Wangsyah

Mahasiswa Studi Agama-agama, Eksponen Kalikuma Mataram: Penyuka Musik dan Buku

Sosiologi Kopi: Memaknai Ngopi dan Kesetaraan

TULISAN ini pada dasarnya terilhami dari pertanyaan salah satu mahasiswa sosiologi agama akhir semester. Dalam suasana tenang mahasiswa itu bertanya,”kira-kira judul riset untuk skripsi yang bagus buat saya menurut abang, apa bang?” Tanya nya!Karena berhubung malam itu kami sedang duduk di salah satu kedai kopi, yeah sudah muncul lah ide untuk membincangi fenomena ngopi dengan …

Sosiologi Kopi: Memaknai Ngopi dan Kesetaraan Selengkapnya »

Pancasila Sebagai Civil Religious: Paradigma Alternatif Menuju Indonesia Harmoni

INDONESIA merupakan salah satu negara paling majemuk di dunia—dengan jumlah penduduk kurang lebih 200 juta jiwa, 1.300 suku, 300 etnis dan 250 bahasa serta beragamnya agama yang dianut. Keadaan yang pluralistik tersebut menimbulkan dilematis bagi negara dalam mengatur keseimbangan kehidupan berdemokrasi, sehingga meniscayakan adanya semacam reinterpretasi dan reorientasi untuk memposisikan agama dan negara dalam relasi …

Pancasila Sebagai Civil Religious: Paradigma Alternatif Menuju Indonesia Harmoni Selengkapnya »

Matinya Imajinasi dalam Beragama

HAMPIR kebanyakan orang memahami bahwa agama sebagai aturan yang mengatur kehidupan manusia dengan seperangkat hukum yang tertuang di dalam teks-teks kitab suci atau sabda Nabi. Teks-teks keagamaan tersebut kemudian ditafsirkan oleh pihak-pihak yang dianggap memiliki otoritas keagamaan dan kapasitas keilmuan dari berbagai disiplin.Pembacaan dan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan pun kemudian melahirkan berbagai macam hukum yang …

Matinya Imajinasi dalam Beragama Selengkapnya »

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (4)

DARI apa yang telah saya paparkan di beberapa bagian sebelumnya, tidak lain merupakan segenap keresahan dan kegalauan yang kemudian berusaha menimpali segala paradoksnya kehidupan. Kesenjangan demi kesenjangan yang dirasakan, pada titik tertentu melahirkan kekhwatiran yang amat menguras tenaga dan pikiran—atau bahkan menuju keadaan yang amat pesimis. Bagaimana mungkin kita memalingkan dari segala bentuk materi di …

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (4) Selengkapnya »

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (3)

TRAGEDI seperti kejahatan kemanusiaan sebagaimana yang telah saya singgung merupakan implikasi terhadap kesadaran obyektif (kebendaan) manusia yang lahir dari prespektif “keluasan”. Padahal manusia adalah subyek—yang seharusnya juga memilik kesadaran subyek. Namun bukankah pada banyak kenyataan, kita cenderung menganggap dan memposisikan manusia lain sebagai obyek (benda)?Menempatkan dan memperlakukan seseorang sebagai obyek (benda) merupakan kejahatan kemanusiaan—karena telah …

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (3) Selengkapnya »

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (2)

SEJAK beberapa dekade lamanya, kehidupan diselimuti dan didominasi oleh aspek duniawi yang sangat mekanistik dan materialistik. Melalui kecanggihan teknologi, menyebabkan aspek ruhani-spritual kita terkikis. Namun dari segala peningkatan kemakmuran dan kecenderungan materialistik juga—menegaskan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kehidupan yang bersifat serba fisik dan duniawi semata.Di balik derasnya arus globalisasi dan kemajuan zaman yang meluluhlantahkan …

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (2) Selengkapnya »

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (1)

SESUATU yang tak saya pahami; tentang satu hal yang tak dapat dijangkau atau dijelaskan oleh kemampuan akal. Beberapa tahun lalu, saya sangat percaya tentang gagasan relativitas—yang membawa saya pada satu pemahaman; “bahwa tidak ada yang menetap dan semua mengalami perubahan.” Keraguan demi keraguan mengalir bersama aliran darah—dan menganggap bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan dengan prinsip …

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (1) Selengkapnya »

Pandemi, Vaksin, dan Segala Kemungkinannya (2)

Dalam sejarah “pervirusan”, beberapa negara penguasa, sebenarnya telah menggunakan virus, kuman, racun dan sejenisnya sebagai senjata biologi. Anda masih ingat bukan, suku Indian (penduduk asli Amerika) yang dibasmi secara tidak manusiawi oleh orang (Amerika sekarang)?Mungkin saja penggunaan virus, racun, dan kuman sebagai senjata biologi tersebut tidak hanya berhenti sampai di situ. Bahkan jika Anda baca beberapa …

Pandemi, Vaksin, dan Segala Kemungkinannya (2) Selengkapnya »

Pandemi, Vaksin, dan Segala Kemungkinannya (1)

Tentang virus, kuman dan sejenisnya, “mungkin” keberadaannya telah ada sejak dunia ini diciptakan—atau bahkan telah hidup bersama umat manusia hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, manusia semakin sadar bahwa ada mahluk-mahluk kecil tak kasat mata (micro–organism) seperti virus, kuman dan sejenisnya. Pada awalnya, semua hanyalah sebatas tentang penemuan dan pengembangan pengetahuan manusia (dalam arti baik). …

Pandemi, Vaksin, dan Segala Kemungkinannya (1) Selengkapnya »

Tauhid: La Ilaha Illallah atau La Ilaha Illa Huwa?

TULISAN ini berawal dari sebuah diskusi antara sosok Baba dengan dosen yang mengajar ilmu tafsir dalam sebuah cerpen berjudul “Baba” yang ditulis oleh penulis sendiri. Diskusi tersebut di awali dengan pertanyaan ‘menggelitik’ Baba tentang kata Allah, lalu dosenya menjawab; “Allah itu adalah sesembahan. Sebelum muncul istilah Allah, manusia telah sadar akan Dzat transendental yang menciptakan …

Tauhid: La Ilaha Illallah atau La Ilaha Illa Huwa? Selengkapnya »