Sajadah: Kaplingan Surga yang Datang Lebih Awal

SAJADAH SEBAGAI satu bilik dan ruang yang berukuran hanya cukup untuk menampung satu orang. Memang dari sisi kadar dan ukurannya, ruang dan benda yang bernama sajadah itu sangat kecil dan sempit namun dari sisi makna dan hakikatnya memiliki makna yang sangat luas sebagai tampat untuk bersujud dan menundukkan diri kepada Sang Khalik.

Tidak banyak kita menyadari bahwa Sajadah itu sesungguhnya merupakan kaplingan kecil dari surga yang datang lebih awal menjemput kekasih yang dirindukan oleh surga. Di atas sajadah itulah kita bisa meraih kedamaian surgawi dengan sujud penuh ketaatan, juga di atas sajadah itulah kita dapat menyelesaikan seluruh permasalahan yang kita rasakan dengan mengadu sepenuh hati kepada Tuhan pemilik kehidupan dalam sujud yang tumakninah. 

Kita harus menyadari bahwa nuansa kehidupan kita secara alamiah mengalami fluktuatif; kadang senang, bahagia, susah, sedih, dan terasa sulit. Dalam kehidupan yang serba kompleks tidak jarang kita rasakan sesuatu yang ruet dan kusut pada tataran kehidupan sosial, kehidupan keluarga, sampai kepada kehidupan spiritual, atau terkadang terjadi juga pada kondisi raga, hati, dan psikis yang cukup mempengaruhi sendi-sendi dan elemen-elemen kehidupan kita yang kesemuanya membutuhkan satu ruang khusus untuk mengurainya menjadi butiran mutiara atau butiran air yang menyejukkan.

Terkadang mata yang serba terbatas kemampuannya tidak mampu menemukan pemandangan indah yang memberi solutif dari kompleksitas rasa yang kita alami, begitu pula pemikiran yang memiliki kelemahan kadang tidak mampu mengurai asa yang kusut menjadi benang-benang lurus yang jelas ujung dan pangkalnya, bahkan hati terkadang menjadi sempit yang semestinya luas dan lapang untuk menampung permasalahan yang terjadi dalam hidup ini, demikian pula raga terkadang dalam menyikapi suasana hati dan pikiran menjadi kelu dan lusuh tak berdaya untuk menerjang ruang dan waktu.

Dalam kondisi seperti itulah kita membutuhkan satu ruang yang sempit yang cukup hanya untuk kita saja, tidak untuk ramai-ramai, tidak pula untuk hiruk pikuk, tetapi kita hanya ingin sendiri, kita ingin terpekur sendiri untuk tafakkur, untuk meringkuh, untuk fokus, dan untuk bersimpuh. Dalam kondisi seperti itu pula kita ingin suasana surga yang kita hajatkan memberikan solusi mujarrab yang membawa kita menemukan jawaban dari seluruh permasalahan yang kita rasakan.

Maka Tuhan sesungguhnya telah menaruh ruang khusus itu pada benda kecil dan sempit yang kita miliki, yakni sajadah. Dia merupakan kaplingan kecil dari surga yang datang lebih awal menjemput kita yang ingin ketenangan dan kedamaian. Maka gelarlah sajadah itu di pertengahan malam sebagai hamparan kaplingan surgawi untuk sujud, untuk mengadu, untuk bermanja-manja, untuk berkeluh kesah, dan untuk merengek di hadapan Tuhan. Sajadah itu kata Profesor Nasaruddin Umar, Imam besar Masjid Istiqlal sesungguhnya merupakan kaplingan surga dan semisal kendaraan Burok—kendaraan kecil yang melejit ke langit.

Begitu indahnya bersujud di atas sajadah hingga terlahir untaian kalimat hikmah dari orang bijak; “Engkau sujud di atas sajadah berkeluh kesah di bumi tetapi terdengar dengan jelas di langit”.

Terkadang kita sering tidak menyadari bahkan tidak yakin sepenuhnya bahwa permasalahan hidup yang kita rasakan dapat terpecahkan dengan menyendiri di atas hamparan sajadah, hingga tidak sedikit dari kita-kita ini mengumbar permasalahan dari cerita ke cerita, menebar permasalahan lewat media sosial, bahkan yang lebih ekstrim mencari jawaban dari aktifitas-aktifitas irrasional.

Tuhan dengan kalimat yang cukup diplomatis mengarahkan kita untuk menuju bilik kecil itu dalam menyelesaikan segala permasalahan; “Wasta’inu bisshobri wasshalah” Jadikanlah Sabar dan Shalat sebagai penolongmu. Artinya dua pilar itu harus menjadi sikap seorang mukmin apabila menemukan permasalahan dalam hidupnya, yakni bersabar dan bersujud. Mengapa Sabar? Secara etimologi, sabar berarti “menahan”, yakni sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Tuhan. Sementara secara psikologis kita bisa memaknai sabar sebagai sebuah kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Itulah sebabnya Tuhan menjadikan sabar sebagai salah satu sendi dalam menghadapi permasalahan hidup.

Kemudian Shalat merupakan cara khusus untuk berkomunikasi dengan Tuhan tanpa ada aturan-aturan titipan dari siapapun, iya menjadi penciri kemusliman dan keimanan kita, sehingga Tuhan menjadikannya sebagai cara khsusus untuk memohon kepadaNya apabila ada masalah yang rumit dan berat yang kita rasakan. Itulah komunikasi yang bermedia sajadah sebaga wahana untuk menyatakan kenisbian diri dalam menyalurkan ketaatan kepadaNya dan wahana berdiskusi dengan Tuhan dalam menghadapi persoalan hidup yang sulit dan rumit.

Jika selama ini sajadah belum kita fungsiikan sebagai media mendekat dengan Tuhan dalam segala urusan kita, maka mari kita memulai melakukannya. Berdiri dan bersimpuhlah di atas sajadah dengan segudang permasalahan hidup yang kita rasakan, Tuhan menunggu dengan sabar dan ramah pada hambaNya yang datang dengan yakin kepadaNya. Tumpahkanlah segala harapan, segala permasalahan, segala hajat dan keinginan di atas hamparan sajadah memohon kepada Tuhan untuk membijaksanai seluruh permasalahan kita, dan Tuhan sebaik-sebaik tempat mengadu, sebaik-baik tempat menyimpan segala rahasia, dan sebaik-baik pemberi jawaban dan solusi.[]

Ilustrasi: tribunnews.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *