Kota Bima – Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai Kalikuma Library & EduCamp, Ule Kota Bima, Jumat sore, 24 Oktober 2025. Yayasan Alamtara Litera Indonesia yang memayungi Madrasah Tsanawiyah Alamtara Islamic School (MTs AIS) mengadakan silaturrahmi dengan para calon guru, tenaga kependidikan, dan pengelola AIS dalam rangka memulai langkah-langkah awal dari perjalanan panjang MTs AIS. Acara yang dipandu oleh Waka Kesiswaan, Nurdin, M.A., ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan sebuah forum untuk menanamkan kesepahaman dan komitmen bersama tentang pendidikan alternatif yang unggul dan berwawasan global di Pulau Sumbawa.
Kegiatan ini dibuka dengan pemaparan komprehensif dari Kepala Madrasah, Hermawansyah, M.Pd.I. Beliau memperkenalkan fondasi utama MTs AIS, mulai dari filosofi, visi-misi, sistem akademik, hingga keunggulan dan manajemen sekolah yang dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang ideal. “Kami akan membuka Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026/2027, siap menyambut putra-putri terbaik Bima dan sekitarnya,” cetus Hermawansyah, menegaskan kesiapan AIS memulai tahun ajaran pertamanya.
Gema visi yang lebih besar kemudian disampaikan oleh Ketua Yayasan, Prof. Dr. H. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd. Dengan penuh semangat, beliau menekankan pentingnya budaya literasi dengan mendorong para calon guru untuk peningkatan kapasitas diri dengan ‘membaca buku-buku babon’—karya-karya besar ilmuwan yang selama ini masih menjadi rujukan bacaan bagi para pembelajar. “Sekolah MTs ini hadir untuk menanamkan kultur belajar alternatif dan baru. Kita akan memelihara dan mengolah pengalaman belajar dari guru-guru terbaik kita juga,” ujarnya.
Dalam penyampainnya yang penuh motivasi, Prof. Abdul Wahid menyuntikkan semangat kebangsaan dan lokalitas. “Sudah lama rekan-rekan meminta kita untuk membangun sekolah seperti ini. Spirit ini kita mulai dari Bima, karena di sini banyak mutiara-mutiara terbaik, yakni KITA,” serunya. Beliau juga mengungkapkan bahwa AIS menerapkan full-day school dengan cita-cita mulia.
“Dalam tiga tahun ke depan, siswa-siswanya dapat melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren atau sekolah-sekolah unggulan di seluruh Indonesia.”
Kemudian Pembina Yayasan, Prof. Atun Wardatun, M.Ag., M.A., Ph.D., mengukuhkan posisi unik AIS dalam peta pendidikan Indonesia. Dengan tegas beliau mengungkapkan bahwa MTs AIS sebagai “sekolah di Pulau Sumbawa yang siap mencetak generasi yang menjadi masyarakat global (global citizen).”
Visi global ini diwujudkan dalam nilai-nilai inti: International, Inclusive, Critical thinking, Multi-cultural, dan Literacy skills. “Kami ingin melihat komitmen rekan-rekan calon guru dalam menyatukan visi misi bersama,” tegas Prof. Atun.
Namun, di balik visi globalnya, hati para pendiri AIS tetaplah tertambat pada tanah Bima. Dengan ketulusan yang menyentuh, Prof. Atun menegaskan bahwa kehadiran AIS adalah sebuah ikhtiar untuk masyarakat. “Ini bukan untuk kami. Ini pengabdian kita semua. Ini tentang masyarakat. Bima ini punya mutiara tapi tertinggal dari berbagai sisi. DNA kita DNA pejuang,” tuturnya dengan mata berbinar. “Ini bukan bisnis. Kita gunakan ini untuk tumbuh bersama.”
“Ini bukan untuk kami. Ini pengabdian kita semua. Ini tentang masyarakat. Bima ini punya mutiara tapi tertinggal dari berbagai sisi. DNA kita DNA pejuang”
Setelah penyampaian visi, acara berlanjut ke sesi interaktif yang dipandu oleh Kurniawati, S.Psi. Melalui kegiatan ‘Pemetaan Kompetensi dan Kewajiban Guru’, para calon guru tidak hanya diminta mengisi formulir biodata, tetapi juga menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif dan visioner.
Pertanyaan seperti, “Apa harapan Anda terhadap AIS, dan sebutkan ide inovatif yang akan Anda terapkan di kelas jika Anda diterima?” menjadi penanda bahwa AIS tidak hanya mencari pengajar, tetapi juga pencetus ide, inovator pendidikan, dan mitra dalam mewujudkan visi besar tersebut. Formulir ini juga memuat ruang bagi calon guru untuk memasukkan nominal gaji yang diharapkan, menunjukkan transparansi dan profesionalisme manajemen sekolah.
Sebagai penutup rangkaian acara, Feriyadin, S.Pd., M.M., memimpin doa bersama. Suara khusyuk menggema di Kalikuma Library, mengiringi harapan dan niat tulus seluruh yang hadir untuk memulai perjalanan panjang ini.
Acara silaturrahmi ini bukan sekadar pengenalan, melainkan starting point sebuah gerakan pendidikan. Sebuah janji untuk membangun sekolah yang tidak hanya mencetak siswa pandai, tetapi juga warga dunia yang berpikir kritis, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai luhur keislaman serta kelokalan Bima. Alamtara Islamic School siap berlayar, membawa mutiara-mutiara Bima menuju samudera global.[]
