budaya

Rasa yang Terbuang dan Hilang

Sejarah kehancuran kota Baghdad mencatat momentum dan monumen kebengisan Hulagu Khan. Beragam versi historis mencatat jumlah korban pembantaian terhadap muslim (200 ribu atau 400 ribu orang) oleh pasukan Mongolia di pusat kerajaan Abbasiyah. Itu peristiwa sejarah. Semuanya sudah berlalu, dan ia tidak perlu direproduksi untuk membenci siapapun; kebencian yang membuat banyak haters-nya terjerat dalam perangkap …

Rasa yang Terbuang dan Hilang Selengkapnya »

Titian Perempuan Bermata Kejora (2)

Sebelum SubuhKau tentu tahu kapan saat terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. Ya. Sepertiga malam terakhir. Dan karenanya sejak subuh buta ia telah bermunajat melepaskan segala himpitan. Ia tak dapat tidur, ia bahkan sudah dua bulan kurang makan. Sebaliknya termakan oleh dilema.Saat si gagah datang melamar dua bulan lalu, ikal masih di rantauan. Seusai ia diwisuda, …

Titian Perempuan Bermata Kejora (2) Selengkapnya »

Titian Perempuan Bermata Kejora (1)

Dompu 1982LELAKI tampan lulusan akademi pemerintah itu diperuntukan untuknya, tinggi, putih, gagah dari segala penjuru memandang dan yang terpenting, dia sholeh. Rajin mengaji. Suaranya merdu. Rajin sholat, sering jadi muadzin. Gemar bersedekah dan berbagi hadiah pada kaum kerabat. Terutama jika lebaran tiba. Si gagah akan memborong baju dan sajadah di toko Abahnya untuk dibagi-bagi. Tak …

Titian Perempuan Bermata Kejora (1) Selengkapnya »

Perantau Bima dan Refleksi Budaya Maritim

DI kalangan masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat, budaya rantau dikenal “lao loja” (pergi berlayar). Terminologi “lao loja” menggambarkan kondisi geografis Bima yang bercorak maritim, wilayah tepian air. Dari tradisi “lao loja” ini, kita bisa melacak manusia Bima zaman dahulu yang bersenyawa dengan lautan, mengarungi hingga menantang gempuran ombak. Dalam konteks ini, kita perlu melampaui perbincangan …

Perantau Bima dan Refleksi Budaya Maritim Selengkapnya »

Budaya Literasi, Cinta, dan Peradaban Manusia

Tulisan ini berangkat dari analisa sosial tentang miskinnya budaya literasi yang semakin membuat siapapun miskin terhadap kebenaran informasi. Sekarang ini sudah banyak organisasi yang telah meninggalkan budaya literasi  baik di kampus-kampus maupun di lingkungan sosial yang lebih luas. Bukti dari minimnya literasi tersebut tampak dari tindakan sebagian mahasiswa yang masuk organisasi hanya sekedar ingin mencari …

Budaya Literasi, Cinta, dan Peradaban Manusia Selengkapnya »

Dua Pendengaran Manusia: Catatan untuk Dua Suara Tuhan

BUKU terbitan Alamtara Institute (Cetakan I, Mei 2020) ini tidak hanya desain sampul dan tata-letaknya yang peka terhadap detail, tapi juga kandungannya. Kita disuguhkan wacana kontemplatif berdasarkan detail-detail ayat yang seringkali terabaikan oleh banyak pengkaji al-Quran. Saya langsung terkesima, begitu menerima buku setebal 229+xiv ini dari nune Abi, panggilan Aribal Waqy, putra penulis buku ini. …

Dua Pendengaran Manusia: Catatan untuk Dua Suara Tuhan Selengkapnya »

Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (1)

KETIKA bertandang ke pacuan kuda di Bima, menikmati atraksi joki kecil yang lihai memainkan tali kekang kuda sementara di pantatnya tidak ada sandaran pelana, saya dahulu memikirkan banyak hal sebelum saya mengambil tempat duduk “di mana” dan menyapa “siapa”.  Pertanyaan pertama adalah, apakah yang akan saya “intens”kan di pacuan itu? Apakah pertarungan kuda berjoki kecil …

Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (1) Selengkapnya »