IAIN (di) Bima: Pendefinisian tentang Masyarakat dan Komitmen Keilmuan

Survey HaloBima.net tentang aspek-aspek yang dianggap penting terkait dengan pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bima sudah dirilis (4 Juni 2021). Ada empat aspek yang diangkat untuk memperoleh tanggapan publik. Pertama, soal nama tokoh historis Bima yang dianggap layak menjadi nama kampus. Kedua, soal distingsi atau kekhasan kajian yang membedakan dengan perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) lain di di Indonesia. Ketiga, tentang citra ikonik yang menjadi identitas bagi bangunan fisik kampus. Keempat, tentang kriteria pimpinan yang cocok dengan citra dan visi-misi kampus.

BACA JUGA: Survey Pendirian IAIN di Bima: Inilah Aspek Penting yang Diinginkan Masyarakat

Tulisan ini ingin sumbang pemikiran soal kedua, yaitu distingsi kajian yang diemban oleh kampus IAIN (di) Bima ke depan. Terkait hal itu, hasil survey mengungkap sebanyak 48.1 % publik menginginkan IAIN (di) Bima sebagai pusat kajian multikulturalisme, 33.8 % menghendaki kampus ini  sebagai pusat kajian Islam Kawasan Indonesia Timur, dan 11.9 % menyatakan kampus ini cocok sebagai pusat kajian moderasi beragama.

Soal distingsi ini penting sebagai nafas akademik yang mewarnai praktik Tri Darma Perguruan Tinggi: pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tanpa distingsi itu sebuat PT seperti tidak memiliki elan vital perjuangan. Pernyataan atau pemilihan tentang distingsi itu menyiratkan kemampuan sebuah perguruan tinggi (PT) mendefinisikan diri dan masyarakatnya.

Definisi diri dan analisis sosial itu penting dilakukan dan dicetuskan dalam sebuah komitmen keilmuan yang dikembangkan di lingkungan PT, karena sebuah PT pada dasarnya cerminan masyarakatnya. PT yang ada di sebuah wilayah sejatinya hadir sebagai jawaban atas tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di sekitarnya. Karena itu, jargon community based university, universitas berbasis komunitas/masyarakat, menjadi kesadaran umum PT di mana pun dewasa ini.

Sebagai contoh, kesadaran akan pengkhidmatan kepada masyarakatnya itulah, misalnya, yang memaksa universitas di Australia, Western Sydney University (WSU), mengubah orientasinya, dari pengkhidmatan kepada “ilmu demi ilmu” kepada “ilmu untuk masyarakat”. Maka universitas itu menerjemahkan jargon “Bringing Knowledge to Life” – menggiring ilmu untuk kehidupan – dalam bentuk mengubah nama dengan mengedepankan nama tempat/wilayah menjadi Western Sydney University dari sebelumnya bernama University of Western Sydney.

Sekilas sepele dalam penamaan itu, hanya mengubah posisi nama tempat, tetapi hal ini jelas menyiratkan adanya kegelisahan atau ide besar tentang sebuah masyarakat yang dibayangkan (imagined community). Dan pihak universitas mendefinisikan masyarakat itu secara baik. Misalnya, masyarakat kawasan Sydney bagian barat itu adalah masyarakat urban yang diisi oleh para pendatang dari berbagai negara, terutama negara-negara yang mengalami konflik di Asia, Timur Tengah, juga Amerika, Eropa, dan Afrika. Mereka dari berbagai latar belakang ini harus bisa terintegrasi dalam sebuah sistem sosial baru di Australia yang mengandaikan masyarakat multikultural yang produktif, bukan masyarakat majemuk sarat konflik. Maka universitas menjadi bagian penting dari rekayasa sosial berdasarkan ilmu pengetahuan.

Begitulah yang dibayangkan tentang performa sebuah PT dengan panduan definisi yang baik tentang diri dan masyarakat yang dicetuskan dalam filosofi, visi-misi, jargon, nilai-nilai unggul, dan identitas. Ini semua adalah DNA yang terus-menerus menentukan kultur keilmuan, moda produksi pengetahuan dan manajemenya. Dus, menentukan hidup dan matinya sebuah PT.

Demikianlah PTKIN baru yang akan hadir seperti IAIN (di) Bima dituntut untuk memiliki kemampuan mendefinisikan diri dan masyarakatnya. Dan hal itu sudah mulai dilakukan. Namun perlu digarisbawahi, pendefinian tentang tantangan masyarakat yang akan menjadi landasan distingsi tidak bersifat ad hoc atau terkecoh oleh isu aktual sesaat yang mungkin saja sengaja diciptakan karena alasan politis-ekonomi. Distingsi itu harus strategis, dan berjangkau jauh ke depan.

Dengan survey ini ternyata publik juga menyumbang pemikiran yang sangat berarti bagi proses pendefinisian itu. Pandangan publik, sebagaimana tercermin dari hasil survey di atas, masyarakat kita butuh sebuah institusi yang benar-benar kredibel untuk mengawal dan mengarahkan perubahan sosial yang berdimensi keagamaan dan budaya. Maka soal-soal yang terungkap, misalnya, tentang multikulturalisme, dinamika masyarakat Indonesia Timur, dan moderasi beragama, adalah sebagian dari tantangan kehidupan masyarakat Bima dan sekitarnya dewasa ini.

BACA JUGA: Pendirian IAIN Bima dan Multikulturalisme Indonesia Timur dan Kampus Baru dan pembangunan Daerah

Sejauh mana relevansi ketiga isu ini, dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang. Dari perspektif kajian kebudayaan, misalnya, wilayah Bima memang dilihat sebagai sebuah wilayah kebudayaan (culture area) yang menunjukkan ciri-ciri multikultural. Ciri ini sebetulnya tipikal masyarakat Nusantara, tetapi multikultural ala Bima mendapatkan sentuhan dan tantangan dari dinamika wilayah yang cukup intens dengan diapit oleh kultur-kultur agama yang berbeda. Masyarakat Bima sendiri mengidentifikasi diri sebagai masyarakat Muslim, sementara masyarakat di pulau-pulau sebelah timur Pulau Sumbawa adalah masyarakat Kristiani, dan di sebelah barat (Bali) adalah masyarakat Hindu. Pada saat yang sama dengan gelombang globalisasi dan era milenial dewasa ini, gerakan-gerakan keagamaan transnasional merangsek ke dalam masyarakat Muslim Bima, juga masyarakat Muslim minoritas lainnya di sekitar.

 Keadaan ini tentu menjadi tantangan, apakah situasi keberbedaan ini sebuah ancaman atau anugerah. Kita menghendaki keragaman budaya dan agama ini adalah rahmat Tuhan yang harus disyukuri, karena itu perlu dipupuk dan dikembangkan sehingga menjadi modal besar bagi transformasi sosial. Kehadiran PTKIN selevel IAIN yang dirindukan keberadaannya, seyogyanya untuk itu, terutama untuk membimbing masyarakat menghadapi tantangan era milenial sekarang ini.

Dalam konteks dinamika kewilayahan ini, ketiga isu: multikulturalisme, moderasi beragama, dan pengembangan wilayah Indonesia Timur sebenarnya tidak harus dipilah-pilah, tetapi harus menjadi konsep-konsep strategis yang terintegrasi satu sama lain. Artinya, ketiga distingsi yang diusulkan oleh publik itu bisa diramu dalam satu kesatuan menjadi setarikan nafas akademik. Pada gilirannya hal itu menjadi bahan bagi rencana strategis, terutama dalam pengembangan kurikulum pengajaran, cetak biru penelitian, dan sistem pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu, isu-isu di atas tidak berdiri sendiri sebagai sebuah perkara ontologi murni, melainkan terkait dengan soal-soal politik dan ekonomi. Maka dalam rumusan distingsi itu juga mempersyaratkan distingsi metodis (epistemological pattern) yang memungkinkan sebuah PT bergerak lincah memberi asupan problem solving bagi masyarakat. Hal yang bisa dipikirkan adalah pendekatan studi Islam interdisipliner, atau – kalau mengikuti Prof. Amin Abdullah – pendekatan tiga aras MIT (multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner). Tentang hal ini banyak model yang bisa dikaji dan diadopsi-adaptasikan.

Jika hal-hal fundamental ini menjadi kesadaran dini dalam perjuangan menghadirkan IAIN (di) Bima maka kita semua telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi bangunan sebuah kampus yang akan berkibar sepanjang masa. Itu bermakna bahwa peletakan dasar yang kokoh bagi suatu sistem pengetahuan sejatinya adalah merancang dasar dan pilar yang kuat bagi suatu peradaban.

Dalam menjalankan komitmen sosial keilmuan Islamic Studies ini – terutama untuk pengembangan masyarakat Muslim di timur Indonesia – IAIN (di) Bima bisa berkolaborasi secara institusional dengan PTKIN lain, seperti UIN Mataram, UIN Alauddin Makassar (dan PTKIN di Pulau Sulawesi lainnya), UIN Ambon, dan IAIN Sorong. IAIN (di ) Bima bisa berkonsentrasi pada Kawasan Indonesia Timur (KIT) bagian tenggara.

Maka, mari semua duduk bersama, mbolo weki, curah pendapat dan pikiran, jangan berpangku tangan, dan terlibatlah!.[]

Ilustrasi: pinterest.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *