TUHAN menggunakan diksi yang berbeda-beda dalam membahasakan realitas kehidupan yang kita jalani di bumi, yang dituangkan dalam beberapa ayat di dalam firman-Nya, seperti pilihan diksi bahwa kehidupan ini bagaikan permainan dan senda gurau (hāżihil-ḥayātud-dun-yā illā lahwuw wa la’ib), kemudian kehidupan ini menjadi ujian (Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā) dan disebut juga bahwa kehidupan ini bagaikan perlombaan atau festival (fastabiqul-khairāt).
Ketiga diksi yang digunakan Tuhan sesungguhnya memiliki nilai dan makna yang sama, dalam ketiga diksi itu di dalamnya ada aktivitas perlombaan atau kompetisi, ada semangat persaingan, dan ada janji kemenangan.
Baca juga: Belajar Memahami Kehidupan
Semua kita sesungguhnya sedang bersaing merebut kemenangan dalam peran dan posisi masing-masing. Jangan disangka kita yang berada dalam situasi dan suasana yang tenang dan damai tidak bersaing, dan jangan pula dianggap bahwa seorang yang merasa sadar dan terdidik juga tidak bersaing.
Hidup ini memang bagaikan festival, di mana setiap event dari festival itu pasti ada peran-peran dan posisi yang dimainkan, dan masing-masing peran atau posisi itu tentunya dipilih dan dilakoni sesuai dengan kompetensi dan kualitas diri. Siapa yang sukses memahami peran dan posisinya dalam bentuk aktivitas karya nyata, maka dialah yang akan menjadi pemenang kehidupan.
Indikasi dari pemenang dalam festival kehidupan adalah dia yang menjalani peran dan posisinya dengan istikamah, dia yang berkarya dengan pemikiran yang positif, dia yang bersosialisasi dengan lurus, dia yang bermuamalah dengan jujur, dan dia yang beramal dengan ikhlas dan ihsan.
Peran atau posisi dalam festival kehidupan begitu banyak dan beragam. Yang harus kita pahami bahwa posisi kita di tengah komunitas apa saja adalah peran yang harus kita jalankan dan mainkan dalam festival kehidupan.
Dan semua peran dan posisi itu harus dilakoni dalam suasana bahagia, senang, gembira, dan tentunya all out atau sungguh-sungguh, karena peran dan posisi yang kita emban adalah pilihan kita masing-masing.
Dalam festival harus fokus dengan peran masing-masing, dan harus bersungguh-sungguh dalam menjalaninya. Artinya, dalam memainkan peran, jangan pernah melirik dengan iri—apalagi ingin mengambil peran dan posisi orang lain.
Mengapa harus bersungguh-sungguh dan tidak boleh iri dengan peran atau posisi orang lain? Ingatlah, bahwa dalam festival kehidupan ini bukan peran dan posisi yang menentukan hasil akhir, akan tetapi yang menentukan hasil akhir (baik dan buruknya) kehidupan yang kita jalani, bergantung bagaimana masing-masing diri memainkan perannya dengan sebaik-baiknya.
Jangan mengira bahwa peran sebagai tokoh, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun tokoh-tokoh yang lainnya akan otomatis hasil akhir dari kehidupan yang dijalaninya akan sangat baik, atau sebaliknya masyarakat biasa, rakyat jelata, dan kaum pinggiran akan memperoleh hasil akhir dari kehidupan yang dijalani lebih jelek ketimbang tokoh, belum tentu. Hasil akhir itu sangat bergantung bagaimana menjalankan peran-peran tersebut.
Penting dipahami, bahwa apabila masing-masing peran, seperti tokoh, rakyat biasa atau masyarakat pinggiran dapat menjalankan perannya masing-masing dengan baik, dengan ikhlas, dengan fokus, dengan profesional, dan dengan lurus, maka pasti hasil akhir dari kehidupan masing-masing peran itu akan baik.
Demikian pula sebaliknya, apabila masing-masing peran, seperti tokoh, rakyat biasa atau masyarakat pinggiran tidak mampu menjalankan perannya masing-masing dengan baik, tidak ikhlas, tidak fokus, tidak profesional, dan tidak lurus, maka pasti hasil akhir dari kehidupan masing-masing peran itu tidak baik
Jadi sekali lagi bahwa peran dan posisi manusia dalam festival kehidupan tidak menjadi penentu dari hasil akhir yang diraih, namun yang menentukan hasil akhir dari kehidupan adalah bagaimana kita memerankan dan memaknai peran dan posisi kita dalam kehidupan ini.
Baca juga: Momen Titik Balik Kehidupan
Tuhan dengan tegas menyatakan dalam kalam-Nya bahwa Dia tidak menilai suatu prestasi hidup berdasarkan peran dan posisi seorang hamba, akan tetapi prestasi dari festival kehidupan itu dilihat dari bagaimana menjalankan masing-masing peran itu dengan maksimal dan sungguh-sungguh.
Penegasan Tuhan itu dikomunikasikan oleh Nabi saw melalui sabdanya: “Innallaha la yandzuru ilaa suwarikum wa amwaalikum walakin yandzuru ila qulubikum wa a’maalikum” Sesungguhnya Tuhan tidak melihat fisik dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian [HR. Muslim].
Fisik dan harta semakna dengan peran dan posisi dalam festival kehidupan, sementara hati dan amal semakna dengan bagaimana peran itu dijalankan dalam wujud karya nyata yang sungguh-sungguh.
Menyimak tentang kehidupan sebagai festival dengan aneka ragam peran dan posisi yang ada, perlu kita pahami secara serius bahwa hidup ini menghendaki kita semua sebagai pemenang, apa pun jenis peran dan posisi kita.
Maka penting untuk kita jalankan dengan sebaik-baiknya dan tentunya dengan gembira, karena hasil akhir dari seluruh dinamikan kehidupan ini bukan ditentukan oleh peran dan posisi kita, akan tetapi sangat ditentukan oleh bagaimana memainkan atau melakoni peran dan posisi masing-masing.

Dosen UIN Mataram




