Kuasa “Modal” dalam Budaya Mudik

LEBARAN tahun ini diperkirakan 9 juta orang akan mudik. Menurut Kementerian Perhubungan 7 juta di antaranya menggunakan moda transportasi kereta api (KA), sedangkan sisanya menggunakan pesawat terbang, kendaraan pribadi, bus dan kapal laut.

Hasrat mudik makin tinggi setelah dua tahun dirajam pandemi Covid-19 sehingga menyebabkan orang tak bisa pulang ke kampung halaman. Vaksinasi booster sebagai syarat mudik pun diikuti masyarakat dengan antusias.

Mudik melambangkan kerinduan manusia kembali kepada yang asal dan asli. Bagi masyarakat urban modern, mudik adalah semacam katarsis untuk melepaskan kepenatan akibat menjalani kehidupan perkotaan yang keras, kompetitif dan mekanistis. Mudik adalah lambang pencarian dan kembali kepada jati diri yang alamiah dan apa adanya. Mudik berarti kembali kepada fitrah, kembali kepada kedirian yang otentik.

Baca juga: Mudik dan Pencarian Jati Diri yang Otentik

Dari segi ini mudik adalah bagian dari merawat kewarasan budaya, meski di sana sini mengalami deviasi. Maksudnya mudik juga berpotensi dalam rangka “merawat kuasa”. Sebab saat orang pulang kampung (mudik) secara implisit potensial menjadi ajang pamer keberhasilan dan pencapaian seseorang selama di tanah rantau. Di sini, seperti fenomena sejarah lainnya, misi agama pun rentan dibajak oleh berbagai kepentingan eksternal  seperti  motif ekonomi dan politik.

Terlepas dari hal itu, jika diperhatikan, maka suasana dan keadaan mudik di dunia sebetulnya memiliki kemiripan dengan saat kita “mudik” ke kampung akhirat, yakni ketika kembali menghadap Allah Swt. Dalam doktrin Islam setiap umat manusia akan mati, pulang kembali ke kampung akhirat.

Ada beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan kepastian kematian ini; bahwa semua makhluk adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah; atau  setiap yang bernyawa akan mati. Al-Quran juga menggambarkan bahwa kehidupan di akhirat itu lebih baik dan lebih kekal; bahwa dunia ini hanya sementara dan sekadar sawah ladang bagi akhirat.

Jadi ada beberapa persamaan antara mudik di dunia dan mudik di akhirat. Pertama, sama-sama melambangkan kepulangan kepada kampung asal. Mudik saat lebaran adalah lambang keterikatan seseorang dengan tempat asalnya, kampung halamannya. Bahkan esensi merantau itu pulang, bukan menetap di tanah rantau. Begitu pun dengan kembali ke kampung akhirat. Itu merupakan kepastian.

Dunia adalah tempat “perantauan” sementara dan kematian tidak lain adalah perjalanan “mudik” yang akan dijalani setiap manusia, suka atau terpaksa. Kedua, jika diperhatikan ada beragam pilihan moda transportasi saat mudik: pesawat, kendaraan pribadi, angkutan umum, roda dua bahkan ada yang terpaksa tidak bisa mudik. Apa yang membedakan pilihan moda transportasi tesebut?

Baca juga: Momen Titik Balik Kehidupan

Jawabannya adalah kemampuan ekonomi. Harga tiket pesawat terbang jelas lebih mahal dari semua moda transportasi yang ada. Dari segi kenyamanan maupun durasi perjalanan juga lebih singkat dibandingkan yang lainnya. Moda pesawat terbang tidak mengenal stopan atau macet. Mungkin ada delay tapi itu jarang terjadi.

Kalaupun terjadi perlindungan hukumnya berupa ganti rugi juga sudah diatur sedemikian rupa. Begitu pun saat transit, tempatnya bersih dan nyaman. Dengan segala kelebihan dan fasilitas yang dinikmati, maka dapat  dipastikan bahwa penumpang pesawat terbang berasal dari kelas menengah ke atas. Seperti piramida ekonomi, lapisan orang kaya biasanya relatif  sedikit dari keseluruhan populasi.

Selanjutnya, jenis pemudik kedua yakni  yang  menggunakan kendaraan pribadi dapat dikatakan berada sedikit di bawah pemudik pesawat terbang. Namanya kendaraan pribadi pemudik dapat  melakukan perjalanan mudik lebih santai karena bisa disesuaikan dengan kebutuhan para penumpangnya. Bahkan bisa singgah atau  menikmati  pemandangan di sepanjang perjalanan. Saat lelah mereka bisa istirahat dan menginap di hotel dan sejenisnya selama di perjalanan.

Mereka juga dapat membayar fasilitas tol untuk kelancaran perjalanan mudik mereka. Meski begitu, namanya juga perjalanan darat maka potensi hambatan di jalan selalu ada, entah  kemacetan (baik karena padatnya arus mudik/balik maupun  melewati pasar tumpah, acara warga di perkampungan yang dilewati, antri saat pengisian bahan bakar  dan lain-lain).  

Berikutnya adalah yang mudik dengan angkutan umum seperti kerea api, bus atau kapal laut. Pada penumpang ini mereka tentu harus berdesak-desakan dan melakukan perjalanan lebih lama karena ramai. Begitu pun yang menggunakan kendaraan pribadi, meski sedikit beruntung dari pemudik kendaraan umum, tapi potensi macet atau hambatan lain di perjalanan pasti ada, sebab ada jutaan orang yang bergerak dalam waktu yang sama.

Ada juga pemudik yang terpaksa menggunakan roda dua demi mengobati kerinduan pada kampung halaman. Saat mudik dan menempuh perjalanan cukup jauh pemudik jenis ini terpaksa membonceng beberapa penumpang seperti istri, anak-anak maupun barang bawaan lain untuk keluarga di kampung. Tentu cukup berisiko menggunakan kendaraan roda dua apalagi menempuh jarak antarpulau. Banyak risiko menghadang: hujan, panas atau masuk angin sepanjang perjalanan.

Tetapi yang paling mengenaskan adalah yang terpaksa tak dapat mudik sama sekali. Mereka harus menahan kerinduan bertemu kerabat di kampung halaman.

Baca juga: Pengalaman Berbuka Puasa di Gereja

Beragam pilihan alat transportasi di atas, dari pesawat terbang hingga yang tak bisa mudik dipengaruhi oleh kondisi keuangan masing-masing. Demikian juga dengan mudik di akhirat. Bedanya, jika mudik di dunia ditentukan oleh kemampuan ekonomi, maka mudik ke kampung akhirat penentunya adalah amal perbuatan masing-masing saat hidup di dunia.

Karena itu, marilah kita memperbanyak amal saleh dan ibadah selama hidup di dunia, lebih khusus lagi dalam bulan Ramadan seperti sekarang. Sebab amal saleh tersebut akan menjadi pilihan moda “transportasi” kita saat “mudik” ke kampung akhirat nanti.[]


Ilustrasi: Media Indonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.