Sarana-Prasarana

Pembelajaran AIS mengutamakan kenyamanan, mobilitas, dan dinamika. Dialog-interaksi dengan alam-lingkungan sekitar, dengan guru-tendik dan sesama murid penting difasilitasi oleh ekosistem sekolah yang ramah, bebas asap rokok, asri, tertata, dan menunjang tumbuhnya imajinasi kreatif.

 

SARANA-PRASARANA/FASILITAS

  • Ruang kelas unik bernuansa alam
  • Perpustakaan yang lengkap
  • Sarana bermain
  • Ruang IT/multimedia
  • Aula/balai pertemuan
  • Klinik
  • Cafetaria
  • Saung belajar
  • Galeri seni dan alat-alat kesenian
  • Arena outbond
  • Green Area
  • Cottage bagi peneliti/volunteer

“SMART CLASS” UNTUK KREATIVITAS SISWA

Untuk menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda dan unik, AIS mengembangkan konsep kelas dengan pemanfaatan ruang sedemikian rupa. Kelas didefinisikan secara luas, tidak terbatas pada bilik-bilik tersekat dengan ukuran ruang tertentu yang cenderung membatasi suasana berpikir siswa.

Moving class (kelas berpindah) diterapkan untuk menghindari interaksi belajar yang monoton. satu minggu di kelas dengan layout meja-kursi yang berjejer yang menggambarkan hierarki, di minggu berikutnya siswa belajar di kelas dengan desain meja bundar untuk menghadirkan suasana dialogis, di minggu lain siswa mengalami belajar dengan layout meja rapat yang menghasilkan suasana dinamis, serta di minggu berikutnya siswa belajar di ruangan berbangu dengan duduk bersila untuk memfasilitasi pembejaran etika warisan masa lampau. 

Smart Class dilengkapi dengan samart TV dan perangkat pembelajaran yang interaktif dan estetik.

 

LOKASI/LAHAN

AIS dibangun di atas lahan seluas 3.500 m2 terletak di pinggir pantai di Kelurahan Ule, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. 

Area sekolah berhadapan langsung dengan pantai yang tenang dan dinaungi oleh pepohonan rindang dari pegunungan dan hutan mangrove yang rimbun.



DESAIN KELAS DAN MAKNANYA

Ruang kelas didesain dengan empat model, menggambarkan keragaman pengalaman kelas yang dinamis, menciptakan situasi belajar yang tidak membosankan.

1Model Struktural: Meja kursi dijejer dalam 3 kolom dengan masing-masing kolom 5 unit meja-kursi. Meja-kursi guru terletak di tengah ruangan di depan kelas. Model klasik ini bukan terutama untuk menciptakan hierarki, namun bagus untuk membangun otoritas kelas, dibutuhkan pada fase awal pembentukan karakter belajar.

2. Model Dialogis: Konstruksi ruangan semi terbuka dengan meja bundar yang dikelilingi kursi siswa, dimaksudkan untuk menciptakan kelas yang dialogis dan setara. Ini untuk menetralisir model no.1 di mana siswa dan guru berada pada posisi yang setipa murid dapat berinteraksi secara lebih dinamis dan dialogis. Papan tulis tidak hanya berada di sekitar guru, tetapi juga di sekitar murid, menciptakan pertukaran ide secara lebih cair. Model ini mendukung semangat student centre learning, di mana setiap murid menjadi pusat dalam proses pembelajaran, sedangkan guru menjadi fasilitaor, cocok untuk pembekajaran berbasis projek dan pemecahan masalah.

3. Model Kolaboratif: Meja disusun membentuk huruf U menghadap ke layar atau papan tulis. Dengan ini siswa dapat melihat satu sama lain, mendukung diksusi dan presentasi, menghasilkan suasana kolaborasi dan dinamis dalam kelas. Model ini di AIS dipadukan dengan nuansa rak-rak buku di bawah meja, sehingga siswa dan guru dapat dengan mudah dan seksama mengkases kepustakaan yang diperlukan di saat pembelajaran berlangsung.

4. Model Bersila/Lesehan: di AIS model ini duterapkan dalam pembelajaran agama berpusat di masjid/musholla. Meja disusun membentuk setengah lingkaran, di mana murit dan guru duduk bersila di atas karpet. Model ini digunakan untuk menanamkan etika pelajar sebagaiamana ditekankan oleh Adab al-ta’lim al-muta’allim (etika pembelajaran dan).

5. Model Outdoor: Pembelajaran di ruang terbuka, hanya ada papan tulis dan alat peraga portabel, dimaksudkan untuk menciptakan suasana belajar yang dinamis dan fun. Pembelajaran outdoor diunakan untuk kelas berbasis projek, seni-prakarya, olahraga, dan refleksi.