Pinje-Panje, Sesenggaq, dan Lelakaq: Tiga Pilar Paradigma Edukatif Suku Sasak

SETIAP daerah pada setiap belahan bumi, di seantero dunia memiliki warisan dan tradisi luhur, kaitannya dengan budaya pembelajaran (transformation of knowledge). Realitas ini sebagai konsekuensi nyata upaya manusia untuk survive, sembari menjadikan bumi sebagai hunian yang jauh lebih baik, aman dan makmur.

Manusia adalah makhluk pembelajar yang tidak stagnan dan statis, akan tetapi terus bergerak dinamis, dan bahkan memiliki pergerakan yang terkadang kuatum immeasurable, karena pada hakikatnya belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang penting bagi keberlangsungan hidup manusia.

Kecendrungan manusia untuk selalu belajar dan ingin tahu ini, dalam kajian Islam teruang pada QS. al-Baqarah ayat 31, yang artinya; “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”

Tulisan ini adalah edisi akhir, yang merupakan gabungan dan kajian dari tiga edisi sebelumnya (sesenggaq, lelakaq, dan pinje-panje). Narasi ini, adalah substantif karena ketiga bentuk foklor dan pameo tersebut berhubungan satu dengan yang lainnya.

Sebagai sebuah kerangka konsep metode pendidikan, yang mencerminkan kematangan metodologis paradigmatik masyarakat Sasak, dalam menyuguhkan dan menjalankan sistem pendidikan lokal. Hal tersebut akhirnya mampu menopang dan mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal Sasak dalam seni, moral, dan kerangka berfikir yang masih  bisa diamati dan berkembang hingga sekarang.

Merenungkan kembali pendidikan sebagai suatu usaha sadar yang dilakukan melalui proses bertahap sesuai dengan tingkatan dan tujuan yang ingin dicapai. Sri Minarni dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam: Fakta-Teoritis, Praktis, dan Aplikatif Normatif, Jakarta: Amzah, 2013, hlm. 37, menegaskan bahwa melalui proses dan tahapannya, pendidikan Islam tertuju pada pencapaian tujuan hidup muslim: menumbuhkan kesadaran manusia sebagai mahluk Allah Swt, tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang berakhlak mulia, sehat jasmani-rohani, dan selalu beribadah kepada-Nya. Hal ini senada dengan pendapat al Ghazali bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk manusia paripurna dunia dan akhirat.

Kembali mencermati ketiga foklore instrumen pendidikan Sasak tersebut, terlihat jelas tahapan demi tahapannya, mulai dari kategori sastra anak, hingga dewasa, dan orang tua hingga pada tahapan pujangga.

Pinjepanje  (teka-teki lokal Sasak) yang terdiri dari dua kata yang sekaligus menunjukan terminologinya: pinje merujuk pada soal atau subyek yang memberikan soal teka-teki, panje merujuk pada jawaban atau subyek yang menjawab teka-teki, dikategorikan sebagai sastra anak.

Folklore ini merupakan salah satu instrumen pendidikan tradisional Sasak, yang memiliki beberapa manfaat secara ethic, esthetic, educative, social solidarity, maupun behavior concept learning, dan lain sebagainya. 

Baca juga: Pinje-Panje (Kecerdasan Terselubung Masyarakat Sasak)

Baca Juga  Lombo' Mirah Sasak Adhi

Adapun sesenggaq, adalah salah satu metode yang digunakan oleh masyarakat Sasak secara generative, sebagai sebuah instrumen pendidikan lokal, dalam tradisi tawashao (saling manasehati).

Dalam porsinya sebagai tradisi pembelajaran, sesenggaq bertujuan untuk meluruskan dan membentuk perilaku, dan penguatan karakter masyarakat Sasak, dengan metode yang baik, santun, dan tentunya lebih bermartabat dengan tidak serta merta menuding dan menyalahkan langsung.

Kodekologi sesenggaq dilatarbelakangi oleh adanya kepedulian pada setiap kekeliruan dan kesalahan yang ada, namun selalu tetap mengedepankan cara dan metode terbaik dalam mengoreksi. Kearifan dan kematangan metodologis mendidik masyarakat Sasak-Lombok, yang teraktualisasi melalui tradisi sesenggaq ini, sejalan dengan konsep metode pendidikan Islam dalam QS. an-Nahl  ayat 125. 

Baca juga: Sesenggaq: Kebijaksanaan Metodis Pendidikan Sasak

Adapun hubungan antara lelakaq  dan sesenggaq sebagaimana dijelasakan sebelumnya, bahwa: Pertama, Sesenggaq merupakan sampiran dari lelakaq. Kedua, pemberian arti dan makna terhadap sampiran “sesenggaq” dalam lelakaq, berdasarkan pertimbangan kesesuaian bunyi dalam pengungkapan bahasa Sasak.

Ketiga, lelakaq yang baik dan benar, adalah yang sampiran “sesenggaq”-nya, memiliki tetap makna denotasi yang benar dan sesuai. Beberapa lelekaq sering dikelompokkan berdasarkan: tema dan kandungan, waktu dan keadaan, serta emosi dan nuansa estetis.

Berdasarkan kandungannya, ada lelakaq yang bertemakan agama, pendidikan, petuah, dan lain sebagainya. Berdasarkan waktu dan keadaan, ada lelakaq yang didendangkan ketika bertani, memomong bayi ‘bedangah”, berpacaran “beberaye” atau upacara pernikahan. Sementara berdasarkan muatan keadaan dan emosi, ada lelakaq yang bertemakan cinta dan kekecewaan, perjuangan dan keputusasaan.

Dalam kajian metodologis, lelakaq merupakan sesenggaq yang maknanya sengaja difokuskan untuk tujuan tertentu.  Lelakaq,  merupakan pengejewantahan fokus dan tujuan yang ingin dicapai: yang tadinya  dikonotasikan secara bebas dan terbuka menjadi lebih spesifik, khusus, dan tematis.

Dari narasi singkat ini, semakin mempertegas tahapan-tahapan kematangan metodologis masyarakat Sasak dalam mendidik dan memahami kerangka ilmu pengetahuan “transformation of knowledge”. Mulai dari pinje panje, sesenggaq, hingga menjadi lelakaq.

Baca juga: Lelakaq: Kebijakan Metodis Pendidikan Sasak

Dari sini, tergambar jelas bahwa masyarakat Sasak sudah mengenal tahapan-tahapan pendidikan, tujuan khusus dan fokus dalam melakukan sesuatu.

Ketiga folklore ini, menunjukkan kompleksitas khazanah keilmuan masyarakat Sasak dalam bingkai perbendaharaan pengetahuan lokal, khususnya terkait materi, paradigma, dan metode pendidikan. 

Baca Juga  Sesenggaq: Kebijaksanaan Metodis Pendidikan Sasak

Berikut disajikan satu buah pinje-panje, sesenggaq, dan lelalaq yang sudah profesional. Dalam perspektif metodologis (hermeneutika pembebasan), yang sudah berbentuk aksi di zaman modern dan disesuaikan dengan keadaan dan kondisi.

Mun kentujur ariq jangke randang

Mun te renge ariq daun ne galang

Mulen lacur ariq bagian awaq

Sin beraye ariq tebait doing

Beleq ujan kakak lek kemalem

Jajar batu kakaq leq bawaq nangke

Belek susah kakaq saq berangen

Lantaran aku kakaq dengan nerake

Kadiq taok arik kedele jarin

Cobak talet ari araq setinggang

Kadik taok arik sak meni jarin

Jak ku andek ariq angen sak girang

Mun lebui kakak daun kesune

Pinak jongkong kakak sak betali

Nyesel muri kakaq ndek begune

Mun tesorong kakak isik janji

Nyesel muri gamak kakak ndek begune

Mun tesorong gamak kakak isik janji jarin

Jakku andeq gamak kakak angen saq girang

Mun lebui kakaq daun kesune

Ini merupakan gabungan dan bentuk sempurna dari ketiga folklore di atas, dan menjadi lagu modern dengan judul Nyesel Muri, yang menceritakan tentang kisah penyesalan seseorang yang selalu datang terlambat, terutama saat berada di fase mencintai dalam hidupnya. Lagu ini populer kurang lebih sejak 10 tahun yang lalu.

Mengakhiri narasi ini, penulis mengutip pernyataan al-Kindi (w. 873 M), seorang filsuf muslim awal terkemuka ini mengatakan: Seyogyanya kita tidak merasa malu menerima dan menjaga suatu kebenaran dari manapun ia berasal, meski dari bangsa-bangsa yang jauh dan berbeda dari kita”.[]

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *