Beban Ganda Ilmuwan Sosial

PALING tidak ada tiga cara mainstream bagaimana orang melihat posisi ilmu pengetahuan. Pertama, pemilahan atas dua gerbong besar ilmu pengetahuan yaitu ilmu alam dan ilmu sosial. Ilmu alam adalah ilmu pasti, eksakta, hukum sebab akibat, di dalamnya ada matematika, kimia, fisika, geografi, robotika, dan lain lain. Sedangkan ilmu sosial berbicara tentang manusia, aktivitas manusia, pilihan-pilihan tindakan, pengaruh, komunikasi, dan pola-pola interaksi, di dalamnya sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, simbol, ilmu komunikasi, psikologi, budaya, dan bahkan agama karena agama dipandang sebagai aktivitas manusia.

Cara pandang kedua adalah pemilahan ilmu pasti, ilmu sosial, dan ilmu agama Islam. Islam dikeluarkan dari ilmu sosial menjadi kajian sendiri yang di dalamnya ada akhlak, Kalam, turats, tarikh, fiqh, ushul fiqh, tasawuf, dan lain lain.

Cara pandang yang ketiga adalah bermuara pada ilmu agama Islam yang mempelajari masalah dunia dan masalah akhirat. Dunia yang dimaksud dalam agama Islam masuk ke dalam ilmu pengetahuan, baik ilmu alam maupun ilmu sosial.  Tiga cara melihat di atas lahir dari tiga pintu masuk yang berbeda pula. Ada yang mulai dari keraguan “skeptisisme”, dan ada yang mulai dari pintu keyakinan “iman”.

Cara Pandang Sistem

Dalam kehidupan terdapat tiga sistem yang kita kenal dengan istilah mechanical system, biological, dan social system. Sistem adalah satu kesatuan utuh yang terdiri dari komponen-komponen inti dan komponen tambahan. Sistem mesin sebagaimana mesin pada sepeda motor yang terdiri dari komponen-komponen inti dan komponen tambahan, jika terjadi masalah pada sepeda motor tersebut misalkan komponen rantai putus maka cara menyelesaikannya adalah dengan mengganti komponen yang rusak tersebut.

Sistem biologis sebagaimana sistem pada makhluk hidup memiliki komponen-komponen yang melahirkan identitas hidup. Cara kerja pada sistem biologis apabila ada komponennya bermasalah maka tubuh akan melakukan “autopoesis” atau memperbaiki dirinya secara alami. Istilah autopoesis diperkenalkan oleh Humberto Maturana dalam karyanya yang berjudul Autopoesis and Cognition: The Realization of Living (edisi pertama 1973).

Autopoesis merujuk pada peristiwa sistem tubuh yang mampu memperbaiki dirinya sendiri. Misalnya, Kinerja obat apabila kita sakit maka distimulasi agar sistem autopoesis bekerja maksimal. Sistem sosial adalah sistem yang terbentuk karena adanya interaksi antara subjek dalam masyarakat. Sistem sosial bisa berupa kelompok, komunitas, masyarakat, dan organisasi formal.

Sistem sosial bersifat kompleks dan tidak mekanik. Cara menyelesaikan masalah dalam sistem sosial tidak segampang menyelesaikan masalah seperti sistem mesin dan sistem biologis. Sistem sosial memiliki problem yang kompleks dan selalu mengalami perubahan setiap saat. Bagaimana menyelesaikan problem sosial di masyarakat? Inilah pekerjaan rumah yang perlu dipecahkan

 Beban Ganda Ilmuwan Sosial

Segala hal di hadapan kita, baik yang sifatnya abstrak maupun konkrit adalah “untuk, oleh, dan dari” manusia itu sendiri. Ia (segala hal di luar diri subjek) merupakan instrumen untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan fasilitas untuk menyelesaikan problem sosial di masyarakat.  “How to know the world and how to change the world”. Tugas untuk “mengetahui” diambil alih oleh ilmuwan-ilmuwan alam sedangkan sisanya diambil alih oleh ilmuwan-ilmuwan sosial humaniora.

Tugas Ilmuwan alam relatif lebih mudah karena alam bersifat ajeg, tidak perlu dijelaskan karena dia mampu menjelaskan dirinya sendiri. Contoh matahari terbit di timur dan terbenam di barat, es itu dingin dan api itu panas. Fenomena-fenomena tersebut tidak perlu dijelaskan karena tindakan yang sia-sia, cukup memakai common sense. Lalu apa tugas ilmuwan alam? Tugas mereka adalah menjelaskan fenomena-fenomena di luar kenormalan yang nantinya kita kenal dengan istilah deviasi.

Misalkan fenomena tongkat lurus yang  ketika dimasukkan ke dalam air kelihatan bengkok, ilmuan alam lah yang harus menjelaskan kenapa tongkat tersebut terlihat bengkok. Untuk mengetahui sesuatu mengalami deviasi tentu mereka harus memiliki pengetahuan dasar tentang kenormalan. Misalkan kenormalan fisik manusia atas apa yang disebut dengan sehat, tekanan darah, kadar gula darah, hemoglobin, tes urine dan lain sebagainya.

Kemudian ketika ada seseorang terdiagnosa keluar dari kenormalan maka ilmuwan alam akan memvonis bahwa seseorang itu sakit. Tugas selanjutnya memberi resep obat untuk menormalkannya kembali. Kemampuan kognitif untuk menghafal dan memahami sangat dituntut untuk merekam kenormalan.

Ilmuwan alam mengklaim diri lebih ilmiah dari ilmu sosial, sebab temuan-temuan mereka berlaku universal. Vaksin virus yang dipakai di daerah tertentu, misalkan, akan bisa dipakai di daerah manapun di dunia. Sedangkan ilmu sosial tidak berlaku universal, terkadang apa yang berlaku di Amerika tidak bisa diterapkan di Indonesia, sehingga cirinya adalah studi kasus. Superioritas ilmu alam berimbas, antara lain, pada mahalnya biaya kuliah pada jurusan-jurusan tertentu semisal kedokteran, keperawatan, kebidanan dan lainnya.

Ilmuwan alam bangga karena telah berkontribusi langsung terhadap kesehatan manusia, menciptakan teknologi pertanian, teknologi komunikasi dan transportasi. Penemuan-penemuan ilmuwan alam atas teknologi mulai dari revolusi industri 0.1 hingga revolusi industri 4.0 memberi dampak langsung kepada perubahan sistem sosial baik merubah pola interaksi, pola produksi dan pola konsumsi (hunting gather society, agro literal society and modern society).  

Akibat ikutan atas temuan dan penciptaan alat-alat baru yang dihajatkan untuk membantu kerja dan kinerja manusia tersebut jelas memberi tugas tambahan bagi ilmuwan sosial. Ilmu pada ilmu sosial tidak hanya dihafal, difahami dan bahkan dijelaskan. Realitas sosial tidak hanya membutuhkan skill penerjemah sosial untuk menggambarkan realitas sosial semata “karena ceramah tidak mampu menembel ban yang bocor” namun dituntut untuk merubahnya menjadi yang ideal. Ilmuwan sosial membutuhkan standar ideal, yang menjadi acuan untuk mendiagnosa fenomena sosial.  

Ilmuwan sosial dituntut menentukan idealitas yang disepakati bersama, dari yang ideal itulah ilmuwan sosial dapat mengetahui istilah deviasi atau patologi sosial. Patologi sosial secara definisi berarti semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan dan stabilitas lokal. Inilah yang membuat kajian  ilmu sosial  lebih kompleks dan rumit namun kaya.

Beban ganda Ilmuwan sosial yang penulis maksud adalah selain dituntut untuk memahami, menghafal dan bahkan memiliki skill mendeskripsikan realitas, ilmuwan sosial dituntut juga untuk merubah, mewujudkan, menormalisasi dalam bentuk yang ideal.[]

Ilustrasi: geralt/pixabay.com

4 komentar untuk “Beban Ganda Ilmuwan Sosial”

    1. Agus Dedi Putrawan

      Untuk saat ini belum ada the ideal state of sosial Order. Ini PR bersama.
      Dalam realitasnya Setiap kepala, setiap kelompok, komunitas dan bahkan organisasi membawa kebenaran masing-masing, lalu bagaimana menentukan standar moral ideal yang disepakati bersama? Kayaknya itu pertanyaan yang tepat.
      Dalam struktur sistem ada namanya komponen varian (yang berbeda-beda) dan ada namanya invarian.

      Kehidupan sosial membutuhkan dialog yang mempertemukan antar varian-varian kebenaran yang nanti menyepakati invarian bersama.
      Ada nilai yang sama yang dapat diterima oleh semua orang dalam perbedaan pendapat, misalkan menyakiti dan lain2.

      1. Lho… Bukankah sudah ada panduan nilai – nilai yang dimaksud tersebut sejak abad ke 6… Sidiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah…

        1. Faham, sudah ada sejak abad ke 6. 1. Sidiq, amanah, tabliqh dan fathonah…Cuman dihafal-hafal saja kan?.
          2. Kalau tidak percaya coba survei ke desa-desa ke kepala desa- kepala desa deh kalau ditanya sepakat dengan nilai itu pasti jempol tapi kalau prakteknya?

          Terus perhatikan kalau mata pelajaran agama di sekolah dasar, menengah dan atas. Tingkat religiusitas anak-anak didik diukur dari hafalannya, dengan hafalannya diduga akan bisa sidiq, amanah, tabligh dan Fatanah..

          Karena soalnya seperti ini … Sebutkan pengertian sidiq, amanah, tabligh dan Fatanah..?
          Nah jika dia bisa jawab, apakah dia seorang yang sidiq? Apakah dia seorang yang amanah dan lainnya.?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *