Zainal Abidin Saleh
(Kolumnis)
—————————-
Di tengah riuh-debur gelombang Pantai Ule dan kerlip lampu Cafe-cafe malam yang berjajar di pesisirnya, berdiri sebuah bangunan yang tampak kontras dengan lingkungannya: Kalikuma Library & EduCamp. Dari kejauhan, bangunan ini langsung mencuri perhatian. Bukan karena kemegahan, justru karena kesederhanaannya, anggun dan elegan. Sebuah rumah panggung kayu berarsitektur khas Mbojo, berdiri tegak di atas tiang-tiang yang tampak kokoh. Menyangga bukan saja dinding dan atap, tapi juga idealisme dan harapan dari geliat ilmu pengetahuan di dalamnya.
KALIKUMA, nama yang terdengar familiar di telinga masyarakat Bima, merupakan hewan laut yang sering muncul di bibir pantai. Kaliomang nama di daerah lain. Binatang laut ini terlihat tenang di balik cangkangnya, namun ketika kita palingkan pandangan sejenak, dia berpindah tempat. Ia seakan menjadi simbol perlawanan yang tenang terhadap arus deras gaya hidup moderen di sekitarnya. Di tengah kawasan yang mulai ramai dengan kehidupan malam, dentuman musik, dan gelak tawa yang sering kali membaur dengan aroma alkohol, Kalikuma hadir sebagai antitesis — tempat bagi mereka yang masih percaya bahwa cahaya tak hanya datang dari lampu neon, tetapi juga dari ilmu dan percakapan yang jujur di antara manusia.

Arsitektur yang Menyimpan Cerita
Rumah panggung yang menjadi bangunan utama Kalikuma bukan sekadar pilihan estetika, tetapi sebuah pernyataan identitas. Ia dibangun dengan inspirasi dari arsitektur tradisional Mbojo, yang terkenal dengan filosofi hidup dekat dan selaras dengan alam. Tiang-tiang kokoh menopang lantai yang terbuat dari papan, dinding-dindingnya berwarna coklat alami, dan atapnya menjulang dengan bentuk segitiga tajam.
Di bagian bawah rumah panggung, ditopang oleh batu-batu alam, menjadi tempat anak-anak mengaji, dan pemuda dari berbagai komunitas berdiskusi. Sementara di atasnya, ruang utama berfungsi sebagai perpustakaan dan ruang belajar. Rak-rak kayu tersusun rapi, menampung ribuan buku dari berbagai kategori — dari sastra Indonesia klasik hingga buku-buku pengembangan diri dan sains populer.
Suasana Sosial yang Kontras
Kalikuma berdiri di lingkungan yang unik — bahkan bisa dibilang paradoksal. Kawasan Pantai Ule di Kota Bima kini telah menjelma menjadi salah satu titik keramaian baru. Di sepanjang jalannya, kafe-kafe bermunculan: ada yang berkonsep modern minimalis, ada pula yang bergaya tropis dengan musik yang mengalun hingga tengah malam. Tempat-tempat ini menjadi magnet bagi anak muda yang ingin bersantai, bercengkerama, atau sekadar mencari hiburan setelah hari yang penat.
Namun, tak bisa dipungkiri, geliat ekonomi di sekitar pantai juga membawa dinamika sosial yang beragam. Di balik suasana gemerlap itu, ada wajah lain dari malam: tawa yang berlebihan, kendaraan yang melaju ugal-ugalan, dan kisah-kisah kecil tentang anak muda yang tersesat dalam kebebasan semu. Di situlah Kalikuma mengambil posisinya, bukan sebagai penghakim, melainkan sebagai alternatif.
Kalikuma tidak menutup diri dari lingkungan. Sebaliknya, ia hadir di tengah hiruk-pikuk itu untuk menawarkan pilihan lain. Di saat sebagian orang memilih menghabiskan malam di kafe, sebagian lainnya datang ke Kalikuma untuk suatu percakapan, menulis, berdiskusi, atau sekadar mendengarkan musik akustik dalam suasana tenang. Di malam tertentu, mereka menggelar “Malam Puisi di Pantai,” di mana anak muda membacakan karya mereka dengan latar debur ombak. Kadang, seorang guru membacakan dongeng rakyat Bima yang hampir terlupakan.
Inilah yang membuat Kalikuma berbeda, ia tidak sekadar tempat membaca buku, tetapi juga ruang sosial yang menyatukan banyak dunia: dunia tradisi dan modernitas, dunia hiburan dan pendidikan, dunia kebisingan dan keheningan.
Kalikuma Sebagai Gerakan Sosial
Kalikuma bukan hanya bangunan fisik; ia adalah gerakan. Gagasannya lahir dari keresahan seorang cendekiawan Bima yang melihat perubahan sosial di sekitar pantai. Ia menyadari bahwa generasi muda membutuhkan ruang alternatif untuk tumbuh, ruang yang tidak menghakimi, tetapi juga tidak membiarkan mereka terjebak dalam arus konsumtif yang tanpa arah.
Melalui kegiatan kelas literasi, bedah buku, pelatihan kepemimpinan, hingga kemah edukatif (Educamp), Kalikuma menjadi wadah untuk menyalakan kembali semangat belajar di luar ruang kelas formal. Anak-anak datang ke sini untuk belajar membaca dengan metode menyenangkan. Mahasiswa berdiskusi tentang ide sosial. Para guru, dosen dan seniman duduk bersama berbagi pengalaman hidup. Sesekali tokoh-tokoh regional dan nasional datang, baik sekedar mampir menikmati senja maupun untuk terlibat intensitas percakapan. Semuanya cair, tanpa hierarki, tanpa jarak.

Keindahan Alam Sebagai Guru
Keistimewaan lain dari Kalikuma adalah letaknya yang memeluk keindahan alam. Dari teras perpustakaan, pandangan mata langsung disuguhi panorama yang sulit dilupakan: hamparan laut biru di depan, gunung hijau menjulang di kejauhan, dan langit yang berubah warna seiring waktu – dari jingga lembut di pagi hari hingga ungu kemerahan menjelang senja. Alam di sekitar Kalikuma seolah menjadi bagian dari kurikulum tak tertulis: setiap batu, setiap angin, setiap ombak memberi pelajaran tentang keseimbangan dan ketekunan.
Educamp — bagian dari kegiatan Kalikuma — sering memanfaatkan lanskap ini untuk kegiatan belajar di alam terbuka. Anak-anak diajak memahami ekosistem pesisir, membersihkan pantai, mengenal jenis-jenis tumbuhan lokal, dan belajar menghargai alam sebagai sumber kehidupan. Tidak jarang pula para peserta bermalam di tenda, di bawah taburan bintang, sambil berdiskusi tentang cita-cita mereka. Semua dalam belaian hutan mangrove.
Kalikuma mengajarkan bahwa belajar tidak selalu harus di ruang tertutup. Bahwa pengetahuan bisa tumbuh dari interaksi langsung dengan bumi dan laut, manusia belajar dari manusia lain dan dari alamnya sendiri.

Sebuah Antitesis yang Humanis
Kehadiran Kalikuma di tengah kawasan hiburan malam bukan untuk menentang keberadaan tempat-tempat itu secara frontal, melainkan untuk menghadirkan keseimbangan. Ia tidak berteriak menolak, tapi menunjukkan alternatif. Ia tidak memaksa orang untuk meninggalkan kafe dan datang ke perpustakaan, tapi membuka peluang agar seseorang bisa memilih bahwa di tengah hingar-bingar dunia, masih ada ruang bagi keheningan dan refleksi.
Antitesis yang dihadirkan Kalikuma adalah antitesis yang lembut, berbasis keteladanan. Seperti lilin kecil yang tak memadamkan lampu-lampu besar, tapi memberi cahaya bagi mereka yang membutuhkan arah. Dalam konteks sosial yang lebih luas, Kalikuma menjadi simbol bahwa perubahan sosial tidak selalu dimulai dari revolusi besar, melainkan dari keberanian mendirikan satu rumah panggung di pinggir Pantai, tempat orang bisa membaca, berdialog, dan bermimpi.

Penutup: Cahaya dari Rumah Panggung
Kalikuma Library & Educamp lebih dari sekadar perpustakaan dan ruang kontemplatif. Ia adalah pernyataan kultural, spiritual, dan sosial. Di tengah dunia yang semakin bising, Kalikuma menawarkan keheningan yang berisi. Di tengah budaya konsumsi, ia menumbuhkan budaya berpikir. Di tengah gemerlap malam, ia menyalakan pelita kecil yang mungkin tampak redup, tapi cukup untuk menunjukkan jalan.
Di pantai yang sama di mana orang-orang bersuka ria hingga larut, ada pula sekelompok anak muda yang membaca, berdiskusi, dan menulis masa depan mereka sendiri. Di situlah Kalikuma berdiri, rumah panggung sederhana di tepi laut yang membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tempat kecil, selama ada cinta dan keyakinan pada kekuatan pengetahuan.[]