Perantau Bima dan Refleksi Budaya Maritim

DI kalangan masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat, budaya rantau dikenal “lao loja” (pergi berlayar). Terminologi “lao loja” menggambarkan kondisi geografis Bima yang bercorak maritim, wilayah tepian air. Dari tradisi “lao loja” ini, kita bisa melacak manusia Bima zaman dahulu yang bersenyawa dengan lautan, mengarungi hingga menantang gempuran ombak.

Dalam konteks ini, kita perlu melampaui perbincangan soal laut bukan semata objek untuk dieksploitasi, tapi menjadikan laut sebagai paradigma berpikir dalam lanskap kebudayaan. Cobalah berlayar, atau berdiri merenung di atas kapal, maka yang terbayang di tengah lautan, tentu saja keindahan yang menawan, namun juga kecemasan yang mendebarkan. Tenang sekaligus bergelombang.

Akhirnya, hanya pelayar yang bernyali, cerdas dan digdaya lah yang mampu menaklukannya. Disini pula kita bisa menerawang ke masa silam betapa merantau (lao loja) bukan sekadar perpindahan fisik, tapi juga sebuah perjalanan spiritual. Dalam merantau itulah, kita dapat menyempurnakan cita rasa kemanusiaan secara utuh.

Dalam catatan sejarah, nenek moyang orang Bima disebut sebagai pelaut ulung, bahkan Bandar Bima termasuk jalur perdagangan yang ramai dan dinamis. Dalam tulisan bertajuk “Kejayaan Masa Lalu Maritim Bima Telah Runtuh” seperti dimuat National Geographic, Antropolog Bernice de Jong Boers (1994) menyebut, Bandar Bima, Nusa Tenggara Barat, pada masa lalu disinggahi kapal dari mancanegara.

Dari sumber itu, disebutkan bahwa kemajuan budaya dan ekonomi berbasis maritim saat itu juga dapat dilihat dari adanya undang-undang Bandar Bima, dalam Bo Kerajaan Bima, yang manuskripnya tersimpan di Museum Samparaja Bima.

Lebih lanjut, dari sumber tersebut dikatakan pula, bahwa kemunduran tradisi bahari dimulai sejak kedatangan bangsa Barat, terutama Belanda yang menguasai Nusantara hingga 3,5 abad. Pada Bima dan kerajaan lain di Sumbawa, kemunduran itu juga dipengaruhi letusan Tambora pada April 1815.

Lalu, bagaimana kita merefleksikan romantisme budaya maritim dan proyeksi manusia Bima di masa depan?

Mengacu pada kosmologi Nusantara, jika Gunung Rinjani itu icon kosmos bagi masyarakat Sasak di Pulau Lombok, maka bagi masyarakat Pulau Sumbawa, icon kosmosnya adalah Gunung Tambora. Dalam gambaran penyair WB Yeats – seperti ditulis oleh Yudi Latif (kompas.com – 14/04/2015) – pada tahun-tahun setelah 1815, masyarakat manusia “diubah, diubah sama sekali”; diubah dengan cara-cara yang radikal, dari keadaan mereka pra-erupsi Tambora.

Pasca-erupsi Tambora, memang separuh dari semesta Tambora luluh lantak, tapi lambat laun spiritnya kembali menyala, melahirkan manusia baru, reborn. Itu pun setelah mereka “anak-anak Tambora”, keluar dari belenggu keterbatasan, lalu merantau untuk belajar dan bekerja.

Dilihat dari faktor pendorong merantau orang Bima-Dompu, tentu beragam. Ada yang keluar dari daerahnya karena faktor ekonomi, kondisi alam, budaya, pendidikan, tugas negara dan panggilan kekasih di ‘dunia lain’.

Dari sisi ekonomi, lapangan pekerjaan khususnya di Bima sangat terbatas. Kendati tersedia lahan untuk menopang kegiatan pertanian, tapi tidaklah cukup, terlebih peningkatan jumlah penduduk yang terus bertambah. Di sisi lain, pembangunan fisik yang tak terkendali kian mempersempit lahan. Belum lagi kebutuhan yang terus meningkat. Dus, merantau menjadi jalan untuk mengubah keadaan.

Pendidikan adalah pilar pembentuk peradaban Bima. Karena itu, spirit merantau orang Bima tak bisa dilepaskan dari faktor pendidikan, lalu mereka melintasi selat dan pulau untuk bersekolah dan berkuliah. Keterbatasan perguruan tinggi yang mengakomodasi dahaga ilmu pengetahuan di Tanah Bima, mendorong mereka meninggalkan kampung halaman demi menuntut ilmu di sejumlah kota pelajar dan sentrum pergolakan pemikiran di Indonesia.

Menariknya, orang Bima yang bermental pesisir dan dinamis membuat mereka bergelut di ranah pemikiran hingga pergerakan. Di tanah rantau, mereka menggabungkan antara intelektualisme dan aktivisme. Tidak sedikit orang-orang Bima yang jadi pimpinan organisasi besar dan akademisi, hingga pejabat tinggi negara yang berpengaruh.

Berdasarkan pengalaman pribadi, testimoni orang luar Bima, ditambah refleksi sejarah, para perantau Bima menjalankan profesi yang beragam. Dalam kondisi tertentu, orang Bima kerap diasosiakan sebagai penjual obat gosok, susu kuda, pedagang bawang merah hingga sapi. Selanjutnya, profesi yang digemari dan sangat popular adalah guru. Sementara itu, bagi yang jagoan dan berbadan kekar, mereka menekuni profesi sebagai tenaga security, bahkan jadi anggota gangster. Tak sedikit juga orang Bima yang menempuh jalan sebagai akademisi, birokrat, pejabat publik, dan politisi.

Perantau Bima yang beragam profesi itu semakin mewarnai serba-serbi perantau dari suku-suku lain, lantas berbaur dalam semangat keindonesiaan. Pada intinya mereka mau berubah, bertransformasi dari ulat menjadi kepompong, lalu terbang lepas. Bahkan saya mengenal satu orang Bima yang matanya berkaca-kaca saat menempuh sidang ujian disertasi di Jakarta, yang ceritanya dulu pernah jadi penjual obat gosok, kemudian kuliah sambil kerja serabutan, hingga menyabet gelar doktor. 

Cerita seorang doktor yang mantan penjual obat gosok (juga profesi lain) mungkin banyak. Dari pelajaran itu, bisa dikatakan bahwa “from nothing to something” itu akan terjadi kalau perantau Bima kembali menjiwai spirit pelayar dalam bingkai budaya “lao loja”. Mentalitas pesisir “lao loja” patut dibatinkan, bahwa keberanian, kecerdasan, kelincahan dan ketegaran mesti melekat bagi sang perantau.

Ketika saya diberi amanah sebagai Steering Committee (SC) untuk acara Musyawarah Besar (Mubes) VII Badan Musyawarah Masyarakat Bima (BMMB) Jabodetabek pada tanggal 29 September 2019 lalu, saya merumuskan tema Mubes yang akhirnya disepakati bersama, yakni “Diaspora Bima: Merangkul Kebersamaan; Memperkokoh Persatuan Bangsa”.

Nampaknya, tema itu masih relevan, betapa urgensinya kebersamaan untuk membangun daerah sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa agar tetap kokoh, maju dan hebat. Bagi diaspora Bima, saripati yang perlu diserap adalah semangat gelora maritim, cinta ilmu pengetahuan, mengedepankan budaya kerja keras, membumikan akhlak universal, menjadi gula dan garam bagi sesama.[]

Foto: Ayang Saifullah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *