Perempuan yang Menangis di Pusara Suamiku

[1]

MENGGEBU kejar pendidikan tinggi, berjibaku dengan rutinitas pekerjaan yang diidamkan, benar-benar membuatku terlena. Demi pekerjaan, beberapa lelaki terpaksa aku tolak cintanya. Aku takut kehadiran mereka mengganggu pekerjaanku, toh kalaupun aku terima pasti kuacuhkan karena lebih sibuk bekerja. Bukankah laki-laki paling tidak suka diacuhkan?

Aku tidak selamanya mampu bertahan dalam kesendirian. Menjelang setengah abad umurku, barulah hatiku benar-benar terbuka untuk menerima kehadiran laki-laki. Lelaki bernama Mukhlis yang baru saja aku kenal menjadi labuhan hatiku. Kami tidak membutuhkan waktu lama untuk saling kenal mengenal. Kami berkomitmen untuk tidak pacaran, apalagi sekadar pacar-pacaran menjaga jodoh orang. Seminggu setelah perkenalan, kami lamaran, langsung seminggu kemudian akad dan resepsi.

Jalinan cinta yang kami bangun tidak serta merta bebas dari segala penilaian orang. Banyak yang mengukurnya dari segi untung dan rugi. Ada yang menilai aku beruntung, dan Mukhlis merugi. Berlaku juga kebalikannya. Tapi yang jelas, kami berdua bersanding di pelaminan dengan masing-masing membawa cinta tanpa syarat.

Aku dikatakan beruntung karena bisa bersuami di umur senja, di tengah menumpuknya gadis dan janda muda yang begitu memesona. Menikah tidak membuatku larut dalam kegembiraan. Ketakutan beranak pinak di lembaran hati. Aku ragu untuk bisa memiliki anak, mengingat umurku yang telah menanjak. Kelak, bisa saja Mukhlis jadikan senjata untuk menghempasku. Bukankah setiap lelaki yang menikah bertujuan mendapatkan anak keturunan?

Orang bilang Mukhlis memanen keuntungan dariku. Aku seperti paket siap saji. Memiliki pekerjaan tetap, rumah mewah mentereng, dan harta berlimpah. Aku pula yang meminta Mukhlis untuk tinggal di rumahku, meninggalkan rumah sederhananya. Bagiku hartaku adalah harta dia juga, itu baru bisa disebut totalitas.

Sementara kerugian dari kami masing-masing? Aku enggan menyebutnya. Hidup terlalu sempit untuk mengurus hal remeh temeh semacam itu. Aku tidak memiliki waktu untuk memikirkannya. Aku telah menutup mata untuk hal negatif. Terlalu mencemaskannya bisa memudarkan cintaku, cinta kami.

“Kita tinggal dan mengarungi hidup di rumah saya saja. Sekarang segala yang saya miliki akan menjadi milik Abang juga,” tawarku menjelang kepulangan kami dari bulan madu di Gili Air Lombok.

Mukhlis menolaknya mentah-mentah. Ini menyangkut marwahnya sebagai laki-laki. “Rumahku memang kecil dibandingkan rumahmu. Tetapi lebih dari cukup untuk kita tempati berdua,” ucapnya memberi pemahaman.

Tentu aku cemberut, itu kali pertamanya. Kucatat ini sebagai pembangkangan pertamaku sejak menjadi istrinya.

“Bisa-bisa aku dianggap lelaki yang tidak bertanggung jawab, berpangku tangan, dan lihai memanfaati hartamu,” lanjut Mukhlis penuh hati-hati memilih kata.

“Itu kata orang. Jangan ditakuti. Bukankah dalam hatimu tidak ada niat seperti itu? Ayo lah, Bang. Biarkan cara hidup kita merdeka dari ketakutan atas penilaian orang,” bujukku, bergelayut manja di pundaknya.

Luluh? Tentu. Rayuan perempuan masih memiliki magis. Jadi tidak perlu mencak-mencak sebagai perempuan. Laki-laki akan goyah mendengar rayuan perempuan yang didengungkan secara berulang-ulang.

“Jika itu yang kamu dambai, mari kita awali dengan Basmalah. Aku harus mulai belajar luluh atas keinginan-keinginanmu. Karena cinta adalah ketulusan memberi.”

Serasa terbang ke angkasa mendengar jawaban Mukhlis. Aku memetik sebuah pengetahuan; Mukhlis berkarakter mudah luluh. Tidak. Tidak. Tidak akan kumanfaatkan sisi itu untuk mendominasinya. Tetap tidak elok perempuan mendominasi laki-laki. Begitu ibuku dulu pernah menasihati.

[2]

Sebagai orang desa yang bekerja dan tinggal di kota besar, kami menjadi harapan keluarga. Tempat untuk mengadu segala hal; dari masalah kapan mulai bercocok tanam, memberi nama untuk bayi-bayi mereka yang baru lahir, hingga cara meloloskan hidup dari kuasa paceklik.

Belum lagi yang minta dicarikan pekerjaan di kota. Tiap tahun ada saja yang datang, lebih-lebih semenjak aku berhasil mencarikan pekerjaan bagi anak-anak mereka di tahun-tahun sebelumnya. Kini ada yang sudah menjadi karyawan di supermarket, pamong praja di kantor tempatku bekerja, hingga aparat kepolisian yang sekarang ditugaskan di pelabuhan.

Tahun ini kerabat di desa menghubungi. Minta dicarikan pekerjaan untuk anak perempuan sulungnya. Ada hasrat untuk menolak, tapi bayangan dijadikan bahan gonjang-ganjing di kampung berkelebat. Dikatai sombong lah, sampai hati lah, dan segala wajah ungkapan kekecewaan lainnya.

Ada satu hal yang membuat aku tak berkecil hati, anaknya bermodalkan ijazah sarjana. Artinya, tidak sulit baginya mendapatkan pekerjaan. Dia juga tidak keberatan untuk bantu-bantu pekerjaan rumah sebelum mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.

Sebulan terlewati, anaknya tiba di rumah, Anggun namanya. Dia diantar langsung oleh bapaknya. Aku sendiri terbelalak pertama kali melihatnya. Wajahnya mirip denganku. Bedanya dia tinggi semampai, berambut panjang, ramping, dan lebih muda dariku. Kalau kami berjalan berdua, sudah pasti dibilang ibu dan anak. Apakah ini anugerah bagi aku yang mendambakan seorang anak?

Aku sedikit lega sejak kehadiran Anggun. Aku yang sebelumnya kewalahan memberesi rumah, sekarang terbantu olehnya. Bahkan ketika aku tugas luar kota, Anggun sigap menjaga rumah, termasuk menyajikan makanan untuk Mukhlis.

Hingga lima tahun kami menikah, belum juga dikaruniai anak. Rasanya sudah mustahil untuk mendapatkannya. Tidak saja kami berusaha secara medis, cara-cara tradisional kami lakoni. Syukur Mukhlis tak henti-hentinya menasihatiku untuk tetap sabar dan berusaha. Katanya kami harus kuat dulu baru boleh menerima titipan. Karena Tuhan masih menilai kami belum siap, makanya belum diamanahi momongan.

Aku risau ketika mengetahui Anggun mendapat panggilan kerja. Itu artinya aku hanya berdua saja dengan Mukhlis di rumah. Sepi? Sudah pasti. Kesedihan ditinggal Anggun sama besarnya dengan kesedihan belum dikaruniai anak. Apakah setiap orang memiliki kesedihan yang sama bila belum memiliki anak? Aku rasa tidak. Media terutama media lokal tidak pernah alpa mewartakan kasus pembuangan orok, penelantaran anak, eksploitasi anak, dan berbagai kekerasan dalam bentuk lainnya terhadap anak.

“Mbak, ternyata saya tidak jadi ditempatkan di luar pulau. Di sini sudah beoperasi anak cabang perusahaan. Diperlukan orang-orang berprestasi untuk memegangnya. Saya salah satu yang mereka pilih.” Anggun membawa kabar baik sepulangnya dari panggilan kerja.

Aku gembira walaupun sadar suatu waktu Anggun akan benar-benar pergi meninggalkan kami. Mungkin dipromosikan untuk memegang jabatan yang lebih tinggi di perusahan pusat, atau juga kelak diboyong oleh suaminya ke tempat dia berasal.

Aku rasa diriku jahat. Waktu Anggun mengutarakan keinginan untuk serius mengenal laki-laki dan berumah tangga, aku mewanti-wanti agar tidak terburu-buru, kupinta dia mengikuti jejakku. Walau aku tidak pernah dikecewakan laki-laki, aku beritahu saja Anggun kalau banyak laki-laki yang berniat menyakiti perempuan. Termasuk aku lambat menikah karena sering dikecawain laki-laki. Sebenarnya ada laki-laki demikian? Ada, banyak. Tapi tidak semua.

Anggun hanya mengangguk tanda setuju, nurut. Perkataanku agar membahagiakan orang tua terlebih dahulu mengalun lembut ke otaknya. Diterima mentah-mentah.

“Kalau kamu sudah menikah, serba terbatas memberi dan membahagiakan orang tua. Banyak kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Kalau belum betul-betul mapan, kesusahan sudah di depan mata, rumah tangga berantakan.”

“Iya, Mbak. Tapi tidak sangat telat melebihi usia produktif, kan?” tanyanya ragu. Aku menangkap nada khawatir dari intonasinya. Takut aku tersinggung, karena aku menikah melebihi usia produktif.

Aku yang luluh atas pertanyaan lugu Anggun. “Iya. Begitu kamu mapan dan telah membantu sekolah adik-adikmu, serta mewujudkan keinginan orang tuamu ke tanah suci, segera siapkan diri untuk berkeluarga.”

Gemericik air dari pancuran kolam koi dekat dapur terdengar hingga ke ruang keluarga. Anggun menuju kamarnya membenamkan diri. Aku masih menunggu Mukhlis pulang dari kantornya di penghujung senja yang temaram.

[3]

Aku sudah divonis dokter tidak bakalan memiliki anak.  Aku ceritakan ke Mukhlis atas vonis tersebut. Dia menanggapi dengan datar. Hanya memintaku bersabar saja. Katanya tidak semua pernikahan harus memiliki anak. Aku tahu kali ini dia berbohong, tapi tidak kupertentangkan. Aku dalam keadaan panik, akan semakin runyam nanti kalau aku mempermasalahkan kebohongannya. “Air mata! Mari berpesta! Jangan ajak yang lain, hanya kita berdua saja. Hadirmu meredam panasnya hati.”

Ritme kehidupan kami mengalun landai. Vonis terhadapku tidak mengurangi cinta Mukhlis. Itu menurut aku pribadi, dalamnya hati tidak ada yang tahu. Selain cepat luluh, mungkin Mukhlis memiliki kemampuan menyembunyikan masalah, karena memang setiap menghadapi masalah selalu terlihat tenang, seolah tidak ada masalah yang bersarang.

Lama-lama aku bisa juga mengabaikan vonis dokter, begitu juga Mukhlis yang memang dari awal tidak menghiraukannya. Kata-kata Mukhlis bahwa tidak selamanya pernikahan itu harus punya anak telah menentramkan jiwaku.

Aku, Mukhlis, dan Anggun kian tak terpisahkan. Kami sering liburan bertiga. Ke mana-mana selalu bersama. Sampai-sampai ada cerita konyol. Suatu kesempatan ketika kami liburan di Raja Ampat, seorang remaja membuntuti Mukhlis. Dia sangat ingin bicara dengan Mukhlis. Begitu kesempatan didapat, mereka saling bisik. Selepas itu terkekeh bersama. Mukhlis yang tahu aku mudah penasaran dengan hal baru, menceritakannya kembali padaku. Remaja tadi minta diajarin ilmu untuk memadu istri. Katanya Mukhlis hebat karena rukun dengan dua istri. Aku ikut terkekeh, Anggun tersipu malu.

Tuhan telah menakdirkan pulau di Raja Ampat pecah-pecah dalam beberapa bagian, itu yang membuatnya menjadi indah, untuk mengajarkan perempuan berbagi, walau hati tercacah-cacah. Ah! Jangan dengarkan ocehanku. Aku hanya mengalihkan pikiran untuk berdamai dengan kemungkinan-kemungkinan dari cerita Mukhlis tadi.

Anggun membuyarkan lamunanku. Dia barusan mendapat kabar dari kantor. Sepulang dari liburan, Anggun segera diberangkatkan ke kantor pusat. Nasib baik anak itu, dia tidak perlu menghamba untuk mendapatkan promosi jabatan. Momen di Raja Ampat menjadi akhir kebersamaan kami. Pertanda aku tak bisa mengontrol kehidupan Anggun lagi.

[4]

Siapa yang tidak malu mendapati anaknya hamil di luar nikah? Tidak terkecuali aku. Anggun memang bukan anakku. Dari silsilah keluarga juga tidak begitu dekat. Tapi karena pernah hidup bersama hingga dia bisa sesukses sekarang, mustahil aku tidak terpukul mendapatinya berbadan dua. Kalau Mukhlis jangan ditanya, sudah pasti menanggapinya datar.

Tiba-tiba Anggun datang dalam keadaan bunting, setelah genap tiga tahun semenjak ditugaskan di kantor pusat. Kalau tidak hati-hati, kehidupan di ibu kota Negara menggelincirkan. Mencongkel manusia dari nilai dirinya. Lihat buktinya, Anggun telah menjadi tumbal metropolitan.

Mengindari kehamilannya diketahui umum, Anggun minta cuti dari kantornya dengan alasan sakit. Kini sepenuhnya Anggun kembali berada di rumah kami. Mukhlis dengan sabar membantu mengantar Anggun periksa kandungannya ke dokter bila aku berhalangan. Kami merawat Anggun dengan penuh kasih sayang, layaknya anak sendiri.

Hampir aku menyarankan Anggun menggugurkan kandungannya. Mengingat sulitnya aku mendapatkan anak, kuurungkan niat jahat itu. Anak dalam kandungan itu tidak berdosa, dia layak hidup. Bukankah pendosa saja bebas hidup di dunia ini?

Aku merasa seperti melahirkan anak sendiri waktu menyaksikan Mukhlis mengumandangkan azan dan ikamah di kedua telinga bayi yang baru saja Anggun muntahkan dari rahimnya. Pancaran kebahagiaan menonjol di wajah Mukhlis. Cahaya yang tidak biasa aku temui darinya selama ini. Mungkin di saat itu Mukhlis ingat keinginanku untuk membesarkan anak itu jika saja Anggun malu membesarkannya sendiri. Kalau mau menutup aib, aku juga bersedia membiayai operasi keperawanan Anggun, asal dia memberikan anaknya kepada kami.

Anggun yakin akan membesarkan anaknya sendiri. Begitu kalimat yang Anggun katakan sesaat setelah dia melahirkan anak berkelamin laki-laki itu. Dia juga telah menyiapkan nama untuk anaknya, Gibran Rakasiwi. Nama yang bagus menurutku, secakap bayi laki-laki itu sendiri.

Aku lega mendapati Anggun malahirkan anak laki-laki. Kepercayaan di kampung kami, jika seseorang hamil di luar nikah, akan diketahui siapa biang keroknya dari jenis kelamin anak yang dilahirkan nanti. Jika berkelamin laki-laki, berarti si laki-laki yang duluan menggoda perempuan untuk bermaksiat, sebaliknya jika berkelamin perempuan, berarti si perempuan sendiri yang memulai bermain api. Aku senang Anggun melahirkan anak laki-laki, berarti si laki-lakinya yang bangsat, laknat. Itu sekelumit kepercayaan, jangan percaya sepenuhnya, cukup aku saja. Manusia bukan Tuhan yang bebas menentukan jenis kelamin dalam rahim perempuan, bukan?

Setelah masa cutinya usai, Anggun meninggalkan rumah bersama Gibran. Sungguh berat aku melepas kepergian mereka, tak terkecuali Mukhlis. Ia terlihat begitu terpukul oleh kesedihan. Tidak lagi memasang muka datar atas segala problema.

Kepergian Anggun dan Gibran menyisakan sepi yang mencekam. Tawa canda kami selama ini seolah dicabut Tuhan dari akarnya. Anggun dan Gibran seperti ditelan bumi, tak terlacak rimbanya. Hingga aku dan Mukhlis sakit-sakitan, mereka tidak juga muncul. Biarlah, mungkin itu cara dia menyembuhkan luka batinnya.

Anggun baru muncul saat Mukhlis meninggal dunia. Itu pun dia datang tanpa membawa Gibran. Anggun tidak sempat menghibur diriku yang berkabung. Dia hilang bersama pelayat lainnya begitu prosesi pemakaman berakhir.

Aku kembali sendiri, seperti waktu sebelum mengenal Mukhlis. Jika dulu aku bebas ke mana-mana, sekarang malah tidak ingin keluar rumah.  Aku merasakan surga di rumahku sendiri. Rumah yang sudah kuanggap bahtera dalam mengarungi gelombang hidup bersama Mukhlis. Aku nyaman di dalamnya, sebagaimana yang dirasakan para penumpang kapal nabi Nuh saat banjir bah menggulung.

Saban pekan aku menziarahi makam Mukhlis untuk melangitkan doa. Membersihkan pusaranya walau ada petugas khusus yang melakukan itu. Lebih-lebih sehari menjelang Ramadhan, aku bisa lebih lama berdiam di makamnya, seperti hari ini. Begitu selesai menunaikan salat Ashar, aku bergegas ke pemakaman, berdesakan dengan penziarah lainnya. Suasana di pemakaman lebih ramai ketimbang hari-hari lainnya. Ini sudah menyulap tradisi, bahkan menjadi wisata religi.

Senyum ramah penjaga kuburan menyambutku sebelum tanganku meraih nisan suamiku. Aku tersentak oleh pertanyaannya yang tiba-tiba.

“Kok kembali lagi, Bu. Ada yang tertinggal?”

“Maksudnya?” tanyaku bingung. “Saya baru saja datang,” cepat-cepat kumenambahkan.

“Bukankah sejak tadi Ibu khusyuk berdoa dan menangis di atas pusara ini?” Tangannya menunjuk kuburan Mukhlis.

Aku kaget, semakin bingung. Mata penjaga itu masih awas, kecil kemungkinan dia salah lihat. Aku berdoa di pusara suamiku dengan pikiran yang kacau. Sempat juga gagal merapal doa, beberapa kalimat terlewati. Aku semakin kacau. Berkelebat berbagai anggapan, campur aduk positif dan negatif.

Dalam keramaian seperti ini, sangat mungkin orang salah mendatangi kubur, apalagi kalau nama di nisan kebetulan sama dengan makam yang dicari. Di negeri ini sangat mudah kita mendapati orang dengan nama yang sama. Aku juga pernah mendapati orang yang gagal menemukan makam kakeknya karena jarang diziarahi. Mungkin orang seperti itu yang ditemui penjaga di makam suamiku. Itu penggalan-pengalan positif yang coba aku bangun dalam pikiranku.

Hal negatif tidak tinggal diam. Pelan-pelan menggeser pikiran positifku. Ahaaaa… Penjaga kuburan itu tidak salah. Dia benar melihatku, tapi bukan aku. Aku dalam bentuk lain. Ataukah penjaga itu melihat Anggun? Anggun satu-satunya wanita yang mirip denganku. Atau… atau…? Pikiranku membabibuta, malahirkan pertanyaan demi pertanyaan yang berkelindan. Jika benar itu Anggun, kenapa harus datang secara diam-diam, apa yang dia sembunyikan dariku, adakah salahku padanya sehingga tidak berkeinginan menemuiku?

Tuhan! Jangan buat aku berkabung. Cepat-cepat aku meninggalkan kuburan. Sesampai di rumah aku mengadu pada-Nya. DIA sebaik-baiknya tempat mengadu. Tempat kembali sejauh apa pun kita berjalan.

Aku kesulitan menepis prasangka buruk yang mengalir tanpa jeda dalam tempurung otakku. Sesulit memberantas korupsi di negeri ini yang kian akut.

“Yaa… Tuhan, tunjukkan jawaban atas pertanyaan yang tak mungkin hamba jawab sendiri.” Aduku pada pemilik hidup dan matiku.

Hanya cekam yang kurasa. Jelaga bermunculan di pojok dinding. Gemericik air tidak terdengar di kolam. Kudapati semua koi meregang nyawa di bibir kolam. Lalat hilir mudik tak karuan, menyerbu bangkai ikan yang mulai membusuk.

Mataku menjangkau foto pernikahan yang dipajang di tembok. Kudapati wajah Mukhlis begitu muda. Memang aku lebih tua darinya beberapa tahun, tapi tidak kalah muda darinya. Wajah-wajah pengantin adalah wajah kebahagiaan. Ah, aku semakin rindu padanya. Kulampiaskan kerinduan dengan memeluk foto yang telah kuraih dari dinding. Seketika hatiku tenang. Hangat menjalari tubuhku, seperti hangat dekapan Muhklis selepas akad dulu.

Kukembalikan bingkai foto ke dinding. Rupanya memasang tidak semudah mencopot. Aku teledor, bingkai terbanting ke lantai. Pecahan kaca berhamburan. Aku merasa bersalah. Kuraih lembar foto untuk kubersihkan. Tidak hanya selembar foto yang ada, aku temukan foto lain di baliknya. Aku tak pernah menyimpan foto itu, apalagi Mukhlis. Saat kubuka, terpampang jelas wajah Anggun bergaun pengantin tengah dikecup Mukhlis. Di pojok kanan bawah tertera waktu foto itu diambil. Kulihat tanggalnya jauh sebelum kami liburan di Raja Ampat.

Lama-lama dekapan semu yang kurasa semenjak tadi semakin hangat, lalu berubah menjadi panas, kemudian menjadi api, lalu membakar diriku hingga hangus tak tersisa. Air mata! Mari berpesta! Jangan datang sendirian, ajak Mukhlis sekalian untuk menjemputku pulang.[]

Malang, 27 Desember 2020.

Ilustrasi: NU.or.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *