Radikalisme dan Moderasi Beragama

Radikalisme dan moderasi beragama tentu dua hal yang berbeda. Radikalisme mungkin mirip ekstrimisme beragama. Dua konsep yang berbeda ini tentu tidak bisa dipaksakan sama, apalagi jika digunakan untuk membungkam suara-suara kritis, tentu menjadi naif dan aneh. Inilah yang terjadi saat ini, misalnya ketika konsep radikalisme dilekatkan kepada tokoh yang mewakili moderasi beragama di Indonesia.

Tulisan ini hendak menyoroti berita viral di medsos dan media mainstream tentang tuduhan radikal terhadap Prof. Din Samsuddin oleh pihak tertentu hanya karena suara kritis Pak Din terhadap penguasa. Tulisan ini pastinya tidak hendak membela Prof. Din Samsuddin, mantan Ketum PP. Muhammadiyah dan tokoh moderasi Islam Indonesia yang dikenal publik internasional terutama di kalangan komunitas tokoh agama internasional. Penulis hanya ingin menjelaskan makna radikalisme dan moderasi beragama dari sudut pandang akademis.

Radikalisme dan Moderasi Islam

Isu radikalisme dan terorisme belakangan ini seringkali dikaitkan dengan Islam dan umat Islam, padahal sebenarnya radikalisme dan terorisme juga berlaku pada agama lain dan umat beragama lainnya. Walaupun harus diakui bahwa pelaku teror di Indonesia, misalnya bom Bali 2001 dan peristiwa pengeboman lainnya setelah itu selalu menggunakan narasi Islam sebagai energi untuk melakukan kekerasan. Namun, melakukan generalisasi terhadap Islam sebagai sumber radikalisme agama adalah salah kaprah yang kebablasan. Sebab, radikalisme itu bukan soal agama tetapi soal pemahaman yang keliru terhadap agama.

Baca juga: Ketika Duo Peneliti Bertemu: Antara Deradikalisasi dan Moderasi

Jika kita merujuk kepada sumber-sumber keagamaan dalam Islam, terutama Al-Quran dan hadis, Islam justeru menganjurkan pilihan damai dan berdamai dalam menyelesaikan berbagai masalah hubungan agama dan negara atau hubungan agama dan politik. Memakai kekerasan bukan pesan utama Islam kecuali dalam situasi pembelaan diri dan kondisi darurat. Secara fikhiyah, terdapat banyak syarat dan kondisi yang membolehkan penggunaan kekerasan dalam membela diri dan kondisi darurat. Sampai di sini, bisa dikatakan bahwa Islam clear menolak kekerasan dan jalan teror.

Pertanyaannya, mengapa segelintir umat Islam memilih jalan kekerasan dan teror untuk mencapai tujuan politik dan mengekspresikan sikap dan perilaku keagamaan mereka? Terdapat banyak teori para ahli dari berbagai bidang keilmuan yang membahas tentang apa motivasi memilih jalan teror dan kekerasan pada sebagian kecil radikalis di Indonesia dan dunia Islam. Misalnya, Kruglanski (2009) seorang pakar psikologi terorisme dari daratan Amerika menguraikan tentang teori N3.

N3 adalah singkatan dari Need, Network dan Narrative atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menggambarkan kebutuhan, jaringan sosial dan narasi. Tiga hal ini yang menjelaskan mengapa individu atau kelompok memilih jalan teror dan kekerasan untuk mencapai tujuan politik pribadi dan kelompoknya.

Kebutuhan hidup, baik yang bersifat fisik dan psikologis menjadi alasan utama mengapa individu bergabung ke dalam kelompok radikal dan teror. Kebutuhan fisik bisa saja berkaitan dengan ekonomi dasar, sehingga dalam berbagai kesempatan bertemu dengan para narapidana teroris di Lapas Khusus Sentul atau Nusakambangan, kebutuhan dasar ditemukan menjadi faktor pendorong mengapa orang terjerumus ke lembah terorisme. Namun, bagaimana dengan fakta yang menunjukkan bahwa para narapidana teroris banyak yang berasal dari kalangan menengah ke atas?

Kruglanski (2009) menegaskan bahwa ada yang lebih penting dari sekadar kebutuhan fisiologis dasar pada kaum radikal dan teroris, yaitu kebutuhan akan kebermaknaan, atau dalam literatur psikologi disebut dengan konsep quest for significance. Konsep pencarian makna ini sangat erat kaitannya dengan identitas personal maupun identitas kolektif. Pencarian identitas personal dan identitas kolektif, menurut Kruglanski disebabkan oleh absennya identitas atau hilangnya identitas karena sebab-sebab tertentu. Salah satu bentuk pencarian identitas personal maupun kolektif ini diekspresikan dengan aksi kekerasan dan teror dalam konteks bernegara.

Baca juga: Pak Din, Radikal, dan Hoax

Terorisme tidak akan terjadi jika tidak ada jaringan sosial yang kuat karena aksi teror adalah aksi kelompok, bukan aksi individual. Di sinilah pentingnya jaringan sosial atau jaringan pada kelompok teroris dalam mewujudkan aksi yang menghebohkan publik. Sebab, dalam satu aksi teror, pembagian kerja di antara anggota tim benar-benar diatur dan diterapkan oleh setiap penanggungjawab kerja. Dengan demikian, relasi sosial di antara jaringan kerja teror dijaga agar tujuan tercapai.

Dalam pandangan Kruglanski, kebutuhan akan makna dan identitas, serta jaringan kerja yang canggih dan rapi tidak akan “berbunyi” jika tidak diperkuat oleh narasi atau ideologi yang kuat. Narasi yang kuat bisa bersumber dari mana saja, tetapi yang paling kuat adalah narasi yang bersumber dari agama. Dalam banyak temuan riset radikalisme dan terorisme, narasi yang bersumber dari agama merupakan bahan bakar paling berkualitas karena mampu mengubah keraguan menjadi keyakinan yang kuat dan kepengecutan menjadi keberanian tanpa tanding.

Dalam hal ini, umumnya narasi atau ideologi yang bersumber dari agama diubah dan disesuaikan sedemikian rupa dengan kepentingan kelompok. Sejatinya, semua agama, apalagi Islam yang dari namanya saja, mengandung pengertian damai dan sejahtera, tidak akan mengajarkan umatnya untuk melakukan teror dan aksi kekerasan untuk menghancurkan kemanusiaan dan peradaban. Islam adalah agama damai dan moderat.

Alih-alih mengajak ke jalan radikal atau ekstrimis, Islam justeru mengajak penganutnya untuk menjadi kaum moderat atau kaum pertengahan atau kaum wasathi. Pesan moderasi Islam sarat di dalam Al-Quran dan hadis. Inilah yang didakwahkan oleh ormas keagamaan terbesar di Indonesia, terutama Muhammadiyah dan NU. Moderasi Islam menjadi tawaran ampuh untuk melawan ekstrimisme beragama dan inilah juga yang menjadi temuan penting Kruglanski dan timnya setelah meneliti bertahun-tahun tentang radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan Islam.

Islam memiliki dua wajah karena diciptakan oleh dua jenis kelompok penganutnya. Pertama, penganut Islam berwajah garang dan berpikiran kaku sehingga Islam yang ditampilkan sarat dengan tawaran ancaman dan ketakutan. Kedua, penganut Islam berwajah damai dan berpikiran luas dan fleksibel yang kemudian menampilkan Islam yang penuh dengan toleran dan persahabatan. Fakta dan hasil riset berbagai kalangan peneliti menyimpulkan bahwa toleransi dan persahabatan bisa ditemukan pada mereka yang memilih moderasi dalam beragama.

Ilustrasi: Kompasiana.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *