ntb

Jangan Sekadar Pacuan Kuda

Pergelaran Pacuan Kuda (bahasa Bima; Pacoa Jara) menjadi salah satu budaya yang masih mengakar kuat di masyarakat Bima. Event ini biasanya diselenggarakan empat kali dalam setahun, yakni 1). pada bulan April di acara Bupati Bima Cup, 2). Pada bulan Juli di acara Hari Jadi Bima, 3). Pada bulan Oktober di acara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dan 4). …

Jangan Sekadar Pacuan Kuda Selengkapnya »

Perantau Bima dan Refleksi Budaya Maritim

DI kalangan masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat, budaya rantau dikenal “lao loja” (pergi berlayar). Terminologi “lao loja” menggambarkan kondisi geografis Bima yang bercorak maritim, wilayah tepian air. Dari tradisi “lao loja” ini, kita bisa melacak manusia Bima zaman dahulu yang bersenyawa dengan lautan, mengarungi hingga menantang gempuran ombak. Dalam konteks ini, kita perlu melampaui perbincangan …

Perantau Bima dan Refleksi Budaya Maritim Selengkapnya »

Cara Sebuah Masyarakat “Bersahabat” dengan Konflik

INI tentang cara suatu kebudayaan mengelola integrasi dan konflik sosial. Mari coba kita lihat satu contoh pengalaman masyarakat Muslim Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tentang integrasi, orang Bima (Dou Mbojo) menolak segregasi, meskipun kenyataannya daerah mereka terbingkai dalam dua wilayah pemerintahan, yaitu Kabupaten Bima dan Kota Bima. Kuatnya kekerabatan masyarakat ini warisan sistem sosial …

Cara Sebuah Masyarakat “Bersahabat” dengan Konflik Selengkapnya »

Wisata Halal: Memenuhi Gaya Hidup Kelas Menengah Muslim

PADA tahun 2017 jumlah populasi masyarakat muslim di dunia adalah 1,59 miliar jiwa atau sekitar 23% dari total populasi dunia.  Jumlah itu diperkirakan akan mencapai 2,7 miliar pada 2050 yaitu 29% dari penduduk dunia adalah umat muslim (baca; tirto.id ‘saat Islam Menjadi Agama Mayoritas di Dunia’, 2017).  Ini akan menjadi potensi bagi perekonomian dunia, kaitannya dengan …

Wisata Halal: Memenuhi Gaya Hidup Kelas Menengah Muslim Selengkapnya »

Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (1)

KETIKA bertandang ke pacuan kuda di Bima, menikmati atraksi joki kecil yang lihai memainkan tali kekang kuda sementara di pantatnya tidak ada sandaran pelana, saya dahulu memikirkan banyak hal sebelum saya mengambil tempat duduk “di mana” dan menyapa “siapa”.  Pertanyaan pertama adalah, apakah yang akan saya “intens”kan di pacuan itu? Apakah pertarungan kuda berjoki kecil …

Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (1) Selengkapnya »