Surga itu Mahal

SURGA menjadi harapan untuk diraih dari rangkaian proses perjuangan dalam ibadah puasa yang kita lakukan selama satu bulan di bulan Ramadan. Dan untuk meraih surga itu tidak bisa dengan santai-santai, tetapi harus dengan berlelah-lelah, serius, dan tidak bermalas-malasan dalam menjalankan perintah Tuhan.

Mari kita cermati firman Tuhan dalam surah al Baqarah ayat 214: “Am hasibtum an tadkhulul jannata walammaa ya’tikum matsalu alladziina khalaw min qablikum massat-humul ba’sa u waaldhdharra u wazulzilu hatta yaqular rasul walladzina amanu ma’ahu mataa nashrullaahi alaa inna nashra allaahi qariibun”.

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Tuhan?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Tuhan itu dekat.”

Baca juga: Ramadan; Bulan yang Memuliakan

Ayat ini mengabarkan betapa meraih surga itu tidaklah enteng, tetapi taruhannya amat berat. Tuhan menggambarkan di akhir ayat 214 surah al Baqarah di atas, bahwa untuk meraih surga, umat terdahulu harus melewati ujian yang dahsyat, sampai-sampai keluar kalimat “Mata Nashrullah?” kapankah datang pertolongan Tuhan?

Gambaran ujian itu dapat kita ketahui melalui ujian dan cobaan yang menimpa para nabi; Nabi Adam berkelana 350 tahun untuk mendapatkan ampunan Tuhan untuk bisa kembali ke surga, Nabi Nuh beserta umatnya diuji dengan banjir bandang yang amat dahsyat, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, Nabi Ayub diberikan ujian berupa penyakit menular dalam waktu yang amat panjang, Nabi Isa hampir disalib, Nabi Yunus ditelan ikan Nun, dan Nabi Yusuf diuji dengan dijebloskan ke dalam sumur.

Semua jenis ujian yang dialami para nabi  membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Itulah perjuangan surgawi, perjuangan yang membutuhkan kekuatan mental dan keteguhan hati.

Puasa Ramadan salah satu bentuk ujian umat Muhammad yang disetarakan dengan material ujian umat sebelumnya. Diberikan kita ujian berupa kelaparan dan kehausan pada siang hari selama satu bulan, diminta kita menghabiskan waktu malam untuk qiyamulail (salat tarawih dan bangun di ujung malam untuk tahajud serta makan sahur), disediakan kita ruang untuk sebisa mungkin berjuang melawan kebiasaan sebelas bulan di luar Ramadan, hingga kepatuhan untuk mematahkan dua syahwat, yakni syahwat perut dan syahwat kelamin.

Ritual amaliah pada bulan Ramadan sangat niscaya untuk kita lakukan dengan maksimal, senantiasalah kita menjalankan seluruh syariat dan amalan sunnah di bulan Ramadan dengan istikamah dan serius, karena ujian kita terlihat lebih enteng dibanding ujian umat terdahulu.

Baca juga: Ramadhan: Berdamai dengan Diri Sendiri

Di samping adanya ujian berat untuk meraih surga, Tuhan juga mempersyaratkan kepada kita untuk tidak bermalas-malasan, tidak santai, dan tidak lalai dalam menunaikan kebaikan. Ayat-ayat terkait dengan upaya meraih surga, menganjurkan kepada kita untuk harus berlari, berlomba-lomba, dan bergegas.

Dalam surah az Dzariyat ayat 50: “fafirruu ilaa allaahi innii lakum minhu nadziirun mubiinun”. Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”

Kemudian dalam surah al Baqarah ayat 148: “Wa likulliw wij-hatun huwa muwallīhā fastabiqul-khairāt”. Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya, maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.

Dalam surah ali Imran ayat 133: “Wa sāri’ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍu. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa para pencari surga itu tidak boleh santai, tidak boleh malas, dan tidak boleh berpangku tangan, akan tetapi harus berkompetisi, artinya kita harus dapat mengambil bagian dan kesempatan pada setiap event amaliah Ramadan, dengan cara memastikan diri bahwa kita ada dalam setiap event kebaikan itu.

Kita harus ada dalam kelompok yang patuh dalam menahan diri, kita harus ada dalam barisan orang-orang yang peduli (berinfak, bersedekah, dan memberi makan orang berpuasa), kita harus ada bersama orang-orang yang rukuk dalam salat fardhu, tarawih dan tahajud, kita harus ada dalam event tadarrus al-Qur’an, dan masih banyak event-event amaliah Ramadan lainnya yang kita pastikan diri ini ada di dalamnya.   

Aplikasi berlari, bergegas, dan berlomba, memiliki konotasi bahwa dalam setiap event kebaikan, kita harus berada di garis depan, janganlah kita menempatkan diri menjadi orang masbuk, janganlah menunda-nunda dalam urusan kebaikan, berusahalah untuk merebut posisi dan  kesempatan pertama dalam kebaikan.

Baca juga: Tropi Taqwa untuk Alumni Ramadhan

Gambaran bagaimana merebut surga dapat kita bayangkan seperti keberadaan sepetak tanah surga di antara mimbar dan makam Rasul saw di masjid Nabawi Madinah, bagi yang pernah hadir di tempat itu, pasti pernah menyaksikan peristiwa merebut tanah Raudah.

Orang-orang yang ingin berada di dalam Raudah harus berlari, harus bergegas, dan harus berkompetisi, jika tidak ikut larut dalam proses itu, maka yakinlah kita tidak akan sampai di tanah Raudah. Itulah gambaran betapa meraih surga itu butuh perjuangan, butuh tekad, dan butuh kepasrahan total kepada Tuhan.

Selagi Ramadan masih membersamai kita,  berlomba-lombalah dalam beramal, bergegaslah dalam melaksanakan kebaikan, berlarilah menuju ampunan Tuhan, pintu surga yang bernama royyan menunggu kedatangan kita sebagai alumni Ramadan yang berprestasi.[]

1 komentar untuk “Surga itu Mahal”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Allahu akbar….
    Alhamdulillah jum’at berkah selalu mendapat motivasi dr ayahanda 🙂
    Seiring berjalan nya waktu semoga Allah memudahkan kita semua untuk menjadi hamba2nya yg pantas menuju syurga Nya..
    Butuh bnyk pengorbanan baik dari segi amal kita,sikap jg materi, ,
    Semoga Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan
    segala bentuk ritual amaliah, dikuatkan di ikhlaskan hati diteguhkan mental dlm setiap ujian yg silih berganti .
    Berlomba lomba dlm kebaikan,,InsyaaAllah….aamiin Allahumma aamiin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.