Memahami Kematian, Menghargai Arti Hidup

SEKITAR 56 penumpang Sriwijaya Air menjemput takdirnya pada Sabtu siang tanggal 9 Januari 2021, mereka dengan senang dan bahagia membeli dan membayar tiket kepulangannya ke kampung halaman setelah menyelesaikan perjalanan terakhir dalam pengalaman hidupnya. Ternyata tiket yang dikantongi bukan tiket untuk pulang ke kampung halaman, tetapi tiket kematian yang membawanya pulang ke hadirat asal yang sesungguhnya.

Merenungi peristiwa musibah tersebut, menjadi pembelajaran hidup yang sangat penting bagi kita. Mereka ditakdirkan menghadap Allah azza wajalla dalam satu janji berjamaah. Takdirnya seperti itu, tanpa melalui sleksi usia dan status, Tuhan telah menulis janji terhadap 56 orang itu dalam satu gerbong kematian pada hari dan jam yang Tuhan sudah pahat dalam suratan yang tidak maju dan tidak pula tertunda. “Nahnu qaddarna bainakumul maut, wama nahnu bimasbuqin”. Kamilah yang mentaqdirkan kematian dan kami tidak pernah terlambat melakukannya. Demikian petutur Tuhan dalam firmanNya di surah ke 56 ayat 60.

Proses pembelian tiket, check in, terbang dan sampai akhir perjalanan Sriwiaya Air hari itu, hanya sebuah proses jalan untuk pulang menjumpai takdir yang tertulis di Lauh al Mahfudz, sebuah loker catatan tentang diri kita yang tidak pernah bisa kita lihat, tetapi pasti kita jumpai. Tuhan telah mengedukasi kita lewat fimanNya didalam surah ke 57 ayat 22, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Peristiwa yang amat dramatis dan singkat yang dialami penumpang Sriwijaya Air di atas menyadarkan kita ternyata misteri kematian selalu mengintai perjalanan hidup ini, di setiap waktu dan di setiap tempat dan keadaan. Para ulama salaf menjelaskan bahwa dalam proses kematian itu ada tiga yang Tuhan rahasiakan; yakni rahasia cara, rahasia waktu, dan rahasia tempat. Tuhan merahasiakan caraNya dalam mematikan hambaNya, entah dengan cara sakit, dengan cara terjangkit virus atau wabah, dengan cara jatuh, dengan cara mimpi dalam tidur, dengan cara kecelakaan, dengan cara berperang, dan sebagainya. Nabi menjelaskan rahasia Tuhan ini dengan sabdanya, “Almautu wahid asbabuhu mutanawwi’ah”. Kematian itu hanya satu, penyebabnya yang sangat banyak. Tuhan merahasiakan tempat di mana kita akan mati, entah di rumah, entah di rumah sakit, entah di negeri kita, entah di negeri orang, entah dalam perantauan. “La tadri nafsun biayyi ardhin tamut”. Tidak seorang pun tahu, di bumi mana dia akan dimatikan. Tuhan juga merahasiakan waktu kematian kita; entah hari ini, esok, atau lusa, atau pagi, siang, sore, atau malam. “La tadri nafsun ma taksibu godan”. Tak seorang pun tahu apa yang bakal terjadi pada dirinya esok pagi.

Rahasia ini sesungguhnya Tuhan berikan tidak lain agar kita-kita ini selalu semangat menikmati hidup, tidak syok dengan kematian, dan tidak pesimis menatap kehidupan. Namun hal yang harus kita sadari bahwa waktu dan kesempatan yang masih diberikan Tuhan untuk kita nikmati, haruslah kita jalani dengan baik dan penuh perhitungan, agar bernilai kebaikan dan keberkahan, karena kita tidak pernah tahu Tuhan telah memposisikan kematian kita pada giliran yang ke berapa?.

Akhir-akhir ini memang berita kematian terdengar ramai, entah karena covid, karena sakit, maupun karena musibah kecelakaan. Patut untuk kita curigai diri ini, bahwa kita pun akan segera ke sana cepat atau lambat, maka membuat agenda atau rencana strategis untuk bekal ke sana harus dimulai. Ingatlah di mana pada satu kesempatan Rasul SAW mengingatkan kita melalui sabdanya yang sangat singkat tetapi sarat dengan muatan pembelajaran, “Kafa bil mauti wa ‘idzho”. Cukuplah kematian itu menjadi pelajaran bagimu.

Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup ini teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga dan mengelola tanamannya dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, bahwa orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk terus mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat, karena dengan mengerti makna kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

Sebagai catatan akhir bahwa sekilas tentang proses kematian yang dialami oleh saudara-saudara kita, suatu saat akan kita songsong juga sebagai akhir dari perjalanan singkat hidup kita di bumi Tuhan. Betapa peristiwa kematian itu benar-benar terjadi, maka disamping merencanakan kehidupan saat ini, janganlah melupakan  rencana strategis untuk kehidupan yang abadi, hingga kematian kita benar-benar menjadi momen untuk meraih kehidupan yang lebih indah dan lebih membahagiakan, sebagaimana Rasul katakan tatkala kematian menjemputnya, “Ila rofiqil a’la”. Menjumpai teman yang terbaik lagi paling tinggi. []

Ilustrasi: tribunnews.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *