupan beragama maupun di ranah publik, yang perlu kehadiran spiritualitas luhur keagamaan”. Selain untuk meningkatkan kesalehan diri, puasa semestinya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesalehan sosial, sebagai sumber perdamaian dan membentuk solidaritas sosial.[]

Ilustrasi: Kompasiana.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.