SASTRA

Puisi dan Politik Sepanggung: Kita Bertepuk Tangan

DI akhir 1995, Wislawa Szymborska masih termenung dengan kesendiriannya di rumah kecil di tengah hutan. Ia bukan seorang pembangkang, meski pengagum komunis sejati. Puisinya tidak berbicara tentang politik. Mungkin saja akibat diksinya yang terlalu halus, sehingga politik tidak terpahat dengan jelas. 50 tahun kepenyairannya sudah cukup menjadikannya diva. Bukan sembarangan. Nobel kesusatraan tahun 1996 bukti …

Puisi dan Politik Sepanggung: Kita Bertepuk Tangan Selengkapnya »

Puisi-Puisi Irfan Limbong

Sungai PenebusanSeseorang datang menyunggi sungai dari Taman FirdausDitidurkan di bibir pikirannya Terpasung dari bising letupan jantung kotaIkan-ikan kecil yang menggendong kecil anaknya Laksana romantika merariq di Gumi iniPembalut dan bungkus jajanan ringan Seperti bucket “COD” mingguan Merapikan diri di luar gerbang Yang dijaga malaikat Sungai penebusan iniTak pernah sepi Lebih dari lima ribu tamu silih …

Puisi-Puisi Irfan Limbong Selengkapnya »

Puisi-Puisi Eka Ilham

TELUK MBOJO MA MBARIGelombang  hanya pulang kembali di laut, di sini, seperti laut seberangdari karang-karang imaji Teluk Bimayang gelap.Pantai mengangakan rahang, menelan waktuyang datang bertubuhkangelombang.Tanah leluhurDana Mbojo Dana MbariSejarah menembus batas.Pada tenangnya gelombang tua, ia menyusun partikel itu – yang akhirnya tak ada.Beratus tahun kemudian ia pun kembali.Jejak, kerak, sisa, tanda: fana, barangkali tak fana.PEREMPUAN-PEREMPUAN …

Puisi-Puisi Eka Ilham Selengkapnya »

Puisi-Puisi Irfan Limbong

Kerling Bersin Kerling mataku tak pernah bertanya Mengapa hitam karet ikat rambutku Tak seperti Arjuna, ayam jago Madura Kokoknya..Bayangan manusia terbuat dari labirin bersin Yang mengintip di lampu lalu lintas hidupmu Anak-anak yang dilahirkan dari sisa bersin semalam Anak yang memelihara ibu dari semangkok bersin Mencari pekerjaan dari puing-puing bersin di bibir, di baju, di …

Puisi-Puisi Irfan Limbong Selengkapnya »

Puisi-Puisi Irfan Limbong

Senja Bersepatu SampahAku tak pernah bercita-cita menjadi pemburu senjaKeruh jingganya seakan menelanjangiku Ombak yang dibentuk dari lentik bulu mata muYang menyisakan keringat pasir di bola pimpong dada bulat ituPohon kering bersepatu sampah tak ingin membungkus awanSerta jilbab kusut tak berwarna memikul pilu senja dalam karung rongsokanAku ingin menyusuri jingga lorong di atas laut Yang cahayanya …

Puisi-Puisi Irfan Limbong Selengkapnya »

Ngaku Saja Kalau Tidak Suka Puasa

TEMPAT pertemuan itu dikepung para warga setempat yang jumlahnya seperti sedang ada perang yang mendesak. Tempat pertemuan itu terlihat lebih bersih dari biasanya, karpet-karpet yang masih ditanggalkan di tembok pagar, kilatan pembersih lantai yang semerbak baunya. Namun yang paling menyita perhatian adalah hadirnya 300 orang yang tengah duduk bersila di tempat pertemuan itu, mereka tengah …

Ngaku Saja Kalau Tidak Suka Puasa Selengkapnya »

Percakapan di Meja Resepsionis Gereja Bethany

PENJAGA di Gereja Bethany baru saja membersihkan salju setebal kira-kira delapan senti dari trotoar ketika pemuda berkacamata itu muncul. Matahari sudah gagah, tapi angin menderu ribut: suhu udara terjebak di titik beku. Pemuda itu hanya mengenakan celana jeans tipis, kemeja musim panas, sepasang sepatu bot usang, dan sehelai jaket yang nyaris tak mampu menahan dinginnya …

Percakapan di Meja Resepsionis Gereja Bethany Selengkapnya »

Puisi-Puisi Riami

Lelaki Pemburu Berita                  : Hilmi Faiq Mata menyala, menatap suryaDi sakunya catatan kecil perjalananDalam nyawa ponsel segala bidik masuk di ruang pikirRasa mendesir, pikir mengalirSederas sungaiSekeras mesin perahuMelaju diburu waktuMalam masih perjalanan panjangMengulas kisah siang, di kampung harapanMembaca gejala zaman yang kian tandusBaginya kalimat adalah senjata;Penembak mimpiKataMesiu pengisi peluruAgar koran-koran diburu dan tidak dianggap keliru“Ini kemanusiaan, …

Puisi-Puisi Riami Selengkapnya »

Laila Tidak Majnun

Pagi buta, saat matahari sepertinya masih enggan menampakkan diri. Jalan raya masih sepi. Hanya ada beberapa kendaraan, mungkin dari pekerja kantoran yang lembur sampai dini hari. Lorong-lorong gelap tempatku bermukim jadi makin gelap. Lampu-lampu rumah di pinggir kali tak terlalu menyumbang terang. Bohlam lima watt itu tampaknya hanya sampai pada kata remang-remang alih-alih terang. Dan …

Laila Tidak Majnun Selengkapnya »

Luka Masa Lalu

“Kamu kenal laki-laki di ujung itu, Del?” sebuah pertanyaan, yang telah menghentikan puluhan keterkagetan akan potret yang terpandang. Bagaimana bisa, laki-laki itu ada di sana, masih jelas dalam ingat, dua minggu yang lalu, aku masih setia menyuguhkan kopi hitam tanpa gula kesukaannya. Tak ada ucapan terimakasih dan senyum darinya, mungkin terlalu sibuk dengan benda pipih …

Luka Masa Lalu Selengkapnya »