HIKMAH

Tatkala Salat menjadi Nafas Iman di Tengah Kehidupan yang Bising

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, salat sering kali tereduksi menjadi rutinitas yang dijalankan sekadar menggugurkan kewajiban. Padahal, dalam ajaran Islam, salat bukan hanya ibadah paling utama, melainkan penentu diterima atau tidaknya seluruh amal manusia. Tidak berlebihan jika para ulama menyebut salat sebagai “nyawa ibadah” dan “poros kehidupan spiritual seorang Muslim.”Pertanyaannya, mengapa salat menempati posisi setinggi […]

Tatkala Salat menjadi Nafas Iman di Tengah Kehidupan yang Bising Read More »

Isra Mikraj dan Kesadaran Kosmik: Perjalanan Spiritual untuk Relasi Manusia dan Alam

Setiap peringatan Isra’ dan Mi‘raj, umat Islam kerap larut dalam kisah keagungan perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus ruang dan waktu. Kita membayangkan malam yang sunyi, Buraq yang melesat cepat, dan lapisan-lapisan langit yang terbuka satu per satu. Namun, di balik kisah spektakuler itu, ada pesan yang sering luput dari perenungan kita: Isra’ dan Mi‘raj bukan

Isra Mikraj dan Kesadaran Kosmik: Perjalanan Spiritual untuk Relasi Manusia dan Alam Read More »

Menyongsong 2026 dengan Kesadaran Eksistensial: Dari Muhasabah menuju Istikamah

Pergantian tahun sering kali disambut dengan gegap gempita: resolusi baru, harapan baru, dan semangat yang menggebu. Namun, tidak sedikit pula yang menyambutnya dengan perasaan hening—sebuah kesadaran bahwa waktu terus berjalan, sementara diri masih berkutat pada persoalan yang sama. Di titik inilah, tahun baru sejatinya bukan sekadar pergantian angka, melainkan undangan untuk bercermin: sudah sejauh mana

Menyongsong 2026 dengan Kesadaran Eksistensial: Dari Muhasabah menuju Istikamah Read More »

Saat Zikir Kosmik dan Syukur Kosmik Meredup: Membaca Murka Alam sebagai Teguran Spiritual

Dalam beberapa tahun terakhir, manusia semakin sering dihadapkan pada fenomena alam yang terasa tidak lagi bersahabat—banjir datang tanpa permisi, tanah longsor merenggut kehidupan, kekeringan berkepanjangan melumpuhkan sendi-sendi ekonomi, dan perubahan iklim menghadirkan ketidakpastian yang mencemaskan. Namun pertanyaan mendasarnya bukan semata apa yang terjadi dengan alam, melainkan apa yang sedang terjadi dengan kesadaran spiritual manusia terhadap

Saat Zikir Kosmik dan Syukur Kosmik Meredup: Membaca Murka Alam sebagai Teguran Spiritual Read More »

Empati tanpa Batas: Benang Kemanusiaan yang Menjahit Luka Anak Negeri

Musibah selalu datang tanpa mengetuk pintu, ia tidak menanyakan identitas, tidak memilih latar belakang, dan tidak pula memilah keyakinan. Ketika bumi berguncang, banjir meluap, atau api melalap pemukiman, semua manusia berdiri pada posisi yang sama—rapuh. Di hadapan bencana, perbedaan yang selama ini tampak tebal—agama, suku, pilihan politik, status sosial—mendadak kehilangan daya tawarnya. Yang tersisa hanyalah

Empati tanpa Batas: Benang Kemanusiaan yang Menjahit Luka Anak Negeri Read More »

White Noise: Saat Suara Hujan Merajut Relasi Manusia, Tuhan, dan Alam

Ada sesuatu yang memikat dalam suara hujan, yakni ritmenya yang lembut, jatuh perlahan di atas tanah, pada dedaunan, atau di atas atap rumah, dan mengalir menjadi alunan yang menenangkan jiwa. Banyak psikolog menyebut suara ini sebagai white noise—suara latar yang stabil, konstan, dan berulang sehingga mampu menciptakan efek terapeutik bagi manusia—menenangkan sistem saraf, mengurangi kecemasan,

White Noise: Saat Suara Hujan Merajut Relasi Manusia, Tuhan, dan Alam Read More »

Ketika Alam tidak lagi Bersahabat: Pelajaran Ekoteologi dari Bencana yang Melanda Negeri

Ada lirik lagu dari Ebid GAD yang bunyinya: ”Mungkin alam mulai bosan melihat tingkah kita.” Kalimat sederhana ini terasa seperti pukulan batin ketika melihat apa yang sedang terjadi di beberapa wilayah di negeri kita hari ini—banjir bandang, longsor, dan gelombang cuaca ekstrem yang datang berturut-turut. Seakan-akan alam, yang selama ini diam dan sabar, akhirnya menunjukkan

Ketika Alam tidak lagi Bersahabat: Pelajaran Ekoteologi dari Bencana yang Melanda Negeri Read More »

Menemukan Ruang Refleksi: Terbanglah Tinggi untuk Melihat Dunia

Beberapa hari yang lalu, sebuah quotes sederhana tiba-tiba melintas di beranda Facebook saya. Tulisannya berbunyi: “Terbanglah tinggi, bukan agar dunia bisa melihatmu, tetapi agar kamu bisa melihat dunia.” Sekilas caption ini tampak seperti rangkaian kata biasa, tetapi setelah direnungkan lebih dalam, ada daya yang menyentuh—seakan menggamit kita untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menengok arah perjalanan

Menemukan Ruang Refleksi: Terbanglah Tinggi untuk Melihat Dunia Read More »

The Power of Being Real: Ketika Keaslian lebih Bernilai daripada Pencitraan

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat ini, banyak orang tanpa sadar menjalani hidup seperti sebuah panggung sandiwara. Ada yang menampilkan diri lebih sukses dari kenyataan, ada yang memaksakan keceriaan di tengah luka, ada pula yang menampilkan kesan kuat padahal hatinya rapuh. Media sosial menjadikan semuanya lebih mudah; terutama untuk satu unggahan dan bisa mengubah

The Power of Being Real: Ketika Keaslian lebih Bernilai daripada Pencitraan Read More »

Ketika Kata Tak Lagi Bertemu Makna: Refleksi Al-Qur’an Surah Lukman Ayat 18

Di zaman yang serba cepat ini, komunikasi menjadi pusat dari hampir semua aktivitas manusia. Kita berbicara, mengirim pesan, menulis di media sosial, dan menanggapi berbagai isu hanya dalam hitungan detik. Ironisnya, di tengah begitu banyak cara untuk berkomunikasi, kesalahpahaman justru semakin sering terjadi. Fenomena ini dikenal sebagai miscommunication — ketika kata tersampaikan, tetapi makna tidak

Ketika Kata Tak Lagi Bertemu Makna: Refleksi Al-Qur’an Surah Lukman Ayat 18 Read More »