HIKMAH

Ketika Alam tidak lagi Bersahabat: Pelajaran Ekoteologi dari Bencana yang Melanda Negeri

Ada lirik lagu dari Ebid GAD yang bunyinya: ”Mungkin alam mulai bosan melihat tingkah kita.” Kalimat sederhana ini terasa seperti pukulan batin ketika melihat apa yang sedang terjadi di beberapa wilayah di negeri kita hari ini—banjir bandang, longsor, dan gelombang cuaca ekstrem yang datang berturut-turut. Seakan-akan alam, yang selama ini diam dan sabar, akhirnya menunjukkan […]

Ketika Alam tidak lagi Bersahabat: Pelajaran Ekoteologi dari Bencana yang Melanda Negeri Read More »

Menemukan Ruang Refleksi: Terbanglah Tinggi untuk Melihat Dunia

Beberapa hari yang lalu, sebuah quotes sederhana tiba-tiba melintas di beranda Facebook saya. Tulisannya berbunyi: “Terbanglah tinggi, bukan agar dunia bisa melihatmu, tetapi agar kamu bisa melihat dunia.” Sekilas caption ini tampak seperti rangkaian kata biasa, tetapi setelah direnungkan lebih dalam, ada daya yang menyentuh—seakan menggamit kita untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menengok arah perjalanan

Menemukan Ruang Refleksi: Terbanglah Tinggi untuk Melihat Dunia Read More »

The Power of Being Real: Ketika Keaslian lebih Bernilai daripada Pencitraan

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat ini, banyak orang tanpa sadar menjalani hidup seperti sebuah panggung sandiwara. Ada yang menampilkan diri lebih sukses dari kenyataan, ada yang memaksakan keceriaan di tengah luka, ada pula yang menampilkan kesan kuat padahal hatinya rapuh. Media sosial menjadikan semuanya lebih mudah; terutama untuk satu unggahan dan bisa mengubah

The Power of Being Real: Ketika Keaslian lebih Bernilai daripada Pencitraan Read More »

Ketika Kata Tak Lagi Bertemu Makna: Refleksi Al-Qur’an Surah Lukman Ayat 18

Di zaman yang serba cepat ini, komunikasi menjadi pusat dari hampir semua aktivitas manusia. Kita berbicara, mengirim pesan, menulis di media sosial, dan menanggapi berbagai isu hanya dalam hitungan detik. Ironisnya, di tengah begitu banyak cara untuk berkomunikasi, kesalahpahaman justru semakin sering terjadi. Fenomena ini dikenal sebagai miscommunication — ketika kata tersampaikan, tetapi makna tidak

Ketika Kata Tak Lagi Bertemu Makna: Refleksi Al-Qur’an Surah Lukman Ayat 18 Read More »

Ketika Rindu Menuntun untuk Pulang

Pulang adalah kata sederhana, tetapi sarat makna. Ia menyimpan kerinduan, keletihan, dan harapan dalam satu tarikan napas panjang. Dalam setiap langkah manusia, di balik hiruk-pikuk dunia dan kesibukan yang kelihatannya tak berujung, tersimpan satu tujuan yang tak pernah berubah, yakni keinginan untuk pulang.Setiap kepergian, sesungguhnya adalah persiapan untuk kembali atau jalan pulang yang tertunda. Lihat

Ketika Rindu Menuntun untuk Pulang Read More »

Merasa Diri Unggul: Refleksi Mendalam dari “Logika Setan”

Tulisan ini berangkat dari refleksi atas esai teman diskusi penulis yakni Zukhrufatul Jannah yang berjudul “Dekonstruksi ”Logika Setan” dalam Otoritas Penafsiran: Menyingkap Semangat Kesetaraan dari Cahaya Tauhid” yang terbit di portal alamtara.co pada 28 Oktober 2025. Dalam tulisannya, mbak Zukhruf mengajak pembaca untuk merenungi bagaimana konsep “logika setan” dapat menjadi kunci untuk memahami akar dari

Merasa Diri Unggul: Refleksi Mendalam dari “Logika Setan” Read More »

Kecerdasan Semesta sebagai Basis Ekoteologi: Refleksi Spiritual Keterhubungan Manusia dengan Alam

Selain delapan kecerdasan yang diperkenalkan oleh Howard Gardner dan kemudian dipopulerkan serta dikembangkan dalam konteks pendidikan humanistik oleh tokoh-tokoh pendidikan — yaitu kecerdasan linguistik, logis-matematis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalistik. Sesungguhnya ada satu kecerdasan lain yang sering luput dibahas namun memiliki kedalaman spiritual dan eksistensial yang luar biasa, yaitu kecerdasan semesta (cosmic intelligence).Kecerdasan

Kecerdasan Semesta sebagai Basis Ekoteologi: Refleksi Spiritual Keterhubungan Manusia dengan Alam Read More »

Hukum Alam Tak Pernah Bercanda: Sebuah Refleksi Ekoteologis

Ada satu hukum yang tak pernah berubah sejak bumi diciptakan, yakni ”Hukum alam yang tak pernah bercanda”. Ia bekerja dengan ketepatan yang nyaris suci. Ketika api menyentuh kulit, panasnya membakar tanpa kompromi. Ketika sungai dirusak hulunya, banjir pasti mencari jalannya. Ketika hutan ditebang, tanah kehilangan pijakan dan langit pun kehilangan napasnya. Alam tidak pernah berbohong,

Hukum Alam Tak Pernah Bercanda: Sebuah Refleksi Ekoteologis Read More »

Menjadi Pengangguran dalam Beribadah

Di tengah dinamika kehidupan yang serba cepat dan kompetitif, manusia sering kali dihadapkan pada paradoks eksistensial—semakin sibuk secara lahiriah, justru semakin hampa secara batiniah, akhirnya muncul sebuah refleksi yang menggugah, “menjadi pengangguran dalam beribadah.” Ungkapan ini bukan sekadar metafora, melainkan cermin yang memantulkan wajah spiritual manusia masa kini yang tampak aktif secara fisik, namun pasif

Menjadi Pengangguran dalam Beribadah Read More »

Kebijaksanaan Sistemik: Menolak Jalan Pintas, Merawat Keberlanjutan

Dalam sebuah kisah hikmah diceritakan ada sebuah bahtera hendak berlayar mengarungi lautan lepas. Penumpangnya telah berbaris bersiap naik ke kapal yang megah. Kapal itu sangat besar hingga memiliki dua tingkat, yang ternyata dua tingkat itu membawa masalah, orang-orang berebut ingin menjadi penumpang di bagian atas, karena lebih nyaman, pemandangan laut terbentang luas, gemuruh air terdengar

Kebijaksanaan Sistemik: Menolak Jalan Pintas, Merawat Keberlanjutan Read More »