Alamtara Institute dan La Rimpu Ikut Ambil Bagian dalam Festival Teka Tambora 2022

SETELAH dua tahun tidak digelar akibat pandemi, kini Festival Teka Tambora kembali digelar. Festival Teka Tambora merupakan salah satu event nasional yang dihelat oleh Pemerintah Kabupaten Bima melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Bima. Kegiatan ini juga bekerja sama dengan banyak stakelholder baik dari instansi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga beberapa komunitas dan Lembaga Swadaya Masyarakat termasuk Alamtara Institute dan Yayasan La Rimpu.

“Kami berharap seluruh tim dapat bersatu dan seluruh stakeholder dapat bekerja sama untuk menyukseskan event nasional ini.” Harap Dae Yandi yang juga Ketua DPRD Kabupaten Bima ini.

Baca juga: Perantau Bima dan Refleksi Budaya Maritim

Kegiatan Festival Teka Tambora 2022 ini merupakan peringatan yang ke-207 tahun meletusnya gunung Tambora. Dengan begitu, tema yang diangkat yakni “207 Tahun Tambora Menyapa Dunia”. Pada kegiatan Teka Tambora kali ini ada beberapa venue kegiatan seperti di obyek wisata Oi Tampuro, Kecamatan Sanggar, di  Pos 3 jalur pendakian Gunung Tambora rencananya menjadi tempat kegiatan Penanaman Pohon, sedangkan di Pos 5 menjadi tempat kegiatan pemutaran film dan penginapan rombongan offroad dan pendakian Gunung Tambora.

Rundown Kegiatan Festival Teka Tambora 2022

Pada rapat koordinasi di Kalikuma Library, Ule, Kota Bima, Senin lalu dijelaskan aneka kegiatan selama festival yang akan digelar mulai tanggal 27-29 Mei. Rencananya kegiatan ini akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr Zulkieflimansyah. Beberapa kegiatan lain seperti Rally Wisata Tambora, Pendakian Gunung Tambora, Trabas Tambora, Offroad Tambora, Penanaman Pohon, Pentas Seni, Pameran Fotografi, Educamp, dll.

Alamtara Institute dan Yayasan La Rimpu sendiri akan terlibat dalam kegiatan Educamp pada hari Sabtu dan Ahad. Kegiatan Educamp ini akan diisi dengan Workshop bertema “Tambora: Lampau, Kini, dan Nanti” dan edukasi tentang Potensi Lingkar Tambora.

“Untuk Alamtara Institute dan La Rimpu kami meng-handle kegiatan educamp di Oi Tampuro. Harapannya, lewat workshop ini, peserta akan dilatih menciptakan produk, entah lewat tulisan yang akan diterbitkan lewat portal alamtara.co atau kita jadikan buku. Bisa juga dipajang karya-karya itu. Jelas, kami juga sudah menyiapkan beberapa hastag untuk menggeliatkan kegiatan ini di media sosial.” Ungkap Ika Indrayani, salah satu penanggung jawab kegiatan Alamtara Institute.

Baca juga: Konsep Ekofeminisme dalam Mantra “Inaku Dana, Amaku Langi” (1)

Selain dua kegiatan di atas, di hari Ahad, Alamtara Institute dan La Rimpu berencana membuat  podcast tentang “Tambora dan Pernak-Perniknya”  dan juga Aksi Sadar Wisata.

“Di hari Ahad kami akan membuat podcast bertema ‘Tambora dan Pernak-Perniknya”. Banyak potensi dan nilai historis di alam Tambora ini. Juga jangan lupa kami langsung merekam  podcast tersebut dengan view alam Tambora. Nanti lihat saja hasilnya, teman-teman bisa bergabung, kok” Lanjut Ika.

Potensi alam di lingkaran Gunung Tambora memang tak ada habisnya. Nilai historis yang merekam peradaban manusia sebelum letusan dahsyat Gunung Tambora tahun 1815 itu banyak menarik arkeolog dan sejarawan untuk meneliti dan merekonstruksi kembali letusan gunung yang mengilhami penemuan sepeda tersebut.

Selain itu, Gunung Tambora juga juga menyimpan potensi kekayaan alam. Pertanian, peternakan, dan pariwisata. Pecinta kopi robusta tentu akrab dengan kopi Tambora. Kita juga bisa melihat pemandangan sapi dan kuda liar di Taman Nasional Gunung Tambora yang menemani kita selama perjalanan jalur lingkar Tambora. Untuk pariwisata para pecinta alam dan hiking tak perlu khawatir, puncak Tambora dengan ketinggian 2.851 MDPL. Teman-teman juga dapat langsung melihat kaldera Gunung Tambora yang terkenal paling indah itu.[]

Ilustrasi: Taman Nasional Gunung Tambora        

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.