Ang Rijal Anas

Alumni Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Founder Komunitas Mbojo Itoe Boekoe

Kita (memang) Masih Melihat Laut sebagai Pemisah

Minggu ini, pemberitaan media massa tersedot oleh berita pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Menurut beberapa sumber, hal ini bukanlah perkara baru. Pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa ialah keinginan lama, sejak puluhan tahun lalu. Tahun 2011, masyarakat melalukan rapat akbar terkait hal ini. Dokumentasi rapat tersebut beredar juga di media sosial baru-baru ini.Wal […]

Kita (memang) Masih Melihat Laut sebagai Pemisah Read More »

Melihat Manusia 576 Km

Sejauh ini, ini yang paling jauh! Saya berkendara seorang diri Yogyakarta-Jakarta, kemarin. Ya, dua hari di perjalanan. Mungkin lama, tapi memang saya sengaja untuk tidak terburu-buru. Niatnya buat menikmati perjalanan. Capek, istirahat. Bosan, istirahat. Ngudud, istirahat, Gerimis-hujan, istirahat. Liat pemandangan bagus, istirahat. Pokoknya banyakan istirahatnya!Saya mafhum, ini momen lebaran. Orang mudik, jalanan ramai – kata

Melihat Manusia 576 Km Read More »

Kultur Lahirnya Karya Besar

MENGUKUR sebuah karya untuk menyebutnya sebagai karya besar-kecil, bagus-jelek, dan ribuan penilaian lainnya tentu bersifat subjektif. Ranah yang mungkin ganjil untuk sebagian orang. Seperti kata N. Marewo dalam Pidato Kebudayaan Mbojo Writers Festival 2021 berjudul Budaya Baca-Tulis dan Proses Penulisan bahwa untuk menilai sebuah karya (sastra) atau detail-detail proses berkarya ialah domain kritikus sastra.Namun, kreativitas

Kultur Lahirnya Karya Besar Read More »

Quo Vadis Islam Modernis?

PERHELATAN Pemilu 2024 semakin menarik untuk dilihat perkembangannya. Mulai dari patgulipat sistem SIREKAP yang diklaim banyak menimbulkan “omon-omon” di tengah masyarakat sampai cawe-cawe yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo. Namun, mau bagaimanapun prosedur dan jalannya, hasil akhir dari KPU menjadi tolok ukur untuk Pemilu.Keadaan yang sama juga dirasakan di berbagai penjuru tanah air. Salah satunya

Quo Vadis Islam Modernis? Read More »

Melihat Jago-Jago Lokal Beraksi

PERGULATAN proses demokratisasi di Indonesia mengalami angin segar pasca reformasi. Secara umum, reformasi membawa perubahan yang signifikan dalam panggung politik Indonesia, di mana presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya. Selain itu, peran militer dalam politik juga sedikit banyak berhasil dikembalikan ke kandangnya.Dalam masa transisi tersebut, bagaimana situasi politik di daerah merespons reformasi? Apakah daerah juga

Melihat Jago-Jago Lokal Beraksi Read More »

Etika Publik dan Keadaban Publik

SEMALAM, baru saja dilangsungkan debat pertama calon presiden 2024. Kesempatan ini menjadi salah satu kesempatan bagi para kandidat untuk memaparkan visi, misi, gagasan, dan apa pun yang mereka ingin lakukan untuk Indonesia ke depan.Tema pertama yang dibahas yakni soal Hukum, HAM, Pemerintahan, Pemberantasan Korupsi, dan Penguatan Demokrasi. Pertanyaan-pertanyaan dari panelis debat telah tersegel rapi di

Etika Publik dan Keadaban Publik Read More »

Kaidah Terakhir Agus Gunawan (Obituari untuk Agus Gunawan)

RUANG kelas di pojok yang panas itu baru saja ditinggalkan siswanya. Tengah hari, di bawah terik siswa keluar pada rehat kedua ogah-ogahan masuk kelas kembali. Seperti biasanya, dan hari-hari sebelumnya. Mata pelajaran yang sarat kekakuan, namun diabaikan. Mungkin juga tidak, namun daya remaja untuk bermain lebih keras untuk sekadar mendengar dan mencatat diktat serta kaidah

Kaidah Terakhir Agus Gunawan (Obituari untuk Agus Gunawan) Read More »

Bangkitnya Sutan Sjahrir gara-gara Gibran dan Golkar

POLITIK Indonesia bergerak cepat. Lebih cepat dari yang dibayangkan. Presiden Jokowi akhirnya merestui dengan malu-malu anaknya menjadi calon wakil presiden dengan mekanisme super kilat melalui Mahkamah Konstitusi Keluarga (MK). Lembaga negara yang dipimpin oleh ipar presiden tersebut setidaknya sudah menumpahkan pelumas untuk mulusnya jalan anak presiden: Gibran Rakabuming Raka.Keriuhan publik tumpah ruah di berbagai media

Bangkitnya Sutan Sjahrir gara-gara Gibran dan Golkar Read More »

“Dijual: Iman, Siapa Mau Beli?”: Sinetron Para Pencari Tuhan

“Dijual: Kelas sosial, siapa mau beli?” itu ialah salah satu kredo Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya Affair: Obrolan Urban. Kredo itu muncul dalam esainya Wacana Kasihan yang menyoroti tumbuhnya kelas menengah dan ekonomi baru di Jakarta. Kelas sosial ini dibombardir sedemikian rupa oleh iklan sehingga membentuk gaya hidup baru masyarakat urban.Seno berargumen, pertumbuhan ekonomi lewat

“Dijual: Iman, Siapa Mau Beli?”: Sinetron Para Pencari Tuhan Read More »

Perjuangan Kelas dan Menguatnya Identitas dalam Sinetron Para Pencari Tuhan

SINETRON Para Pencari Tuhan (PPT) memang sudah berakhir. Namun, jika kita lihat kembali ada beberapa isu sosial yang bisa kita tilik lebih jauh untuk bisa kita pelajari sebagai bagian dari grand theory dalam ilmu-ilmu sosial. Tulisan ini, bukan hendak membesar-besarkan sebuah sinetron yang sudah dalam kubur itu. Namun, ingin meng-highlight, contoh-contoh kecil – yang bahkan

Perjuangan Kelas dan Menguatnya Identitas dalam Sinetron Para Pencari Tuhan Read More »