Berawal dari 12 Siswa, MTs Alamtara Islamic School Menyalakan Harapan Baru Pendidikan Islam di Bima



Kota Bima
 — Sebuah sejarah besar sering kali tidak dimulai oleh keramaian. Ia lahir dari langkah-langkah kecil yang dijalani dengan keyakinan besar. Itulah suasana yang terasa di MTs Alamtara Islamic School (AIS) saat menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) perdana pada 4–5 Juli 2026.

Madrasah yang baru berdiri tersebut memulai perjalanan pendidikannya bersama 12 peserta didik angkatan pertama. Jumlah yang sederhana itu justru menjadi simbol keberanian untuk menghadirkan pendidikan Islam yang unggul, berkarakter, dan berpijak pada nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal Bima.

Mengusung tema “Kun Najah: Menjadi Sukses Bersama di MTs AIS”, kegiatan MPLS menjadi gerbang awal bagi para peserta didik untuk mengenal rumah belajar baru mereka. Selama dua hari, mereka tidak hanya diperkenalkan pada ruang kelas, guru, dan tata tertib, tetapi juga diajak membangun mimpi, karakter, serta semangat untuk menjadi generasi pembelajar yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Sejak pembukaan, suasana hangat terasa ketika orang tua, guru, tenaga kependidikan, Kepala Madrasah, Ketua Yayasan, dan Pembina Yayasan berkumpul dalam satu harapan yang sama: mengantarkan lahirnya generasi pertama MTs Alamtara Islamic School yang kelak menjadi kebanggaan masyarakat.

Dalam sambutannya, Pembina Yayasan, Prof. Hj. Atun Wardatun, M.Ag., M.A., Ph.D., mengingatkan bahwa setiap perjalanan besar selalu diawali oleh niat yang benar dan tekad yang kuat. Beliau mengajak seluruh peserta didik untuk menjadikan kesempatan belajar di MTs AIS sebagai jalan menuju masa depan yang gemilang.

“Hari ini kalian bukan sekadar menjadi siswa baru. Kalian adalah angkatan pertama yang akan menulis sejarah MTs Alamtara Islamic School. Bangunlah mimpi yang tinggi, belajarlah dengan sungguh-sungguh, dan tetaplah berpijak pada nilai-nilai Islam serta budaya luhur Bima,” pesannya.

Senada dengan itu, Kepala MTs Alamtara Islamic School, Ruwaidah, S.Ag., menyampaikan terima kasih kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada MTs AIS. Ia menegaskan bahwa madrasah akan menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, religius, dan menyenangkan, tempat setiap anak diberi kesempatan untuk berkembang sesuai potensi terbaiknya.

Rangkaian MPLS dirancang agar peserta didik tidak hanya mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga memahami nilai-nilai kehidupan. Berbagai materi diberikan, mulai dari pengenalan visi dan budaya madrasah, tata tertib, pendidikan anti-perundungan, literasi digital, kesehatan mental, layanan bimbingan konseling, edukasi mengenai bahaya judi online dan konten ekstrem, hingga kegiatan outbound, team building, malam bina ukhuwah, pengenalan ekstrakurikuler, dan pentas bakat.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah kegiatan Pohon Harapan 2026. Pada kegiatan tersebut, setiap peserta didik menuliskan cita-cita, harapan, dan komitmen yang ingin diwujudkan selama belajar di MTs AIS. Harapan-harapan itu kemudian ditempatkan pada sebuah pohon simbolik sebagai pengingat bahwa setiap mimpi membutuhkan kesungguhan untuk tumbuh dan berbuah.

Namun, momen yang paling menyentuh hadir pada upacara penutupan. Ketua Yayasan MTs Alamtara Islamic School, Prof. Dr. H. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd., mengajak seluruh peserta didik merenungkan kisah Panglima Thariq bin Ziyad ketika memimpin pasukan Muslim menaklukkan Andalusia pada tahun 711 M.

Beliau menceritakan bagaimana Thariq memerintahkan pembakaran kapal-kapal setelah pasukannya mendarat. Bukan semata sebagai tindakan simbolik, tetapi sebagai penegasan bahwa tidak ada pilihan selain maju dan berjuang hingga meraih kemenangan.

Kisah tersebut kemudian dikaitkan dengan perjalanan MTs Alamtara Islamic School yang baru memulai langkah bersama 12 peserta didik.

“Jangan pernah merasa kecil karena kalian hanya berjumlah dua belas orang. Banyak perubahan besar dalam sejarah justru lahir dari kelompok kecil yang memiliki keyakinan besar. Yang menentukan masa depan bukanlah jumlah, melainkan keberanian untuk bermimpi, kesungguhan dalam belajar, dan keteguhan dalam berjuang. Kalian adalah para perintis yang akan membuka jalan bagi generasi-generasi berikutnya,” tuturnya.

Pesan itu disambut dengan tepuk tangan panjang. Bagi sebagian orang, dua belas siswa mungkin hanya sebuah angka. Namun, bagi keluarga besar MTs Alamtara Islamic School, mereka adalah fondasi pertama yang akan membangun tradisi, budaya, dan reputasi madrasah pada tahun-tahun mendatang.

MPLS perdana ini bukan sekadar agenda tahunan penyambutan peserta didik baru. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi deklarasi komitmen MTs Alamtara Islamic School untuk menghadirkan pendidikan Islam yang menyatukan kecerdasan intelektual, kekuatan spiritual, kepemimpinan, kepedulian sosial, literasi digital, serta penghargaan terhadap budaya lokal.

Semangat “Kun Najah” yang berarti “Jadilah pribadi yang sukses” diharapkan tidak berhenti sebagai tema kegiatan, tetapi menjadi nilai yang terus hidup dalam setiap proses belajar di MTs AIS. Dengan dukungan yayasan, guru, orang tua, dan masyarakat, dua belas peserta didik angkatan pertama ini diharapkan menjadi pelopor lahirnya generasi yang berprestasi, berakhlak mulia, dan mampu membawa nama MTs Alamtara Islamic School bersinar, tidak hanya di Bima dan Nusa Tenggara Barat, tetapi juga di tingkat nasional bahkan internasional.

Sebab, setiap lembaga besar selalu memiliki kisah tentang langkah pertamanya. Dan bagi MTs Alamtara Islamic School, kisah itu dimulai dari dua belas anak yang datang dengan harapan, disambut dengan kasih sayang, lalu dilepas dengan sebuah pesan sederhana namun mendalam: beranilah bermimpi, beranilah memulai, dan berjuanglah hingga sukses.