Bima Diaspora dan Bawang di Banjarmasin

DI Kota Banjarmasin ada Pasar Lima, pusat perdagangan rempah-rempah, terutama bawang merah. Pedagang dari berbagai daerah seperti Jawa, Madura, Makassar, Padang, dan Bima, tentu saja dari Banjar sendiri, berbaur mencari rejeki. Di sisi lain, mereka meretas relasi multikultural, yang memungkinkan mereka punya stabilitas dalam menyelenggarakan perdagangan dan urusan sosial.

Puluhan orang Bima pedagang menjadikan Pasar Lima sebagai kampung ketiga mereka, setelah tanah lahir mereka di Bima dan kampung hidup sosial mereka di tanah Banjar. Mereka ada yang dari Keli, Renda, Ngali, Sape, Tente, Waworada, Ntobo, dan beberapa daerah lain. Ada yang sudah 30-20-an tahun tinggal di Banjar, ada yang sepuluh, belasan, lima tahun, dan ada pula yang masih baru dalam hitungan bulan.

Dalam rentang waktu yang sekian lama tinggal di rantauan, ada yang sudah mapan membentuk keluarga dan komunitas. Pak Saleh dari Sape yang sudah 30-an tahun berdagang di Banjar memperistri orang Banjar. Pak Anas dari Ngali malah telah mempersunting 3 perempuan Banjar dan satu perempuan Madura. Ada juga yang kawin-mawin dengan orang Bima sendiri, tetapi anak mereka menjadi warga dengan ‘bilingual’ atau ‘multiple identity’.

Mobilitas sosial mereka beragam, sesuai kapasitas modal sosial-budaya-ekonomi yang mereka miliki. Modalitas yang mereka bawa dan raup di tengah perantauan itu lalu mereka pertukarkan dalam pergaulan multikultural dalam wadah perdagangan. Andri, lajang dari Sape, meski relatif baru memasuki kancah Pasar Lima, sudah memiliki banyak armada angkutan berlabel Weki Ndai. Yang lain bahkan memiliki showroom mobil di tengah kota.

Konstruksi mereka tentang tanah Banjar dapat ditelusuri mengenai konsep ‘lao loja’ (pergi berlayar) yang berkonotasi pergi ke tanah Banjar, lebih daripada pergi ke tempat-tempat lain dalam jalur perdagangan Nusantara. Kasus Reo, Todo, dan pesisir utara Manggarai agak berbeda karena konstruksi ‘politik’ (politik kekuasaan dan politik dagang era kolonial). Itulah mengapa mereka dan anak-anak mereka begitu ‘tune in’ dengan tanah dan orang Banjar, begitu juga sebaliknya.

Adakah bagi mereka jalan kembali? Pembentukan komunitas sesama Bima adalah salah satu bentuk kembali. Di sana mereka menemukan replika ke-Bima-an di rantauan. Sesekali mereka juga pulang ke Dana Mbojo untuk memperkenalkan asal-usul geografis bagi anak-anak mereka, misalnya tiga, empat atau lima tahun sekali. Intensitas dan kemajuan komunikasi dan perhubungan sekarang ini membuat mereka ‘feel at home’.

Pelabuhan Basiri, tempat kapal-kapal dari Bima membongkar bawang, isi bumi lain, dan ternak, bahkan dikenal sebagai “Pelabuhan Bima”. Bahasa Bima bersahut-sahutan di sekitar itu, bukan saja di kalangan orang Bima, tetapi juga di kalangan pedagang dari suku lain. Sama halnya dengan di Pasar Lima: jangan terkecoh dengan orang yang menawar bawang dengan bahasa Bima, dia bisa saja dari Banjar atau Bugis-Makassar.

Diaspora ini akan berlangsung terus dan berkembang sesuai zamannya. Menguatnya multikulturalisme di bumi Nusantara ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi tumbuhnya diapora-diaspora. Modal-modal sosial-kultural akan menentukan posisi mereka dalam pergaulan multikultural itu. Tinggal bagaimana mereka menegosiasikan, mengkonversikan, dan mempertukarkan nilai-nilai budaya ibu dengan nilai-nilai budaya baru sehingga mereka dapat terintegrasi dengan sistem sosial tempat mereka hidup.[]

Catatan dan foto: Aba Du Wahid, 2016

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *