Tapi, semakin ke sini, saya punya alasan tertentu mengapa saya menonton film. Salah satunya, dari menonton film saya bisa menemukan berbagai informasi dan inspirasi. Ada saja kandungan hikmah yang diperoleh dari setiap tontonan itu. Cerita demi cerita yang dihadirkan selalu punya makna tersendiri. Meskipun hanya film, namun selalu ada pesan tertentu yang ingin disampaikan.
Baca juga: De Oots dan Nasib Film Sejarah
Salah satu film yang saya suka tonton adalah film India. Entah mengapa selalu ada nilai tersendiri dari setiap film Bollywood yang saya tonton. Ada saja yang bisa diambil hikmahnya. Meskipun, yang terkental dari film-film Bollywood itu adalah nuansa cintanya.
Suatu ketika, saya menonton film India yang berjudul “Jai Ho”. Saking sukanya, tidak hanya sekali saya tonton, melainkan beberapa kali. Film ini, menurut saya, menarik sekali untuk ditonton oleh siapa saja. Ada banyak nilai positif yang bisa dipetik dari film yang dibintangi oleh Salman Khan ini.
Dalam film ini, awalnya dikisahkan bahwa Jai (Salman Khan) adalah seorang tentara. Ia bersama kawan-kawannya ditugaskan khusus untuk membebaskan anak-anak yang disandera oleh sekelompok teroris di suatu tempat. Baku tembak pun terjadi. Banyak di antara teman-teman Jai yang menjadi korban dalam baku tembak dengan para teroris tersebut.
Oleh seorang pimpinan, melihat anak buahnya banyak yang berguguran saat baku tembak, akhirnya mereka disuruh mundur. Satu per satu memilih mundur, kecuali Jai. Jai tidak tega meninggalkan para sandera itu di tangan teroris. Akhirnya, ia memutuskan untuk menolak perintah komandannya itu. Ia memilih untuk membebaskan para sandera. Usahanya berhasil. Para teroris dia sikat habis. Dan, para sandera pun selamat.
Namun, apa yang terjadi kemudian? Karena dia tidak mengindahkan perintah komandannya tadi, dia harus menerima akibatnya. Meskipun Jai telah menumpas habis sekawanan teroris dan berhasil menyelamatkan para sandera, dia tetap dipecat dari tentara. Dia dengan legowo menerima keputusan itu.
Kendati telah dipecat dari tentara, namun jiwa patriotnya tetap mengalir dalam darahnya. Dia tetap berusaha melakukan kebaikan, apa saja yang ia bisa. Ia membantu orang-orang lemah yang merasa dizalimi. Dia menyelamatkan balita yang diculik. Memberikan pertolongan kepada orang-orang yang butuh bantuan. Menariknya lagi, dia tidak pernah meminta tarif atau imbalan uang dari kebaikannya itu.
Dia hanya menyuruh atau meminta kepada siapa saja yang telah dibantunya tersebut untuk berbuat yang sama pula, yakni bahwa setiap dari mereka agar mau membantu tiga orang lain lagi, dalam bentuk apa saja. Lalu, mereka itu meminta lagi kepada tiga orang yang dibantunya itu untuk masing-masing membantu tiga orang lagi. Begitu seterusnya, hingga membentuk rantai kebaikan yang tak terputus.
Awalnya, memang tidak mudah. Bahkan, Jai sempat frustrasi dan putus asa. Namun, seiring bergantinya waktu, dengan kesadaran yang timbul dari diri masing-masing individu, satu per satu orang-orang mulai melakukan rantai kebaikan seperti yang didambakan oleh Jai tersebut.
Rantai kebaikannya tersebut terus menyebar, dari satu tempat ke tempat yang lain. Mulai dari anak-anak yang melakukannya hingga para orang tua. Hasil akhirnya, sungguh luar biasa dan begitu dahsyat serta di luar dugaannya dia. Akibatnya, dia memiliki kekuatan massa tersendiri.
Dalam misinya untuk membantu orang-orang yang tertindas tersebut, Jai mendapatkan banyak tantangan. Termasuk, keluarganya diancam. Yang mengancam atau mengintimidasinya pun bukan orang sembarangan, melainkan seseorang yang memiliki posisi strategis di negaranya, yakni menteri.
Bahkan, di ujung cerita, diketahui bahwa ternyata rentetan peristiwa bunuh diri (salah satunya, bunuh diri seorang mahasiswi) dan pembunuhan (mulai dari hakim, jaksa, wartawan) di negaranya itu adalah ulah sang menteri tersebut. Si menteri itulah yang menjadi biang kerok dan otak di balik itu semua.
Lebih jauh, kasus penyanderaan anak-anak yang dilakukan oleh sekelompok teroris di awal adalah ulah sang menteri tersebut. Ternyata, ia sendiri yang sengaja menciptakan teroris itu.
Pada akhirnya, kejahatan akan kalah pada waktunya. Mengetahui semua cerita itu, Jai pun makin marah. Emosinya memuncak. Dia membunuh satu per satu orang-orang yang berada di lingkaran sang menterinya itu. Tak ada ketakutan dalam dirinya. Jai terus memberontak. Menurut Jai, ini sudah keterlaluan. Kejahatan semacam ini harus diakhiri, meskipun nyawanya tersendiri menjadi taruhan.
Baca juga: Pram, Sejarah, dan Perlawanan Sastra
Benar saja, dengan jiwa patriot yang masih mengalir di darahnya, ia tidak hanya mampu menumpas kejahatan yang terstruktur tersebut, namun juga berhasil menarik simpati masyarakat. Orang-orang mulai sadar akan kejahatan yang dilakukan oleh sang menteri tersebut, dan memahami atas apa yang dilakukan oleh Jai selama ini. Alhasil, ideologi–rantai kebaikan–yang Jai impikan sebelumnya terwujud nyata, bahkan melebihi dari harapan. Luar biasa.
Dalam film tersebut juga, ada satu kalimat yang amat menarik menurut saya yang diucapkan oleh kakaknya Jai, Geeta. Geeta bilang, “Kau tak harus menjadi tentara atau menjadi politisi untuk melayani negara.” Kalimat ini, menurut saya, sarat makna. Bahwa untuk berkontribusi atau mengabdi kepada negara tidak harus berseragam tentara atau polisi. Juga tidak mesti menjadi politisi. Tak harus menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati, dan seterusnya.
Ya, apa pun profesi yang kita jalani kini, kita bisa berbuat sesuatu untuk kemajuan bangsa dan negara. Semuanya punya andil yang sama untuk berkontribusi kepada negara. Petani dengan cara bertani. Peternak dengan cara beternak. Petugas kebersihan dengan melakukan tugasnya di bidang kebersihan. Begitu juga dengan beragam profesi yang lainnya.
Hematnya, kita bisa menjadi Jai di dunia nyata sesuai dengan profesi dan kemampuan kita masing-masing. Melakukan rantai kebaikan semampu kita. Tidak harus berseragam militer atau politisi, sebagaimana yang dikatakan oleh Geeta dalam film Jai Ho tersebut. []

Pemuda Bumi Pajo, Bima. Suka Mengembara. Menulis dan Mengedit Puluhan Judul Buku





