Filosofi AIS

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. 96:1-5)

1

Semua ilmu bersumber dari yang satu, Allah SWT, meskipun cara datangnya berbeda. Ada ilmu yang secara langsung diberi oleh-Nya dan ada juga yang diupayakan melalui instrumen akal dan indera – yang juga pemberian-Nya. Ilmu-ilmu itu diberikan kepada manusia sebagai piranti pelaksanaan tugas manusia sebagai khalifah dan rahmat di muka bumi. Dengan ilmu manusia memberdayakan dirinya sendiri, kemudian membangun peradaban dan kemakmuran alam raya.

Dalam ilmu, posisi manusia menjadi sangat sentral. Tujuan akhir pencarian ilmu pengetahuan adalah menjadikan manusia sebagai hamba Allah dan makhluk sosial yang baik. Maka, sistem pendidikan mestilah mencerminkan manusia, bukan manusia sekadarnya, melainkan manusia universal atau manusia sempurna, insan kamil. Karena konsep pendidikan terutama berkenaan dengan manusia, maka perumusannya sebagai suatu sistem harus mengambil model manusia sempurna sebagaimana terpatri dalam pribadi tauladan, Nabi Muhammad SAW.

Pendidikan Islam haruslah menjadikan pribadi dan karakter Nabi SAW sebagai model untuk memproyeksikan pengetahuan dan tindakan yang benar dan universal. Fungsinya untuk menghasilkan manusia yang mutunya sedekat mungkin dengan pribadi dan karakter sempurna, setidaknya menjadi manusia yang baik dan beradab – sesuai potensi bawaan masing-masing.

Dengan menghasilkan manusia-manusia ideal, pendidikan Islam pada dasarnya merupakan salah satu personifikasi kenabian. Setidaknya ia menjalani semangat profetik, menyelenggarakan amar ma’ruf nahi mungkar, mengupayakan pemberdayaan, dan merancang praksis pembebasan – bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Keluaran pendidikan Islam di samping menjadi manusia cerdas, juga manusia praktis, yaitu manusia yang mampu memproyeksikan ilmu pengetahuan bagi transformasi dirinya dan umat manusia lain, bagi pergaulan sosial, penguatan masyarakat, penataan peradaban, dan bagi kedamaian alam raya secara universal.

2

Inovasi dalam bidang pendidikan, termasuk pendidikan Islam, adalah pilihan penting di tengah lilitan pelbagai persoalan yang mendera bangsa dewasa ini. Gagasan gagasan besar sudah gencar dihembuskan untuk mempersiapkan generasi penerus cita-cita bangsa – paling tidak membekali mereka agar memiliki ketahanan moral –menghadapi pelbagai tantangan masa depan yang lebih kompleks.

Pelbagai model pendidikan alternatif mulai diperkenalkan di Indonesia, dengan semangat mentransformasikan pemikiran menjadi aksi-aksi nyata mengubah cara membangun manusia Indonesia yang berkualitas. Model-model pendidikan yang mempromosikan nilai-nilai unggul tersebut tercermin dalam konsep-konsep mengenai pendidikan inklusif, pendidikan nilai, Pendidikan kesetaraan, pendidikan terpadu, Islamisasi pendidikan, green schools, pendidikan inklusi, pendidikan bernuansa alam, dan pendidikan karakter.

Semua konsep tersebut benar dan baik adanya. Yang mana dari semua inovasi itu dibutuhkan dan bisa diterapkan sangat tergantung kepada kondisi peserta didik dan lingkungan sekolah serta masyarakat sekitar. Beberapa best practices telah menghasilkan optimisme yang tinggi, terutama dengan tumbuhnya kesadaran dari kalangan masyarakat untuk terlibat aktif dalam gerakan pendidikan alternatif itu.

Masyarakat mulai merasa penting keluar dari kebekuan – atau perangkap – sistem pendidikan mainstream yang berlaku sekarang ini. Hanya saja, gerakan pendidikan alternatif perlu massifikasi, mainstreaming, dan pembudayaan terus-menerus
sehingga dapat menghasilkan perubahan yang signifikan dalam pembentukan karakter manusia Indonesia.

3

Alamtara Islamic School (AIS) adalah pilihan emansipatoris dalam upaya menemukan manusia Indonesia baru melalui jalur pendidikan. Fokus pada ranah pendidikan menengah adalah bagian dari pilihan strategis, mengingat arti pentingnya sebagai fondasi bagi bangunan kualitas dan citra generasi bangsa masa depan.

Karakter manusia Indonesia di masa datang sangat bergantung pada fase-fase awal perkembangan manusia (formative period), yaitu masa kanak-kanak dan masa beranjak remaja. Pada masa inilah nilai-nilai unggul dan karakter ditanamkan dan dikembangkan untuk melatari perkembangan kehidupan sosial di kemudian hari.


 

MENGAPA AIS DI BIMA?

  1. Bima adalah masyarakat Muslim di Kawasan Indonesia bagian timur, dan salah satu pusat kajian Islam di Nusantara tempo dulu.
  2. Bima adalah poros bagi daerah tapal kuda Islam: Makassar, Bima, Lombok, dan Flores Barat, berinteraksi secara intensif dengan masyarakat beda agama dan kultur dari sebelah timur (NTT) dan sebelah barat (Bali).
  3. Realitas masyarakat Bima yang memiliki komitmen tinggi di bidang pendidikan dan agama, dan kondisi geografis dan sosio-religio-politik wilayah Bima dan sekitarnya, mengharuskan adanya institusi handal di bidang pendidikan.

 

AIS secara konseptual dan kultural mendukung visi-misi Kota Bima dan Kabupaten Bima sebagai smart city, agamis, dan ramah. Namun demikian, AIS tetap bergerak dalam kerangka membangun visi kebangsaan, keummatan, dan kemanusiaan universal. 

Think globally, act locally.