Investasi yang Tekor dan Makan Siang yang Batal

ENTAH MENGAPA kaum ibu senang sekali menghadiri acara yang di situ ada Tokoh Kita. Rupanya diam-diam mereka ngefans berat sama Tokoh Kita, seakan-akan ia selebriti saja. Ia memang banyak penggemarnya, terutama dari kaum hawa. Bukankah seorang ulama besar di kota ini yang sudah almarhum dulu sering memanggil Tokoh Kita sebagai bintang film?

Gaya komunikasi Tokoh Kita memang agak unik, bahkan lihai. Kalau bicara pada kaum Adam suka keras, meledak, dan nantang-nantang. Tapi kalau di hadapan ibu-ibu suaranya merayu mendayu-dayu. Itulah mungkin salah satu penyebab kenapa ia digemari kaum ibu.

  “Iya, ceplas-ceplosnya itu lho,” kata ibu Fatima, istri ketua RT. “Tidak membosankan dan tidak susah dipahami kayak orang-orang lain bicara.”

“Kalau saya itu lho. Kelitikan jarinya kalau lagi pegang kretek Dji Sam Soe. Senang ngeliatnya. Geli deh!” timpal ibu Ros yang janda sambil senyum-senyum.

“Hus, ngawur! Emang kamu bayangin apaan?” sergah ibu Fatima lagi.

“Kalau saya gaya sinterklasnya itu yang ditunggu. Lumayan buat nambah beli kebaya baru untuk pesta pernikahan,” kata ibu Ani yang guru sekolah dasar.

“Wah, seru! Bagaimana tuh ceritanya,” sergah sang janda penasaran.

Memang sudah banyak beredar cerita seputar kedermawanan Tokoh Kita. Misalnya kalau ada tamu dari kalangan kolega pasti Tokoh Kita merogoh kantongnya dalam-dalam. Atau kalau berbelanja, kembaliannya tidak pernah mau diterima. Atau kalau diminta apa saja tak pernah mampu menolak.

Yang seru tentu tadi itu, kalau ada pertemuan. Biasanya Tokoh Kita menyelingi pidatonya dengan hiburan menyanyi. Bukan ia sendiri sih yang menyanyi, tetapi dipanggilkan dari hadirin. Kalau sudah masalah menyanyi, biasanya ibu-ibu jagonya. Yang punya nyali tentu angkat tangan dan maju ke depan untuk menghibur para hadirin. Setelah selesai tugasnya, pasti uang seratus ribuan berpindah tangan.

Mengetahui kebiasaan itu, para ibu mulai belajar nyanyi. Mereka menghiba pada suami untuk dibelikan perangkat karaoke dan meng-update lagu-lagu yang lagi ngetrend. Untuk jaga-jaga kalau suatu saat dipanggil nyanyi oleh Tokoh Kita. “Ayo dong, Pa! Kan nanti kembali juga modalnya.” Setelah dirayu biasanya para suami takluk.     

Kali ini Tokoh Kita yang kewalahan. Melihat gelagat para ibu, hampir saja ia urungkan acara pidatonya. Tetapi sebagai pemimpin ia tidak boleh mematikan kreatifitas rakyatnya. Meskipun ada bau kapitalisasi, kreatifitas tetaplah kreatifitas, harus diapresiasi dan dikembangkan.

Mengetahui isi dompetnya tipis, Tokoh Kita khawatir. Diam-diam ia berdo’a semoga tak ada ibu yang berani tampil jika nanti ia meminta. Tapi doa para ibu yang sudah mati-matian berinvestasi dan berlatih menyanyi itu lebih diterima Tuhan. Mungkin karena mereka rakyat kali ya. Mereka berdo’a mudah-mudahan mereka ditunjuk maju.

Maka tatkala sesi menyanyi tiba, belasan ibu angkat tangan untuk maju menyanyi. Sekarang tanpa malu-malu lagi. Tokoh Kita kaget bukan alang-kepalang. Jangan-jangan uang di dompet tidak cukup untuk memberi tip para pengamen amatiran itu. Ada sebelas ibu-ibu yang menyanyi. Kalau masing-masing mereka seratus ribu rupiah maka ia membutuhkan 1 juta seratus ribu. Sangat tebal untuk ukuran dompet. Ia raba-raba pantatnya terasa tidak begitu tebal. Tapi apa lacur?

Setelah para ibu itu selesai dengan tugasnya menyanyi, Tokoh Kita membuka dompetnya dan membagi seratus demi seratus. Terasa lega karena semua kebagian. Kecuali ibu yang terakhir. Uang yang tersisa tinggal 20 ribu, dan ibu yang sial itu berubah air muka. Melihat itu Tokoh Kita merasa kasihan. Ia mulai berulah. Ia mencari seseorang dari deretan hadirin. “Mana kepala dinas?”

Yang dicari angkat tangan. “Mana uang seratus ribu?” Sang kepala dinas dengan celingukan keluarkan dompet dan mencomot uang seratus ribuan untuk diberikan kepada Tokoh Kita. “Nah, ini untuk ibu, dan ini untuk Bapak.” Lembaran seratus ribu berpindah ke tangan ibu itu dan lembaran 20 ribuan ke tangan kepala dinas. Selesai dengan cerdas.

Tapi sang kepala dinas merasa merana. Sepulang kantor ia mencak-mencak karena acara lunch-nya bersama seseorang yang sudah dijanjikan terpaksa batal. “Percuma beli karaoke. Bukannya untung malah nombok!”

“Lho, kan salah seorang ibu yang dapat lembaran seratus tadi istrimu ini, Pak. Masa nggak lihat?” gugat istrinya.

Wah, tadi itu mikirnya lunch terus sih![]

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *