De Oots dan Nasib Film Sejarah

Melihat sejarah kadang menjadi tabu dan membingungkan. Jika tidak ada kearifan dalam memahami dan menerima hasil dari tragedi sejarah yang panjang, hal itu amat pasti dirasakan penikmat sejarah. Benturan narasi, silang pendapat hingga debat siapa yang benar-salah, kuat-lemah hingga siapa yang berhak menarasikan dan menafsirkan sejarah sangat ramai dewasa ini.

Termasuk dalam Film De Oots yang baru-baru ini dirilis. Dan membikin geger negeri Belanda. Film yang menggambarkan kesalahan demi kesalahan dari kebijakan negeri Belanda untuk wilayah jajahan Hindia Belanda ini “terbongkar”. Dengan munculnya film ini, rahasia dan kesalahan Belanda yang disebut Prof. Ariel Heriyanto sebagai “aib” itu resmi diakui oleh Belanda sendiri.

Baca juga: Kartini dan Sejarah di Ujung Tanduk

Dalam beberapa waktu yang lalu, melalui kanal youtube Helmi Yahya Bicara, saya mendengar penjelasan dari Prof. Anhar Gonggong bagaimana keluarganya menjadi korban kekejaman dari tindakan “penumpasan teroris” dari Raymond Westerling. Walaupun perlu digarisbawahi soal perbedaan pendapat mengenai jumlah korban yang dari tindakan tersebut. Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa kalangan pribumi dan profesor sejarah, Anhar Gonggong keluarganya menjadi korban. Berarti, kekejaman dan kengerian Westerling, dekat sekali dengan kita.

Melalui kanal youtube yang sama, Prof. Salim Said juga bercerita tentang pengalamannya mewawancarai Westerling di Belanda. Dalam hal ini memang justifikasi yang disematkan pada sosok Westrling yang selama ini kita nikmatin yang akhirnya mengkristal menjadi sebuah kebenaran, harus benar-benar kita tinjau ulang.

Sebab, pendekatan yang dilakukan selama ini masih sangat rasis. Munculnya Film de Oots ini sebenarnya juga merupakan upaya untuk mendobrak kejumudan film sejarah yang selama ini masih terbelenggu dengan kepentingan politik dan kapitalisasi ekonomi dunia perfilman. Dengan pendekatan  post-colonial hal ini bisa menjadi pendekatan alternatif dalam membuat film sejarah agar lebih terlihat obyektif, syukur bisa mengkritisi dan merevisi narasi-film yang sudah terbentuk di masyarakat.

Ada beberapa kontroversi yang dilakukan oleh Westerling, yakni membunuh sejumlah orang dan warga sipil yang diduga membuat keonaran dan keributan pascakemerdekaan Indonesia. Nah, hal tersebtlah yang membuat Westerling itu bersalah, walaupun yang dilakukan oleh Westerling merupakan tugas yang diberikan kepadanya. Tapi, rasa kemanusiaan dan kepekaan terhadap sesama manusia tersebutlah yang menjadi alasan banyak orang sehingga menyebut Westerling telah melakukan genosida.

Padahal jika kita cermati lebih teliti dan komprehensif tindakan yang dilakukan oleh westerling itu adalah sebuah tugas negara yang jika tidak dilaksanakan, Westerling-lah yang disalahkan di Belanda. Tapi, jika dilaksanakan akan menimbulkan malapetaka bagi rakyat Indonesia.

Baca juga: Power is Knowledge

Di sinilah saya kira pendekatan post-colonial itu harus dipakai dalam melihat realitas ini. Di sisi lain, bahwa apa yang ditunjukkan oleh Westerling adalah sebuah sikap patriot seorang prajurit yang melaksanakan tugas pimpinan dalam “tugas negara”. Oleh karena itu, saya melihat sebenarnya apa yang dilakukan oleh Westerling adalah hal biasa yang dilakukan oleh seorang prajurit.

Jika dilihat dari pesan kemanusiaanya, film ini jelas memperlihatkan upaya pembebasan diri dari dosa masa lalu. Bagaimana melawan stigma yang sudah terbentuk lama dan mengkristal di masyarakat. Ini tentu pekerjaan yang sulit, namun kerja-kerja semacam itu harus dilakukan di tengah arus komoditi ide dan hegemoni pikiran yang dilakukan akhir-akhir ini.

Bahwa dalam pelaksanaan tugas dari negara, apapun yang diperintahkan, harus dilakukan. Walaupun itu adalah sebuah kepahitan untuk negara terjajah. Rasa patriotik dan taat kepada pemimpin ditunjukkan oleh Westerling dalam film tersebut. Prof. Ariel dengan gamblang mencontohkan jika kita (Indonesia) berada di posisi Belanda sebagai penjajah. Dengan memberikan contoh melihat peristiwa Santa Cruz Timor-Timur yang akhirnya melahirkan novel Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma.

Baca juga: Oksigen Baru untuk Pancasila

Oleh sebab itu, pesan-pesan kemanusiaan bahwa kita patut merdeka sebagai manusia, dan taat pada pimpinan harus kita laksanakan. Dan itu menjadi pesan utama dari film tersebut saya kira.

Dan Film De Oots ini bisa menjadi barometer kebangkitan film sejarah yang mencerahkan dan membimbing masyarakat dalam melihat realitas masa lampau lebih jernih dan terbebas dari kepentingan politik dan ideologi yang dibawa oleh setiap produsen film. Semangat itu yang harus ditunjukkan, dan respon masyarakat juga pasti baik dan bagus jika memang karya yang dihasilkan layak untuk dipuji dan apresiasi sebaik-baiknya. Westerling juga sudah mengajarkan kita arti penting dari sebuah perjuangan dan patriotisme dari seorang pejuang yang harus dibela dan diperjuangkan terus.

Ilustrasi: Kompas.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *