Titian Perempuan Bermata Kejora (1)

Dompu 1982
LELAKI tampan lulusan akademi pemerintah itu diperuntukan untuknya, tinggi, putih, gagah dari segala penjuru memandang dan yang terpenting, dia sholeh. Rajin mengaji. Suaranya merdu. Rajin sholat, sering jadi muadzin. Gemar bersedekah dan berbagi hadiah pada kaum kerabat. Terutama jika lebaran tiba. Si gagah akan memborong baju dan sajadah di toko Abahnya untuk dibagi-bagi. Tak heran banyak yang memujanya.

Dia yang sedang berbicara di atas podium itu diperuntukan untuknya. Baru saja dilantik menjadi Camat persiapan Pekat. Wilayah paling luar di penjuru negeri. Melewati gunung dan lembah, jalan berbatu dan menyusuri padang savana di kaki Gunung Tambora. Daerah tak terjamah. Hanya sedikit kemajuan di sana sejak gunung itu meletus berabad silam. Menguncang dunia hingga mengubah musim dan mengacaukan peta kekuasaan dunia yang berpusat di Eropa. Saat itu Perang dunia pertama. Tapi lelaki gagah itu tak gentar.

“Ke sana kita naik truk sehari semalam arimeci. Jika bulan sedang purnama kita bisa menggelar tenda di Doro Ncanga. Berburu rusa, bersama abi dan ayah, kita akan memanggangny atau membuat dendeng begitu sampai di rumah dinas.”

Lelaki itu menjelaskan dengan suara setengah berbisik. Wajahnya teduh. Berbinar. Lelaki itu sedang jatuh cinta. Pada pipi ranumnya, pada rambut sutranya, pada tubuh mungilnya. Pada mata kejoranya.

Tenda Pernikahan
Ini malam-malam terakhir berada di buaian bunda. Esok lusa keluarga besarnya akan melepasnya bersama lelaki gagah itu. Menjemput mimpi di ujung barat pulau. Memandang pulau Satonda di sore hari. Mungkin saat itu ia sedang menyeduh kopi. Menyaksikan anak laki-lakinya bermain di padang rumput. Atau menyusuri pantai, di mana mata air muncul di celah tebing atau di langit-langit gua. Ya, anak laki-laki. Lelaki gagah itu pasti akan memberinya banyak anak laki-laki. Harus anak laki-laki, agar si gagah kelak tidak mencari anak laki-laki dari istri lain. Ahh, ia menelan ludah yang terasa kecut.

Sejak dua hari lalu, warga kampung bergotong royong membangun paruga pernikahan di halaman rumahnya yang merangkap kebun seluas dua hektar. Setelah acara panati disusul mbolo weki dua pekan lalu, segala persiapan dimulai. Dae dan Ma¬panggilan untuk Ayah dan Ibunya¬ tidak perlu bertanya apakah ia bersedia menikah. Ia telah mendapatkan hak istimewanya bersekolah di perguruan tinggi selama lima tahun. Saat pulang kampung, dirinya sepenuhnya kembali menjadi anak Dae dan Ma. Dipingit bersama gadis lain yang lebih muda. Teman sebayanya telah menikah semua. Beranak pinak. Dae dan Ma yang menentukan apa dan bagaimana ia harus melanjutkan hidup kini.

Ia sedang duduk di kamar. Menyendiri. Memandang para tetua dan pemuda yang sedang membangun paruga di bawah sana melalui jendela samping.

“Stt.. stt..”

Ia menoleh. Suara itu datang dari arah kolong rumah di kegelapan tumpukan kelapa dan persediaan kayu bakar, membuatnya terlonjak kaget hampir histeris.

“Surat…!” suara itu berbisik pelan. Mengangsurkan segulung benda putih dari celah papan lantai.

Ia tahu surat itu dari siapa. Ia bahkan tau bunyinya akan seperti apa.
“Kau harus percaya padaku putri, pada cinta kita.” Bunyi bait terakhirnya.

Cintakah ia pada lelaki penulis surat itu?

“Aku akan mati, jika kau melupakanku. Melupakan cinta kita.  Aku bahkan akan mati sebelum kau menjadi pengantin esok lusa.”

Ia teringat rambut ikal dan senyum memikat laki-laki itu. Laki-laki yang menuntunnya mengenal dunia.

Ahh dunia…

Ia mendesah sendiri. Agak kencang. Mengatasi suara biola dan berbalas pantun dari paruga. Malam ini berubah menjadi semacam pesta panitia, melepas lelah setelah hampir dua pekan bekerja mengumpulkan kayu bakar, memotong bambu, memanjat kelapa, mengumpulkan terpal, dan menganyam janur kuning.

Mungkin di antaranya ada yang diam-diam bekerja dengan hati patah. Melepasnya ke dalam pelukan si gagah.

Babau?” Pengantar surat mengernyitkan dahinya. Bertanya ‘mengapa’ dalam bahasa ibu.

Tapi apa yang dapat dijelaskannya? Lelaki berambut ikal itu menunggunya. Menunggu mewujudkan mimpi yang mereka rajut sejak bertahun-tahun silam.

Di bawah sana, lelaki gagah, camat termuda itu sedang menari bersama impian menjadi suaminya. Abahnya, Ibunya, dan lelaki itu bahagia. Demikian pun Dae dan Ma, lebih bahagia, mendapat kehormatan menjadi mertua camat.

Ia sarjana pertama dalam keluarga. Perempuan pertama yang meretas patriarki, bersekolah tinggi menyeberang pulau, menantang gelombang selat Flores, menaklukkan tanah Makassar, Ujung pandang.

Ia adalah perempuan beruntung. Anak pertama dari delapan bersaudara. Tujuh adiknya lelaki semua. Mendapat hak istimewa bersekolah tinggi ketika temannya diharuskan menikah setahun atau dua tahun setamat SMP.

Lelaki gagah itu, adalah lelaki terbaik di antara semuanya. Mereka sama-sama keluarga terpandang. Sama-sama ningrat. Tepatnya campuran ningrat, arab, melayu.

Ia tahu persis berapa puluh ekor sapi dan kambing yang akan dipersembahkan untuk perhelatan besok. Pun berapa rumpun bambu yang telah ditebang untuk mendirikan paruga. Tiang-tiang tenda pesta. Sejak sepekan lalu sanak saudara telah berkumpul dengan sukacita.

Lelaki berambut ikal itu masih menunggunya memberi kabar. Ia lelaki tabah.

Seperti dulu saat kapal perintis jurusan Makassar Bima dikabarkan karam terhantam gelombang. Lelaki itu tak percaya. Ia tabah menunggu keajaiban. Dua minggu terombang ambing di lautan. Saat kapalnya diseret menepi ke pulau Selayar. Lelaki ikal itulah yang pertama menunggunya di sana.

“Aku tak percaya kapalmu tenggelam putri. Kau pasti selamat. Selama jantungku masih berdetak, jantungmu juga akan berdetak,” ucapnya.

Sekali lagi malam ini lelaki ikal itu menunggunya. Menunggu keajaiban yang menyentuh hatinya, menggerakkan kakinya melangkah mendekati rumah belakang.

Bukan, bukan. Itu bukan rumah. Itu jompa tempat Ina Mene˗perempuan tomboi yang bertugas mengurusi halaman keluarganya˗ tinggal. Hanya selemparan batu dari tempatnya duduk.

Pengantar surat itu masih menunggunya di kolong. Siap mencungkil dan mencopot dua hingga tiga bilah papan agar ia bisa merosot turun. Mengenakan tembe nggoli, sanggentu, dan rimpu mpida lalu menyusuri kolong rumah. Keluar di samping lewat raba pagar bambu yang sudah dicopot pakunya. Memuluskan pelariannya di antara permukiman padat di belakang sana.

Tetapi di bawah sana ramai sekali. Dua kali lipat dari jumlah hari kemarin. Para lelaki yang sedang membuat paruga itu terpaksa bekerja ekstra dengan lampu petromaks malam ini. Harusnya paruga sudah selesai sejak tadi sore sebelum adzan ashar. Tapi hujan deras mengguyur bumi. Mereka boleh menggerutu, tetapi sebagian tetua menganggap ini bahasa langit. Berkah yang tercurah atas rencana pernikahan yang digelar.

“Ssttt… bunera ke?” suara dari bawah kolong mengusiknya. “Bagaimana jadinya?”

Ia menggeliat gelisah. Menunduk memilin ujung sarung. Matanya tertumbuk pada selusin gelang dan dua cincin mata delima yang menghiasi tangan dan jemarinya. Pemberian Ibu si gagah dua bulan lalu. Semacam ampa sonco, pengambil hati calon menantu dengan hadiah-hadiah terbaik.

Si gagah juga yang terbaik. Ia lulusan terbaik akademi pamong. Sekolah terpilih untuk orang pilihan. Hanya dua tahun menjadi pegawai di kantor bupati, esok lusa ia akan ditempatkan menjadi camat. Camat termuda.

“Dan kau akan menjadi Nyonya camat termuda, tercantik, terpelajar sepanjang sejarah daerah ini arimeci,” ujar lelaki gagah itu padanya.

Memperlihatkan mandat yang diterimanya dengan sukacita. Seluruh keluarga besarnya juga bersukacita atas berita itu. Kebahagian yang paripurna bagi si gagah. Bukan hanya Abah dan Ibunya yang selamatan. Pamannya yang juru doa merangkap petugas KUA itu bahkan mengadakan doa syukur dengan menggelar sunatan dan khataman masal.

Si gagah adalah simbol kebanggaan dan kejayaan. Kelak, ia akan menjadi simbol kemahsyuran keluarga ini. Entahlah!

Tapi si ikal telah menemaninya jatuh bangun di tanah rantauan. Ikal yang mencium jemarinya setiap hendak pergi. Ikal yang melarangnya berjalan kaki karena kuatir membuat pipi meronanya berubah coklat˗mereka selalu naik becak berdua˗ melarangnya mencuci dan memasak agar jemari lentiknya tetap lembut dan indah. Ia melakukan segala hal untuk membuatnya tetap menjadi putri di rantauan.

“Jika aku bukan kekasihmu, aku adalah sahayamu. Tak ada bedanya bagiku. Asal selalu bersamamu. Melayanimu,” ucapnya di suatu malam di bawah purnama Pantai Losari. Saat itu, bagi mereka kepingan pisang epe’ adalah sajian mewah nan romantis.

“Kalau begitu kau tidak dapat menjadi suamiku kelak. Seorang istri harus menghormati suaminya. Tidak boleh memperlakukannya seperti sahaya,” ia menjawab tergelak.

“Kau boleh. Sangat boleh. Karena kau adalah tuan putriku,” ucapnya dengan mata berbinar.

Sejak itu telah ribuan kali ikal mengecup ujung jarinya.

Maira. Kunembaku,” suara dari kolong memohon, mengembalikan ingatannya. Ayolah, aku mohon.

Ini zaman di mana kau berhubungan dengan seseorang tapi ada orang ketiga di antara dirimu dan dirinya. Orang yang begitu tangguh menyimpan rahasia, bahkan terlibat secara emosional terhadap hubunganmu. Penghubung, juru bicara, kurir, penasihat. Hampir menjadi segalanya.

Dan yang sedang di kolong itu adalah sahabat, teman main, tetangganya yang sejak orok telah bersama-samanya melintasi waktu. Kelahirannya hanya terpaut dua hari setengah. Sahabatnya dilahirkan pada hari Rabu pagi dan ia dilahirkan pada hari Jum’at siang. Toh ia harus tetap memanggilnya Dae. Sebagai tanda penghormatan. Orang tuanya adalah salah satu pengelola kebun milik ayahya.

Ia mendedikasikan hampir seluruh hidupnya utuk menjadi sahabat dan penjaga paling setia. Jangan tanya kalau hanya soal dorong mendorong atau jambak-jambakan saat berkelahi waktu kecil. Ia akan memastikan tak seujung kuku pun tubuhnya tersentuh, apalagi terluka. Oleh siapapun. Dengan teman main atau orang iseng di jalan dekat pasar. Ia takkan mundur.

Saat dewasa, saat ia harusnya menikah usai tamat SMA, saat ada yang melamar dirinya, tetap ia belum siap menikah karena ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, sahabatnya itu maju untuk menggantikannya. Luar biasa.

Ia bahkan lupa pernah berjanji setia dengan pacarnya yang orang Sila Bolo itu, lupa pada derasnya arus surat menyurat yang dititip pada sopir bus antar kota. Lupa pada jerih payahnya mengonsepkan surat-surat balasan˗saat tampil sebagai pembelanya, ia lupa akan semuanya.

Sahabatnya melakukan segala hal untuk memastikan dirinya bisa kuliah. Memenuhi impian yang bahkan tak pernah terlintas pada mimpi gadis lain di generasinya.

Happy ending. Ia kini punya empat orang anak dengan mantan calon suaminya itu. Saat ia terantuk jodoh kedua kalinya. Tentu kini ia tidak dapat lagi tampil menggantikannya. Melainkan memastikan ia menikah dengan orang yang dicintainya. Si ikal yang memujanya bak pujangga.

Sayup adzan isya menyentak kesadarannya. Ia tiba-tiba menemukan sesuatu yang berharga. Semacam ide.

Nais. Nais nggori sambea subu do sigi nae. Ngoa baba,” ia berbisik ke arah lantai papan di bawah kakinya.

Lagi-lagi matannya tertumbuk pada henna yang mengukir langsat kulitnya. Henna terbaik dari Jedah. Oleh-oleh ci Salma, salah seorang tante si gagah.

Yaa. Esok pagi, usai sholat subuh di masjid raya ia akan menemui ikal. Ia tidak akan dipingit untuk melewatkan sholat subuh karena sedari kecil ia dan saudara-saudara tak pernah melewatkan ritual itu. Subuh adalah saat menjemput keberkahan sekaligus menanami ladang pahala dengan mengaji, doa bersama, dan silaturrahmi.

Dan kau tau, masjid raya ibaratnya masjid keluarga. Duapertiga lahan halamannya adalah wakaf sanak keluarga dan tetangga di lingkungan sekitar. Menguatkan ikatan emosional antara rumah ibadah dan jamaahnya. Itu masjid kita. Tempat kita bernaung dalam segala situasi, ujar Ibunya semasa ia kecil.

Adzan itu mengingatkannya pada ikal.  Ikal yang menjadi imam dalam kumpulan mahasiswa di Alauddin. Si ikal yang tak hanya pintar berorasi di jalan tapi juga berdakwah di sudut-sudut kota. Si ikal yang siangnya melempar kaca ruangan ketua jurusan, malamnya bisa duduk merokok bersama pak Dekan. Ikal yang selalu bersemangat. Selalu punya energi lebih untuk hal apapun. Di tangannya tidak ada yang benar benar putih. Pun tidak ada yang benar-benar hitam. Ikal yang selalu ada saat banjir di kost, saat bersusah payah mengejar nilai her. Saat berebut tempat tidur dan jatah makan di kapal perintis.

Ia pahlawan dalam segala situasi.

Ikal yang sedang menunggu di gubuk…

Iota. Pala aina ngeri bola. Ta maru rocipu Dae…,” suara dari bawah mengingatkannya untuk tidur dan bangun cepat.

Iya, iyaa. Besok ia harus bangun cepat.

Bersambung….

Kengge Sori Silo, Desember 2020.

Istilah: Mbolo weki [musyawarah keluarga]; panati [utusan]; arimeci [adik sayang]; mboto kangampu [banyak maaf, beribu maaf]; mai roci ari [lekaslah adinda]; paruga [tenda, pelaminan]; babau [kenapa]; jompa [lumbung]; tembe nggoli [sarung tenun]; sanggentu [pakaian bawahan, perangkat rimpu]; rimpu mpida [hijab, cadar. Pakaian gadis Mbojo]; baba [abang]; raba [pagar], ampa sonco [pemikat, pemberian berupa benda sebagai pemikat], maira [mari, ayo]; nemba, kunemba [mohon, memohon dengan sungguh]; nais [besok]; nais nggori sambea subu do sigi nae [besok selepas sholat subuh di masjid besar, masjid jamik]; ngoa baba [beritahu abang]; oto arimeci mada [antarkan adikku sayang]; her [ujian ulang, ujian perbaikan].

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *